12 Kelompok Macam-Macam Akad yang Ditinjau dari Beberapa Sudut

Rumahinfaq.or.id – Secara umum, akad dalam Islam memiliki 3 macam. Namun, macam-macam akad dalam fikih mua’malah tidak hanya sebatas dari 3 macam tersebut.

macam-macam akad
macam-macam akad

Ketiga macam akad dalam Islam ialah sebagai berikut;

1. ‘Aqad Munjiz

‘Aqad Munjiz adalah akad yang dilakukan secara langsung ketika akad sudah selesai. Akad ini dapat dicontohkan dalam pernyataan akad yang diikuti setelahnya dengan pelaksanaan akad nikah.

Pernyataan dalam akd ini tidak disertai dengan syarat-syarat dan waktu pelaksanaannya tidak ditentukan. Bisa dikatakan bahwa akad ini dilakukan setelah adanya akad itu sendiri.

2. ‘Aqad mu’alaq

‘Aqad mu’alaq adalah akad yang memiliki syarat-syarat yang sudah ditetapkan dalam akad di dalam pelaksanaannya.

Akad ini dapat contohkan dalam ketentuan barang atau benda akad yang akan diserahkan ketika adanya pembayaran atas barang atau benda tersebut.

3. ‘Aqad mudhaf

‘Aqad mudhaf adalah akad yang memiliki syarat-syarat yang berkaitan dengan penanggulangan dalam pelaksanaan akadnya.

Penanggulanagan ini biasanya berkaitan dengan penangguhan waktu yang sudah ditentukan. Pernyataan yang berkaitan dengan penangguhan waktu ini akan sah ketika dilakukan ketika berakad.

Walau demikian, pernyataan tersebut belum memiliki akibat hukum sampai waktu yang sudah ditentukan sebelunya.

Ternyata, keadaan dapat mewujudkan adanya akad, yaitu dalam keadaan muwadha’ah dan hazl.

Akad yang terbentuk dalam keadaan muwadha’ah atau taljiah adalah sebuah kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang secara rahasia untuk memberi pengumuman tentang apa yang tidak sesuai dengan kebenarannya.

Keadaan yang demikian tersebut dapat dikarenakan oleh 3 bentuk keadaan, yaitu;

1. Kesepakatan secara rahasia yang dilaukan sebelum berakad.

Seperti kesepakatan untuk melakukan jual-beli secara lahiriah untuk menjadikan pandangan orang lain bahwa benda tersebut sudah dijual.

Keadaan ini dapat dicontohkan dengan menjual tanah untuk menghindari pembayaran hutang yang dimiliki. Maka, asal akad dalam hal ini disebut dengan mu’tawadhah.

2. Mu’wadhah atas benda atau barang yang dipakai dalam melakukan akad atau bisa juga disebut dengan mu’wadhah fi al-badal.

Hal ini dapat dicontoh dalam penyebutan mahar yang besar, padahal mahar yang diberikan adalah mahar yang kecil.

Baca juga: Wasiat dan Surat Wasiat, Keduanya Sangat Penting untuk Kita Ketahui Dalam Islam!

3. Mu’wadhah terhadap pelaku atau isim musta’ar adalah seseorang yang melakukan akad secara lahiriah untuk dirinya sendiri, yang pada kenyataannya atau batiniahnya untuk orang lain.

Keadaan ini bisa diartikan dengan seseorang yang mewakilkan orang lain untuk berakad. Sehingga dapat juga disebut dengan wakalah sirriyyah atau perwakilan secara rahasia.

Keadaan yang kedua yang dapat mewujudkan adanya akad ialah hazl. Hazl adalah ucapan yang dilisankan dengan dasar main-main atau mengolok-olok yang demikian itu tidak adanya kehendak akan akibat hukum dari akadnya.

Salah satu bentuk hazl ialah muwasha’ah yang sebelumnya sudah dilakukan perjanjian. Seperti seseorang yang menjual buku dengan janji hanya “Pura-pura menjual saja”.

Nah, sekarang kita akna mmebahas 12 kelompok macam-macam akad yang dikelompokkan berdasarkan adanya perbedaan terhadap sudut tinjauannya.

Berikut ini pemaparannya;

Kelompok Ke-1

Macam-macam akad pada kelompok pertama ini dilihat dari ada dan tidak adanya qismah pada akad. Maka, ada 2 macam akad dalam hal ini, yaitu;

1. Akad Musammah adalah akad yang sudah ada ketentuan syaranya dan hukum-hukumnya. Seperti akad jual-beli, hibah dan ijarah.
2. Akad ghair musammah adalah akan yang belum ada ketentuan dalam syara’ dan hukumnya juga belum ada.

Kelompok Ke-2

Macam-macam akad pada kelompok kedua ini dilihat dari disyari’atkan atai tidak disyari’atkan akadnya. Sehingga, akad ini ada 2 macam, yaitu;

1. Akad musyara’ah adalah yang diperbolehkan oleh syara’, seperti akad gadai dan jual-beli.
2. Akad mamnu’ah adalah akad yang secara syara’ dilarang, seperti akad dalam menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya.

Kelompok Ke-3

Macam-macam akad pada kelompok ketiga ini dilihat dari sah dan batalnya dalam berakad. Macam akad ini juga dibagi menjadi 2 bagian, yaitu;

1. Akad shahih adalah akad yangs udah memenuhi semua rukun dan syarat dalam akad, baik syarat yang umum maupun syarat yang khusus.
2. Akad ghair shahih adalah akad yang syarat dan rukunnya masih terdapat kekurangan.

Hal demikian berakibat pada ketidak adanya ikatan antara orang-orang yang berakad dengan akhibat hukum akad. Seperti nikah tanpa kehadiran wali.

Kelompok Ke-4

Macam-macam akad pada kelompok keempat ini dilihat dari sifat benda akad. Kelompok ini membagi akad menjadi 2 macam, yaitu;

1. Akad ‘ainiyah adalah akad yang memiliki syarat untuk melakukan penyerahan barang atau benda akad, seperti jual-beli.
2. Akad ghair ‘ainiyah adalah akad yang dilakukan tanpa disertai dengan penyerahan benda atau barang akad, sepertia akad amanah.

Kelompok Ke-5

Macam-macam akad pada kelompok kelima ini dilihat dari cara melakukan akad, yaitu ada 2 macam;

1. Akad yang dalam pelaksanaannya memiliki tata cara atau upacara tertentu, seperti akad dalam pernikahan yang harus ada 2 orang saksi nikah, wali dan petugas pencatatan nikah.
2. Akad ridha’iyah adalah akad yang dilakukan tanpa adanya upacara tertentu, seperti akad pada umumnya.

Kelompok Ke-6

Macam-macam akad pada kelompok keenam ini dilihat dari berlaku atau tidak berlakunya akad. Dalam hal ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu;

1. Akad nafidzah adalah akad yang memiliki kebebasan atau bisa dikatakan terlepas dari beberapa penghalang dalam akad.
2. Akad mauqufah adalah akad yang memiliki kaitan dengan beberapa persetujuan, seperti akad fudhuli.

Kelompok Ke-7

Macam-macam akad pada kelompok ketujuh ini dilihat dari luzum dan dapat dibatalkan akadnya. Macam akad dalam kelompok ini terbagi menjadi 4, yaitu;

1. Akad lazim yang menjadi hak dari kedua belah pihak dan tidak dapat dipindahkan atau dirusakkan, seperti akad kawin.Akad kawin seperti bersetubuh tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, tapi akad nikah dapat diakhiri dengan talak atau khulu’.
2. Akad lazim yang kedua belah pihak memiliki hak yang tidak dapat dipindahkan atau dirusakkan, seperti akad dalam jual-beli.
3. Akad lazim yang menjadi hak dari salah satu pihak, seperti gadai.
4. Akad lazim yang menjadi hal dari kedua belah pihak tanpa harus menunggu adanya persetujuan dari salah satu pihak, seperti dalam hal titipan.
Kelompok Ke-8

Macam-macam akad pada kelompok kedelapan ini dilihat dari adanya tukar menukar hak. Ada 3 macam dalam tinjauan ini, yaitu;

1. Akad mu’awadlah adalah akad yang dilakukan berdasarkan adnya timbal balik, seperti jual-beli.
2. Aka tabarru’at adalah akad yang dilakukan berdasarkan adanya pemberian dan pertolongan, seperti hibah.
3. Akad yang pada awalnya adalah akad tabarru’at, tapi pada akhirnya menjadi akad mu’awadhah, seperti qaradh dan kafalah.

Kelompok Ke-9

Macam-macam akad pada kelompok kesembilan ini dilihat dari adanya keharusan untuk membayar ganti atau tidak. Kelompok ini ada 3 macam, yaitu;

1. Akad dhaman adalah pihak kedua yang menjadi penanggungjawab dalam akad sesudah adanya penerimaan barang atau benda akad, seperti qaradh.
2. Akad amanah adalah pemilik benda sebagai penanggungjawab atas kerusakan dan bukan pemegang benda tersebut, seperti titipan atau ida’.
3. Akad yang dipengaruhi oleh beberapa unsur, seperti gadai atau rahn.

Kelompok Ke-10
Macam-macam akad pada kelompok kesepuluh ini dilihat dari tujuan akad itu dilakukan. Ada 5 macam akad dalam kelompok ini, yaitu;

1. Akad yang memiliki tujuan untuk tamlik, seperti jual beli.
2. Akad yang memiliki tujuan untuk perkongsian atau mengadakan usaha bersama, seperti syirkah dan mudharabah.
3. Akad yang memiliki tujuan untuk memperkokoh kepercayaan saja atau tautsiq, seperti halnya dalam rahn dan kafalah.
4. Akad yang memiliki tujuan untuk melakukan penyerahan terhadap kekuasaan, seperti wakalah dan washiyah.
5. Akad yang memiliki tujuan untuk melakukan pemeliharaan, seperti titipan atau ida’.

Kelompok Ke-11

Macam-macam akad pada kelompok kesebelas ini dilihat dari faur dan istimrar. Ada 2 macam akad di dalamnya, yaitu;

1. Akad fauriyah adalah akad yang tidak menggunakan waktu yang lama dalam pelaksanaannya alias sebentar saja, seperti akad dalam jual-beli.
2. Akad istimrar adalah akad yang memiliki hukum yang terus berjalan atau bisa juga disebut dengan akad zamaniyah, seperti akad ijarah.

Kelompok Ke-12

Macam-macam akad pada kelompok kedua belas ini dilihat dari asliyah dan thabi’iyah. Maka ada 2 macam akad di dalam kelompok ini, yaitu;

1. Akad asliyah adalah akad akad yang berdiri sendiri tanpa adanya yang lain. Seperti akad juak beli.
2. Akad thabi’iyah adalah akad yang masih membutuhkan bantuan dari yang lain, seperti rahn yang tidak dilakukan jika tidak ada hutang yang dimiliki.

Demikianlah pemaparan kami mengenai macam-macam akad dalam Islam yang dikaji dalam fikih mu’amalah.

Semoga artikel ini bermanfaat. Wallahu ‘Alam……

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?