Bagaimana Hukum Shalat Jum’at bagi Wanita?

Rumahinfaq.or.id – Ada satu shalat yang diwajibkan secara khusus kepada kaum laki-laki Muslim yaitu shalat Jum’at. Sehingga menimbulkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat mengenai hukum wanita shalat Jum’at.

Lalu apakah wanita tidak boleh melaksanakan shalat Jum’at?

Untuk mejawab pertanyaan di atas, mari kita bahas tentang shalat Jum’at dan selain darinya termasuk hukum wanita shalat Jum’at. Tapi mungkin, kita tidak akan membahas hukum shalat Jum’at bagi wanita menurut 4 madzhab secara khusus.

Hukum wanita shalat Jumat
Hukum wanita shalat Jumat

A. Kewajiban Shalat Jum’at bagi Laki-Laki

Hukum wajib melaksanakan shalat Jum’at sudah dijelaskan dan dipaparkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, baik secara tersirat maupun secara tersurat.

Seperti dalam salah satu ayat Al-Qur’an surah Al-Jum’ah ayat ke-9, yaitu;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

Dan hadits yang diriwayatkan dari Hafshah oleh An-Nasa’i;

“Pergi menunaikan shalat Jumat wajib bagi semua lelaki yang sudah baligh.”

Atau dalam sebuah hadits ke-1067 menurut riwayat Abu Daud dari Thariq ibn Syihab;

“Sholat Jumat itu wajib bagi setiap muslim secara berjamaah selain empat orang yaitu budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit,”

Atau hadits yang menjelaskan bahwasanya Rasulullah memberi peringatan bagi mereka yang meninggalkan shalat Jum’at. Hadits tersebut diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud oleh Ahmad dan Muslim.

“Aku berniat menyuruh para lelaki untuk sholat berjamaah, lalu aku akan bakar rumah-rumah orang yang meninggalkan sholat Jumat.”

Baca juga: Adakah Kewajiban Shalat Jum’at bagi Musafir?

Ayat Al-Qur’an dan ketiga hadits di atas menjelaskan tentang wajibnya melaksanakan shalat Jum’at dan kewajiban ini dikhususkan kepada kaum laki-laki Muslim.

Kewajiban di atas adalah kewajiban mutlaq bagi kaum laki-laki yang beragama Islam sebagai salah satu syarat wajibnya, bukan laki-laki secara keseluruhan.

Suatu kewajiban yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan apabila ditinggalkan atau tidak dikerjakan akan mendapatkan dosa. Begitu pula dengan kewajiban shalat Jum’at bagi kaum laki-laki Muslim.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Salam pada zamannya akan membakar rumah-rumah orang-orang yang tidak mengerjakan shalat Jum’at.

Begitulah pentingnya melaksanakan kewajiban shalat Jum’at.

B. Shalat Jum’at bagi Wanita

Tentu saja maksudnya wanita Muslim ya! Kenapa?

Beragama Islam adalah salah satu syarat wajib melaksanakan shalat begitu pun dalam shalat Jum’at.

Nah, jika shalat adalah kewajiban secara keseluruhan bagi kaum Muslim tapi tidak dengan shalat Jum’at sebab shalat Jum’at hanya diwajibkan kepada kuam laki-laki Muslim.

Wanita menjadi salah satu dari 4 orang yang tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Salam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud di atas atau kedua hadits lainnya.

Lalu berikut ini beberapa penjelasan atau fatwa dari beberapa ulama, yaitu;

Ibnu Mundzir dalam kitab Al-Ijma’ No 53 mengatakan bahwa para ulama sudah sepakat tentang wanita yang menghadiri dan melaksanakan shalat Jum’at bersama imam, maka sudah sah shalat Jum’atnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa wanita boleh mengikuti shalat Jum’at di Masjid dengan syarat harus mengikut sama persis cara-cara kaum laki-laki Muslim dalam melaksanakan shalat Jum’at.

Seperti mandi sebelum mengikuti dan melaksanakan shalat Jum’at. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Salam telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

“Jika seorang dari kalian melakukan Shalat Jumat, hendaklah dia mandi.”

Selain dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwasanya Ibnu Umar meyebutkan;

“Barangsiapa yang mendatangi shalat Jumat baik laki-laki maupun wanita maka hendaklah mandi.”

Selain itu wanita muslim yang mengikuti shalat Jum’at juga diharuskan untuk mendengarkan khutbah shalat Jum’at dengan seksama dan tidak membuat kegaduhan.

Sebagaimana laki-laki Muslim yang melaksanakan shalat Jum’at tidak wajib untuk melaksanakan shalat Zuhur, maka bagi wnaita Muslim yang mengerjakan shalat Jum’at juga tidak wajib untuk melaksanakan sholat dzuhur.

Hukum diperbolehkannya wanita Muslim dalam melaksanakan shalat Jum’at ini hanya jika dilakukan di masjid. Maksudnya apabila dikerjakannya shalat Jum’at di rumah, maka shalat Jum’atnya tidaklah sah.

Sebagaimana dijelaskan dalam Fatwa al-Mar’ah al-Muslimah yang diterbitkan oleh Darul Ibnu al-Haitsam (112). Begitu juga di dalam pendapat Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (2/341) dan Ulama Mesir Syekh Musthafa al-Adawi.

Sebab, ulama sudah sepakat bahwa shalat Jum’at hanya boleh dan sah apabila dikerjakan secara berjamah. Syarat ini tidak hanya bagi wanita Muslim yang hukum boleh tapi juga bagi laki-laki Muslim yang wajib melaksanakan shalat Jum’at.

Walau demikian ada pendapat yang mengatakan bahwasanya wanita akan lebih afdhal untuk melaksanakan shalat zuhur di rumah dibandingkan menghadiri shalat Jumat di Masjid.

Sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud No.567;
“Janganlah kalian menghalangi istri kalian untuk ke masjid. Dan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka,”

Ada beberapa ulama di Arab Saudi dan Timur Tengah menyarankan kaum wanita untuk tidak ikut menghadiri dan melaksanakan shalat Jum’at di masjid.

Sebab ikut melaksanakan shalat Jum’at di Masjid memiliki fitnah yang lebih besar dibanding shalat berjama’ah biasa. Perlu diingat jika pendapat tersebut hanya sebatas saran bukan bagian dari ranah hukum.

Abu Malik Kamal ibn Sayyid Salim berpendapat dalam bukunya ‘Fiqih Sunnah Wanita’ bahwa kaum wanita Muslim tidaklah memiliki kewajiban dalam mengikuti dan melaksanakan sholat Jum’at.

“Ketahuilah wahai saudariku yang Muslimah: bahwa para ulama sudah bersepakat, dan berijma’ bahwa sholat Jumat tidak wajib bagi kaum wanita,”

Ternyata pendapat Pendapat Abu Malik Kamal ibnu Sayyid Salim ini merujuk kepada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam dalam shahih Ibnu Khuzaimah (3/112), al-Mughni (2/238), al-Majmu’ (4/495), dan al-Muhalla (5/55).

Pendapat beliau tersebut diperkuat dengan bagaimana kaum wanita Muslim pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam yang juga menghadiri sholat Jum’at bersama Beliau.

Keadaan tersebut tercantum dalam riwayat Imam Muslim dan An-Nasa’I dari Ummu Hisyam binti Harits

“Tidaklah aku menghafal surah (Qaf) kecuali dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam yang membacakannya dalam khutbah beliau setiap sholat Jumat.”

Sehingga jika wanita Muslim yang mengerjakan shalat Jum’at di Masjid, maka shalatnya terbilang sah dan kewajiban shalat zuhurnya gugur.

Hukum diperbolehkannya shalat Jum’at di Masjid bagi wanita Muslim menyebabkan beberapa masjid yang ada di Negeri yang mayoritas Muslim seperti Timur Tengah untuk menyediakan tempat khusus bagi wanita yang shalat Jum’at.

Masjid-masjid tersebut ialah masjid Al-Azhar, Masjid Nabawi, dan Masjidil Haram. Sehingga dalam al-Majmu’ Syahr al-Muhadzdzab, Imam al-Nawasi berpendapat juga tentang hukum wanita shalat Jum’at.

Beliau mengatakan bahwa wanita yang difasilitasi dalam menunaikan shalat Jumat dan menjalankannya, maka shalat Jum’atnya sah.

Namun, shalat zuhur di rumah tetap menjadi lebih afdhal bagi wanita dibandingkan dengan mengikuti shalat Jum’at di Masji seperti yang dikemukan oleh Syekh Ibnu Al-Utsaimin sebagai Mufti Arab Saudi dalam Majmu’ Fatwa.

“Shalat wanita di rumah tetap lebih afdhal dibanding shalat di Masjidil Haram sekalipun.”

Al-Utsaimin juga mengatakan bahwa tempat khusus wanita yang tersedia di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebenarnya untuk wanita musafir yang tengah menjalankan haji atau umrah.

Ternyata permasalahan ini pernah ditanyakan oleh Abdurrazaq pernah diceritakan oleh Ibnu Juraih dalam Mushannaf (3/146) dengan riwayat dan sanad yang shahih dari Ibnu Juraij.

Ibnu Juraij pernah bertanya permasalah wanita yang ikut shalat Jum’at kepada Atha’, maka Atha’ mengatakan;

“Bila wanita ingin menghadirinya maka tidak apa-apa, dan bila tidak menghadirinya juga tidak apa-apa,”

Jawaban Atha’atas pertanyaan Ibnu Juraij di atas menjadi bahasan terkahir dalam artikel ini yang semoga bermanfaat untuk #sahabatrumi.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?