Bagaimana Cara Melakukan Hukum Wakaf Dalam Islam?

Rumahinfaq.or.id – Dalam melakukan suatu amalan, tentu ada hukumnya begitu pula dengan wakaf. Hukum wakaf adalah hal penting yang harus diketahui dan pamahi, agar dalam melakukan wakaf jelas hukumnya.

Sebab kejelasan hukum dalam suatu amalan itu juga penting, dikarenakan tidak semua amalan boleh dilakukan. Ada beberapa amalan yang baik, tapi tidak boleh dilakukan atau sebaliknya.

hukum wakaf
hukum wakaf

Pentingnya mempelajari hukum wakaf sama pentingnya sebagaimana mempelajari rukun wakaf, syarat wakaf, pengertian wakaf, pelaksanaan wakaf dan unsur-unsur yang ada dalam wakaf.

Sedangkan dalam Islam, ada dua dasar hukum yang menjadi dasar untuk seorang Muslim dalam melakukan sesuatu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Begitu pula dengan hukum wakaf dalam pelaksanaannya yang sudah pasti ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Walau hukum wakaf dalam kedua landasan hukum dalam Islam tersebut tidak disebutkan dengan jelas dan gamplang. Untuk lebih memahami hukum dalam pelaksanaan amalan Ibadan wakaf.

Baca juga: Penjelasan Paling Lengkap Tentang Wakaf dan Jenisnya

Berikut ini penjelasan kami mengenai hukum wakaf;

A. Al-Qur’an

Kata “Infaq” dalam Al-Qur’an tidak asing lagi, beda halnya dengan kata “Wakaf”. Tapi taukah anda, jika wakaf adalah bagian dari infaq yang dilakukan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sehingga dapat dikatakan dalil-dalil wakaf dalam Al-Qur’an didasari dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan dan memaparkan tentang infaq di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an tersebut;

1. Ayat 92 Surah Ali Imran

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Tidak ada kebajikan yang akan kamu peroleh, sampai kami mau menginfaqkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan ketahuilah bahwa apapun yang kamu infaqkan, Allah Maha Mengetahui tentang hal tersebut.

Sebagaimana amal ibadah lainnya seperti infaq, sedekah, maka wakaf juga haruslah dari sesuatu yang dicintai. Tentu saja syarat ini berupa apa yang dimiliki yang masih bisa diambil manfaat darinya.

Sehingga orang yang diberikan wakaf dapat mengambil manfaat dari apa yang diwakafkan oleh kita tersebut.

sebab tidak mungkin kita memberi orang lain jika sesuatu tersebut tidak lagi memberi manfaat dan tidak dicintai lagi.

2. Ayat 267 Surah Al-Baqarah

وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Jangan memilih yang buruk untuk kamu infaqkan, yang mana kamu juga tidak mau mengambilnya selain dengan keengganan atasnya.

Dan ketahuilah Allah itu Maha kaya dan Maha Terpuji.

Jika kita menyukai sesuatu, maka pasti kita akan mengambil yang kita sukai tersebut. Maka akan lebih baik jika apa yang kita sukai tersebut, kita wakafkan.

Bukan sebaliknya, kita mewakafkan sesuatu yang kita sendiri enggan atau tidak menyukai sesuatu tersebut.

B. Hadits

Hukum wakaf juga terdapat dalam dasar hukum dasar Islam yang kedua yaitu Hadits yang merupakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

1. HR Bukhari

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu. Hadits yang menceritakan tentang sahabat Umar ibnu Khaththab yang mewakafkan tanahnya.

Alkisah, Umar ibnu Khaththab mendapatkan bagian tanah di Khaibar. Tanah yang dikatakan sebagai tanah yang sangat bagus. Tanah yang dimiliki oleh sahabat Umar tidak pernah dimiliki olehnya sebelumnya.

Maka, beliau meminta saran kepada Rasulullah akan apa yang hendak dilakukannya atas tanah tersebut. maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberi 2 saran untuk Ibnu Khaththab.

Apa saja saran Rasulullah tersebut?

Rasulullah menyarankan Umar Ibnu Khaththab untuk mewakafkan tanah tersebut dan juga mengambil bagian untuk melakukan sedekah dengan tanah tersebut.

Mendapatkan saran dari Rasulullah tersebut, sahabat Umar langsung menwakafkan tanahnya yang ada di Khaibar tersebut untuk diambil manfaatnya oleh orang-orang fakir, kerabat, sabilillah, ibnu sabil dan tamu.

Dan juga untuk memerdekakan budak. Tanah tersebut dapat diambil manfaat untuk nafkah sehari-hari bukan untuk ditimbun atau disimpan. Tanah tersebut juga tidak dijual, tidak juga dihibahkan dan tidak pula diwariskan.

Tapi, sahabat Umar mewakafkan tanahnya yang di Khaibar tersebut di jalan Allah sesuai dengan saran yang Rasulullah sarankan kepadanya.

2. HR Muslim

Dikatakan dalam sebuah hadits bahwa manusia yang wafat akan mengalami keterputusan dengan amal ibadahnya kecuali 3 hal yang mana ketiga hal tersebut menjadi amal jariyyah untuknya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa amal jariyyah ialah amalan yang memiliki pahala yang akan terus menyalir, bahkan ketika pelakunya sudah meninggal dunia.

Berikut ini lafadz haditsnya;

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Pada saat manusia meninggal dunia, maka terputus amal ibadahnya, kecuali 3 hal yaitu; sedekah jariyyah, ilmu yang memberi manfaat dan anak yang sholeh yang akan mendoakan mereka.

Wakaf dalam hadits ini ialah bagian dari sedekah jariyyah, seperti mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid atau madrasah atau jenis wakaf lainnya.

Sedangkan wakaf yang dilakukan oleh orang tua sehingga anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah ialah biaya pendidikan, nafkah sehari-hari dan ini termasuk jenis wakaf ahli.

Secara tidak sengaja orang tua sudah melakukan wakaf kepada anak-anaknya. Sehingga ketika yang sudah meninggal, orang tua tetap mendapatkan pahala dari amal kebaikan yang diperbuat oleh anak-anaknya.

Apalagi jika anak-anaknya mendoakan kebaikan untuk orang tuanya yang sudah meninggal dunia tersebut.

Di bagian tersebut orang tua telah melakukan wakafnya dan mereka mendapatkan pahalanya sebagaimana dalam hadits di atas.

C. Undang-Undang

Ternyata hukum wakaf tidak hanya di atur dalam Al-Qur’an dan AL-Hadits, karena di Indonesia Undang-Undang juga di atas hukum dalam melaksanakan wakaf.

Pemerintah Indonesia mengatur wakaf dalam Undang-Undang No.41 yang dikeluarkan pada tahun 2004.

Di dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan tentang wakaf dimulai dari pengertian wakaf, tujuan dari wakaf, unsur-unsur yang ada dalam wakaf.

Sedangkan tata cara pelaksanaan wakaf dipaparkan dalam Undang-Undang No.42 yang dikeluarkan pada tahun 2006.

Kesimpulan

Dari pemaparan kedua dasar hukum dalam Islam di atas, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka disimpulkan bahwa hukum dari melaksanakan wakaf ialah sunah.

Yaitu amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah melalui sarannya untuk sahabat Umar Ibnu Khaththab yang sudah dipaparkan di atas.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa amalan sunah ialah amalan yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala. Jika ditinggalkan atau tidak dikerjakan, maka tidak akan berdosa atau mendapatkan dosa.

Walaupun merupakan amalan sunah, namun wakaf memiliki pahala jariyyah, yaitu pahala yang tidak terputus bahkan ketika sudah wafat hingga hari kiamat kelak.

Demikianlah pemaparan dan penjelasan kami mengenai hukum wakaf dalam pelaksaannya dalam Islam. Semoga dengan pemaparan ini semakin memacu diri kita untuk melakukan wakaf.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita, saya dan anda.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?