Baqaimana Pengertian Harta dalam Islam yang Wajib Diperhatikan

Rumahinfaq.or.id – Jaih Mubarok menyatakan bahwa sebelum membahas wakaf, sebaiknya membahas objek daripada wakaf itu yaitu harta. Iya, jika tidak ada harta sebagai objel dari wakaf, maka tidak akan terjadi yang namanya wakaf.

Beliau juga menyatakan dalam Islam harta dan benda dibedakan, sebab dalam harta melibatkan aspek psikis yang ada pad manusia, yaitu hub (Cinta) dan mailah (Gadrung).

Pengertian Harta dalam Islam
Pengertian Harta dalam Islam

Dengan demikian disimpulkan hakikat harta yang merupakan benda yang dicintai dan juga digandrungi oleh manusia. Sehingga pembahasan harta dibagi menjadi dua bagian.

Kedua bagian tersebut diperhatikan dari segi status hukumnya. Bagian yang pertama yang dibahas dalam harta ialah apakah benda tersebut boleh dikonsumsi atau digunakan.

Sedangkan bagian keduanya, tidak bolehnya benda tersebut digunakan atau dikonsumsi, baik dikarenakan substansinya, ataupun dikarenakan proses mendapatkannya, pengelolaan atau tata cara konsumsinya.

Begitulah yang diterangkan oleh status hukum harta itu sendiri dan yang kedua ialah benda yang Guru Besar Hukum Islam Universitas Islam Negeri dalam acara Halaqah Fikih Wakaf Kontemporer pada Sabtu (21/08).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang harta, sebaiknya kita mengenal dulu apa yang dimaksud dengan harta itu sendiri. Pembahasan tentang harta merupakn pembahasan yang sangat penting dalam Islam.

Sebab harta tidak hanya digunakan untuk wakaf saja, melainkan juga untuk infaq, shodaqoh, zakat dan amal ibdah lainnya yang menjadikan harta sebagai objek amalan tersebut.

Sehingga tidak dipungkiri, bahwa harta itu begitu penting untuk di bahas. Atau bisa dikatakan, amalan-amalan tersebit tidaklah sah dikerjakan tanpa adanya harta yang melekat pada pelaksananya.

Seperti dalam zakat, seorang muzakki tentu memerlukan harta untuk berzakat. Atau contoh lainnya seorang wakif harus memiliki harta untuk melaksanakan wakafnya.

Untuk itu pembahasan tentang harta ini sangatlah penting. Untuk lebih memahami tentang pengertian dari harta, perhatikan pembahasan berikut;

Baca juga: Penjelasan Terbaru Tentang Pengertian Zakat Terlengkap Menurut Para Ulama

A. Pengertian Harta

Dalam bahasa Arab, harta disebut dengan Al-mal atau al-amwal, yang berarti condong, cenderung atau miring.

Sehingga kamus Al-muhith tulisan Alfairuz Abadi mengartikan harta atau al-mal sebagai segala sesuatu yang dimiliki atau ma malakatahu min kulli syai.

Segala sesuatu yang begitu didambakan oleh manusia untuk disimpan dan dimiliki, itulah pengertian harta yang dilihat dari segi istilahnya.

Adapun dari segi istilah syari’ah, harta diartikan sebagai segala apa yang dapat diambil manfaatnya dengan cara-cara yang diperbolehkan oleh syari’ah.

Sebagaimana contoh yang dikemukan oleh M. Husain Abdulllah dalam kitab Dirasat fi Al Fikr Al Islami, yaitu jual beli, pinjam meminjam, sewa menyewa, pemanfaatan untuk dikonsumsi dan hibah.

Sedangkan ada pendapat yang menyatakan harta ialah semua yang diminati oleh manusia dan dapat didatangkan ketika dibutuhkan, atau segala sesuatu yang bisa dimiliki, disimpan dan dapat diambil manfaatnya.

Pendapat tersebut ditulis oleh Nasrun Haroen dalam kitab Fiqh Muamalah halaman 73, yang diterbitkan pada tahun 2007 di Jakarta:Gaya Media Patama.

Harta kekayaan menurut Ibnu Najm sebagaimana yang sudah ditegaskan oleh para ulama Ushul Fiqh ialah sesuatu yang bisa dimiliki dan disimpan untuk kebutuhan tertentu, terutama sesuatu yang kongkrit.

Dalam perspektif Islam, harta menurut para fuqaha berdasar kepada dua unsur, yaitu unsur ‘aniyyah dan unsur ‘urf.

Unsur ‘aniyyah sendiri berarti harta tersebut memiliki wujud atau nyata/a’yun. Seperti sebuah rumah yang dijaga oleh manusia tidak dapat dikatakan sebagai harta, melainkan bagian dari milik atau hak.

Sedangkan unsur ‘urf ialah segala sesuatu yang dalam pandangan seluruh manusia atau sebagian manusia sebagai harta.

Sebab, tidak ada manusia yang melakukan pemeliharaan atas sesuatu, kecuali adanya keinginan untuk mengambil manfaat darinya. Baik itu manfaat yang bersifat madiyyah atau manfaat yang bersifat ma’nawiyyah.

Hal itu tidak lagi mengherankan jika dalam Islam, harta memiliki kedudukan yang penting. Demikian itu dibuktikan dengan adanya lima maqashid syariah dan salah satu diantaranya ialah harta atau ial-mal.

Dalam islam, semua harta yang ada di dunia ini adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, sedangkan manusia hanya berhak mengambil manfaat dari harta tersebut.

Alasan tersebutlah yang membuat Islam membuat syari’at yang berisi tentang peraturan-peraturan tentang muamalah. Seperti peraturan dalam bermuamalah yang diperbolehkan, yaitu jula beli, sewa-menyewa, dan sebagainya.

Serta larangan dalam bermuamalah, seperti melakukan riba’ dan penipuan dan mewajibkan orang yang merusak barang orang lain untuk membayarnya, bahkan jika dirusak oleh hewan peliharaannya.

Islam begitu melindungi harta benda seseorang, hal tersebut dapat dilihat dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah an-Nisa ayat ke 29-32.

B. Pengertian Harta menurut Para Ulama

Beberapa Ulama ini yang berpendapat dalam masalah pengertian harta, yaitu sebagai berikut;

1. Madzhab Maliki

Harta yang didefinisikan oleh madzhab Maliki ialah harta milik yang dibagi menjadi dua macam, yaitu harta yang melekat pada diri seseorang yang dengan itu menghalangi orang lain untuk mengambil kuasa atas hartanya.

Definisi harta yang kedua menurut madzhab Maliki ialah harta yang diakui sebagai harta milik yang dilakukan berdasarkan ‘’uruf atau adat.

Dasar dari definisi harta menurut madzhab Maliki ini ialah firman Allah dalam surah Yunus, ayat ke-55 surah tersebut.

2. Madzhab Syafi’i

Menurut madzhab Syafi’i harta milik terbagi menjadi dua macam, yaitu sesuatu yang memberi manfaat untuk pemiliknya dan memiliki nilai harta. Dicontohkan seperti harta yang digunakan untuk sedekah.

Ayat ke 66 surah Yunus menjadi dasar dari definisi yang dikemukkan oleh madzhab Syafi’i ini.

3. Madzhab Hambali

Dalam madzhab Hambali, harta milik juga dijelaskan menjadi 2 bagian, yaitu sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan memiliki pelindungan Undang-Undang.

Madzhab Hambali mengambil ayat ke-29 surah Al-Baqarah sebagai landasan dalam mendefinisikan harta ini.

Dari pengertian harta yang didefinisikan oleh para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa harta dalam Islam ialah;

  1. Apa yang dapat diambil manfaat darinya
  2. Apa yang memiliki nilai ekonomi
  3. Apa yang secara adat atau ‘uruf dapat diakui sebagai harta milik
  4. Memiliki perlindungan berupa Undang-Undang yang melakukan pengaturan atasnya, yaitu yang sesuai dengan dasar hukum Islam.

Itulah pengertian harta, sehingga dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang dapat digunakan oleh manusia dalam kehidupan dunia ini, baik merupakan harta, uang, kendaraan, rumah, tanah, perabotan, rumah tangga, perhiasaan adalah harta.

Seperti halnya juga hasil dari perikanan atau kelautana, hasil dari perkebunan, dan juga pakaian merupakan bagian dari harta kekayaan atau al-amwal.

Demikianlah pemaparan kami mengenai harta, harta yang akan digunakan oleh setiap manusia dalam segala hal. Terutama dalam hal wakaf, infaq, shodaqoh atau amal ibadah lainnya.

Selain itu harta juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan manusia, baik untuk kebaikan ataupun untuk keburukan, semua itu tetap dikatakan harta.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk #sahabatrumi.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?