Adakah Kewajiban Shalat Jum’at bagi Musafir?

Rumahinfaq.or.id – Seseorang yang melakukan perjalanan atau musafir telah diberi keringanan dalam melaksanakan shalat oleh Allah, termasuk juga shalat Jum’at. Lalu, Apa hukum shalat Jum’at bagi musafir?

Sebagaimana sudah kita bahas sebelumnya bagaimana hukum shalat Jum’at yang dilakukan kuam perempuan Muslimah yang menghasilkan kesepakatan diperbolehkannya wanita Muslimah untuk mengikuti shalat Jum’at.

hukum sholat jumat bagi musafir
hukum sholat jumat bagi musafir

Walau ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, tapi tidak dengan kaum laki-laki Muslim yang menjadi wajib hukumnya untuk melaksanakan shalat Jum’at. Shalat Jum’at bagi laki-laki Muslim adalah wajib, yang apabila tidak dilakukan akan mendapatkan dosa.

Sebaliknya, jika shalat Jum’at dikerjakan maka akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, bagaimana jika laki-laki Muslim itu dalam keadaan sedang melakukan pejalanan atau yang kita kenal dengan istilah musafir?

Selain memberikan keringan dalam melaksanakan shalata wajib, Allah Subhanahu Wa Ta’ala meniadakan shalat Jum’at bagi laki-laki Muslim yang sedang melakukan perjalanan atau musafir.

Berikut ini 8 pendapat dalam masalah shalat Jum’at bagi musafir, yaitu;

1. Pendapat Ustadz Ahmad Sarwat

Ustadz Ahmad Sarwat pun memberi pendapat dalam hal ini;

“Seorang laki-laki yang menjadi musafir secara syar’i, maka gugur kewajibannya untuk mengerjakan shalat Jumat. Keadaan ini sesuai dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ad-Daruqutny;

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فعليه الجمعة إلا امراة ومسافرا وعبدا ومريضا

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajiblah atasnya shalat Jumat, kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak-anak dan hamba sahaya.”

2. Pendapat dalam Hadits Abu Daud

Keringanan bagi musafir dalam kewajiban shalat Jum’at juga bisa didapati dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘Anhu yang menjelaskan 4 orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at.

“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali atas 4 orang, yaitu budak, wanita, anak-anak dan orang sakit.”

Baca juga: Penjelasan Paling Lengkap Tentang Siapakah Ibnu Sabil itu?

Hadits di atas memberi seorang musafir untuk memilih antara 2 pilihan yang diberikan, yaitu;

Pilihan pertama

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan pertama bagi musafir laki-laki dalam kewajiban shalat Jum’atnya yaitu mengerjakan shalat zuhur.

Dalam artian tidak mengerjakan shalat wajib Jum’atnya.

Pilihan kedua

Jika pilihan pertama tidak diambil oleh musafir laki-laki, maka Allah memberi pilihan kedua berupa mengerjakan shalat Jum’at. Dalam artian jika shalat Jum’at dikerjakannnya, maka kewajiban shalat zuhurnya gugur sebagaimana yang berlaku.

3. Pendapat Imam Abu Suja’

Imam Abu Suja’ menulis dalam kitabnya Matnul Ghayah wat Taqrib 7 syarat wajib shalat Jum’at, yang salag satunya adalah bermukim atau dalam keadaan menetap.

وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء : الاسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورية والصحة والاستيطان

Syarat wajib Jum’at ada 7 yaitu; Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, laki-laki, sehat dan mustauthin (Tidak sedang bemusafir)

4. Pendapat Syekh Utsaimin

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyyallahu ‘Anhu yang dinukil oleh Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

“Sesungguhnya sholat Jumat pertama yang dilakukan sesudah sholat Jumat di masjid Rasulullah Shallallhu ‘Alahi Wa Salam ialah sholat Jumat di masjid milik Kabilah Abdul Qais di Desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain.”

Beliu pun menjelaskan maksud hadits di atas sangat jelas menyatakan bahwa orang-orang badui yang tinggal di kemah sekitar Madinah tidak melaksanakan shalat Jum’at sebagaimana orang kota Mdinah melaksanakan shalat Jum’at.

Tentu saja ketidakadanya pelaksanaan shalat Jum’at bagi kaum badui atas perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alahu Wa Salam. Apalagi jika itu dengan orang yang sedang melakukan perjalanan, maka tidak ada shalat Jum’at bagi mereka atau orang bermusafir.

Walau demikian ada sebagian ulama yang justru mengatakan bahwa disyari’atkan ketika safar atau berpergian untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Namun, Syekh Utsaimin kembali menegaskan bahwa tidak adanya kewajiban shalat Jum’at bagi musafir dengan kisah Rasulullah ketika melaksanakan haji wada’ yang pada saat itu pelaksanaannya bertepatan dengan hari Jum’at.

Pada saat itu, Beliau sedang melaksanakan wakuf di ‘Arafah bersama sebagian besar kaum Muslim dan tidak melaksanakan shalat Jum’at. Sehingga Syekh Utsaimin menegaskan bahwa shalat Jum’at tidak ada selain dikerjakan di kampung/kota halaman.

5. Pendapat Ibnu Rusyd

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd menjelaskan tentang kewajiban shalat Jum’at bagi musafir di pembahasan tentang “Syarat-syarat wajib shalat” yang dikutip dari Imam Malik.

Dituliskan bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa shalat Jum’at tetap wajib dilaksanakan ketika seseorang yang hendak bermusafir sejauh 3 mil dan ada juga yang berpendapat tetap melaksanakan shalat Jum’at ketika mendengar suara azan dalam perjalanan dari jarak 3 mil.

6. Pendapat Imam Yahya

Imam Yahya ibn Abil Khair ibn Salim al-‘Umraniy menjelaskan dalam Al-Bayan Fi Madzhabil Imam Asy-Syafi’i tentang pendapat Utsman ibn Affan, Sa’id ibn al-Musay yab, Malik, dan Abu Tsaur dalam hal ini.

Seseorang musafir yang meniatkan perjalananya untuk mukim atau bertempat tinggal di daerah tujuan selama empat hari kecuali hari kedatangan dan kembalinya tetap melaksanakan kewajiban shalat Jum’at.

7. Pendapat Imam Ali Al-Mawardi

Di dalam Al-Hawi al- Kabir, Imam Ali ibn Muhammad Al-Baghdadi (Al-Mawardi) menjelaskan bahwa kewajiban melaksanakan shalat Jum’at untuk musafir yang menetap di suatu daerah tetap ada, baik untuk berdagang, menuntut ilmu atau hal baik lainnya.

Akan tetapi tidak sah baginya untuk menyelenggarakan shalat Jum’at. Walau demikian dalam hal menyelenggarakan shalat Jum’at, Al-Mawardi menyatakan terjadi perbedaan pendapat tentang musafir yang bermukim tersebut.

Hatta, Abu Ali ibn Abu Hurairah mengatakan sah bagi mereka menyelenggarakan sendiri sholat Jumat sama dengan mustauthin (Orang yang tinggal menetap sepanjang waktu) karena adanya orang yang wajib sholat Jumat.

Abu Ishaq al- Marwaziy berpendapat sebaliknya, yaitu kewajiban melaksanakan shalat jum’at bagi mereka sah akan tetapi tidaklah sah apabila menyelenggarakan sendiri shalat Jum’at.

Abu Ishaq merujuk pada kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam ketika melakukan perjalanan untuk melaksanakan haji wada’ yang bertepatan dengan hari Jum’at.

Pada saat itu, Rasulullah tidak melaksanakan shalat Jum’at dan tidak pula menyuruh kaum Mekkah untuk menyelenggarakan shalat Jum’at.

8. Pendapat Majelis Ulama Indonesia

MUI atau Majelis Ulama Indonesia mengategorikan beberapa golongan yang hendak menempuh perjalanan dalam fatwa bernomor 20 tahun 2017, yaitu sebagai berikut;

1. Mustauthin sebagai orang yang dengan maksud untuk tinggal menetap di suatu daerah untuk sepanjang waktu.
2. Mukimin sebagai orang yang dengan maksud untuk tinggal di satu daerah untuk waktu tertentu.
3. Musafir sebagai orang yang sedang dalam perjalanan dengan tujuan bukan untuk maksiat dan menjadi sebab dirinya mendapatkankeringanan dalam beberapa kewajiban tertentu.

MUI berpendapat bahwa musafir mendapatkan keringangan untuk tidak melaksanakan sholat Jum’at, tetapi berkewajiban untuk melaksana kan sholat Zhuhur.

Apabila mereka ikut shalat Jum’at dengan ahlu Jum’at maka shalat Jum’atnya sah. Namun jika diselenggarakan hanya mereka saja, maka shalat Jum’atnya tidaklah sah. Demikian itu dikarenakan mereka tida dibebani oleh kewajiban shalat Jum’at.

Berbeda dengan musafir yang sudah bermaksud untuk bermukim atau menjadi mukimin, maka baginya wajib melaksanakan shalat Jum’at dan tidak ada keringanan karena perjalanan atau rukhshah safar baginya.

Namun, jika mukimin tidak menyelenggarakan shalat Jum’at padahal mereka memenuhi untuk hal itu, maka mereka musafir yang berniat mukim wajib dan sah menyelenggarakan shalat Jum’at.

Begitulah salah satu pendapat di kalangan fuqahah, sedangkan pendapat lainnya adalah wajib melaksanakan shalat zuhur dan tidak wajib dan tidak sah menyelenggarakan sholat Jumat sendiri.

Demikianlah pembahasan kami mengenai shalat Jum’at bagi musafir. Semoga bermanfaat ya, #sahabatrumi.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?