Benarkah Tidur Siang saat Puas Berpahala?

Rumahinfaq.or.id – Saat dalam keadaan berpuasa Ramadhan, kita sering mendengar orang mengatakan “Tidurnya orang puasa itu ibadah” saat mendapatkan teguran. Nah, yang menjadi pertanyaannya, apakah benar ada pahala tidur saat puasa?

Dan tidak sedikit juga orang yang kembali mempertanyakan statement tersebut. yul kita cari tau kebenaran statement tersebut. Apakah tidurnya yang berpahala puasanya?

pahala tidur saat puasa
pahala tidur saat puasa

A. Tidur Siang saat berpuasa

Puasa di bulan Ramadhan memang berbeda dengan puasa-puasa di hari lainnya. Selain karena kewajiban, puasa di bulan Ramadhan juga menyebabkan banyaknya rutinitas seorang Muslim berubah.

Sehingga tidak jarang hal demikian itu menyebabkan seseorang merasa lemas dan lelah, apalagi jika disertai oleh aktivitas seperti hari biasanya.

Walaupun aktivitas-aktivitas tersebut bukanlah menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan memperbanyak atau memperlama waktu tidur. Akan tetapi, tidak sedikit yang justru mengalaminya.

Sebenarnya, puasa tidak menyebabkan seseorang merasa lebih mengantuk di bulan Ramadhan, seperti apa yang disampaikan oleh Suharko Soebardi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut mengatakan bahwa bukan puasa yang menjadikan orang lebih banyak tidur tapi perubahan pola tidurnya.

Salah satu perubahan pola tidur ialah keharusan keharusan untuk bangun lebih awal dari biasanya untuk ibadah malam atau melaksanakan santap sahur.

Dalam virtual JEC Eye Talks itu juga menjelaskan bahwa puasa memberi pengaruh pada kesehatan mata dan pengidap diabetes. Sehingga beliau menyarankan untuk tidak tidur terlalu larut supaya merasa segar ketika bangun sahur.

Selain itu, beliau juga menganjurkan untuk menjaga kecukupan tidur dengan tidur siang selama 20-25 menit lamanya.

Baca juga: Keajaiban di Balik 30 Hari Puasa Ramadhan

Sedangkan Burjel Hospital, Abu Dhabi, dr. Supriya Sundaram memberi peringatan untuk tidak tidur berlebihan di siang hari karena lebih berisiko membuat tubuh lebih semakin merasa lelah.

Karena pada dasarnya memperlama waktu tidur terutama di siang hari bukannya akan memberi kesegaran atau membuat seseorang merasa lebih bugar, melainkan akan lebih membuat orang tersebut merasa lebih lemas dan semakin bermalas-malasan.

Ade Abdullah selaku Dosen dari Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam di “Ma’had Al-Imarat” Kota Bandung menyampaikan bahwa tidur bagi orang yang dalam keadaan berpuasa itu memang adalah bagian dari ibadah.

Tapi kata beliau, pahala yang didapatkan bukanlah pahala dari tidurnya tapi pahala dari dirinya yang ada dalam keadaan sedang menjalankan puasa.

Dalam masalah tidurnya yang berpuasa bernilai ibadah ini, Madzhab maliki mengatakan kalau memperbanyak tidur di bulan puasa adalah makruh hukumnya, yaitu boleh tapi amalan tersebut dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Oleh karena itu, dalam keadaan berpuasa bukan menjadi penghalang untuk tidak melakukan aktivitas apapun selain tidur. Dengan berkegiatan, otomatis waktu yang hendak dimanfaatkan untuk tidur pun akan berkurang.

Sehingga dapat disimpulkan kalau tidur siang itu saat dalam keadaan berpuasa itu diperbolehkan atau yang biasanya disebut dengan istilah mubah dalam syari’at Islam, tapi kalau seharian itu sangat tidak dianjurkan.

Sebab pada dasarnya juga hukum tidur saat puasa menurut Islam adalah mubah atau diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Baca juga: Buka Puasa Para Santri Yatim dan Dhuafa SeJabodetabek

Memperbanyak tidur juga tidak terdapat dari amalan yang dicontohkan oelh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam dan para sahabat-sahabatnya Radhiyyallahu ‘Anhum.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bukan memperbanyak tidur tapi mengurangi tidurnya di bulan Ramadhan sampai batas yang paling rendah atau minimum.

Amalan yang beliau perbanyak bukanlah tidur, melainkan memperbanyak dan memperpanjangkan shalat sunahnya di malam hari dan memperbanyak dalam berdzikir dan membaca al-Quran di siang harinya.

Hal demikian adalah bukti mereka sangat memanfaatkan dengan benar dan baik waktu di bulan Ramadhan, yang mana bulan Ramadhan hanya ada sekali setahun dalam tahunan Hijriyyah.

Ade Abdulllah memberi contoh lain mengenai bagaimana Rasulullah yang dalam keadaan berpuasa dan juga berperang yaitu perang badar. Inilah bukti bahwa Rasulullah tidak memperbanyak tidur, sedangkan dirinya dalam keadaan berpuasa.

B. Hadis tentang Tidur Saat Puasa Mendatangkan Pahala

Soal tidur siang ketika dalam keadaan berpuasa di bulan Ramadan ada dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi.

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni”

Hadits yang tercatat oleh Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman termasuk hadits lemah. Sebab Ma’ruf bin Hasan yang meriwayatkan hadits di atas merupakan periwayat yang lemah dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i lebih lemah dari Ibnu Hasan.

Ali Zainal Abidin memberi pendapat tentang hadits di atas bahwasanya bulan puasa diharuskan bagi umat Islam untuk lebih mengoptimalkan dalam meraih keutamaan-keutamaan yang terdapat di bulan Ramadan.

Apalagi segala amal kebaikan yang pahalanya akan dilipatgandakan. Sehingga bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan.

Ternyata Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Juz 1, hlm.246 juga pernah mengatakan hal serupa;

“Tidak memperbanyak tidur di siang hari adalah bagian dari tata karma dalam berpuasa. Sehingga seseorang merasakan lapar dan haus dan merasakan lemahnya kekuatan, dengan demikian hati akan menjadi jernih.”

Lantas, apa maksud dari tidur orang berpuasa dianggap sebagai ibadah itu?

Tidur yang asalnya mubah atau diperbolehkan ini bisa berkonotasi positif jika dilakukan dengan proporsional. Seperti halnya orang yang berpuasa tidur di siang hari sebagai persiapan untuk terjaga di malam hari untuk beribadah.

Tidur yang demikian itulah yang bernilai ibadah dan berpahala yang dimaksud dalam hadits di atas. Apalagi jika tidur tersebut mengurangi seseorang tersebut dari perbuatan yang sia-sia, seperti bergunjing, gibah atau maksiat-maksiat lainnya.

Walaupun hadits di atas yang merupakan hadist lemah, akan tetapi tidur yang dilakukannya dengan tujuan fadhailul a’mal akan mendapatkan pahala. Namun, harus memenuhi 2 syarat berikut ini;

1. Tidur yang dilakukan bukan untuk maksud bermalas-malasan, tapi untuk mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah di malam harinya.

2. Tidur yang dilakukan bertujuan untuk menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat dan akan mendatangkan kesia-siaan dalam puasanya, serta untuk tidak mencampurkan ibadah puasanya dengan maksiat.

C. Amalan Pengganti Tidur saat Berpuasa

Daripada menghabiskan hari dengan tidur saja, ada beberapa amalan yang bisa dilakukan saat dalam keadaan berpuasa supaya mengurangi waktu kosong, yaitu sebagai berikut;

1. Menjauhi dusta
2. Bersedekah
3. Membaca Alquran
4. Memberdayakan orang lain

Tidak hanya empat amalan di atas, masing banyak amal-amal kebaikan lainnya yang dapat dilakukan oleh seseorang yang dalam keadaan berpuasa. Dengan semakin sibuk melakukan kebaikan-kebaikan tersebut, otomastis waktu tidur akan berkurang.

Demikianlah pemaparan kami mengenai pahala tidur saat puasa, semoga pemaparan ini akan membuka wawasan kita lagi agar tidak salah lagi dalam mengartikan maksud dari statement “Tidur orang yang dalam keadaan berpuasa itu ibadah”.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?