Hibah Dalam Islam dan Hukum Negara Serta Rukun Dalam Islam

Rumahinfaq.or.id – Dalam Islam hadiah disebut dengan hibah, hibah yang secara umum dikatakan sebagai bentuk pemberian yang dikerjakan oleh seseorang kepada orang lain. Hibah biasanya dilakukan antara orang yang hidup kepada orang yang hidup juga.

Secara bahasa hibah adalah pemberian yang dilakukan secara sukarela kepada orang lain dan contohnya ialah pemberian yang dilakukan secara sukarela seorang ayah kepada anaknya.

hibah
hibah

Hibah Negara, seperti di Indonesia dikatakan sebagai bentuk pemberian yang sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Tidak hanya secara Negara saja, hibah juga diatur secara syariat Islam.

Dikarenakan hibah memiliki ketetapan hukum yang jelas, baik secara syariat Islam maupun secara Negera. Maka, aktivitas hibah tidak boleh dikerjakan secara sembarangan.

Ternyata pandangan hibah dalam hukum Islam dan pandangan masyarakat secara umum, hibah diartikan sebagai hadiah. Hadiah yang dapat seseorang berikan orang lain, selain pemberian saudara kandung atau suami istri.

Harta yang dapat digunakan dalam aktivitas hibah ialah rumah, uang, tanah, emas atau barang-barang berharga lainnya. Untuk lebih jelasnya tentang hibah, maka berikut ini kami paparkan tentang hibah, yaitu;

Pengertian Hibah menurut Islam

Dalam bahasa Arab, hibah memberi arti adalah sesuati yang diberikan oleh seseorang tanpa adanya harapan adanya imblan atau dilakukan tanpa pamrih. Pemberian dalam hibah dilakukan atas harta secara fisik, bukan harta yang berharga lainnya.

Sedangkan hibah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bentuk pemberian yang dilakukan secara sukarela dengan cara mengalihkan hak seseorang atas sesuatu kepada orang lain.

Pengertian hibah dalam Kitab al-Fiqhu al-Manhaji Ala Madzhabi al-Imam asy-Syafi’iy ialah suatu pemberian yang dari seseorang kepada orang lain yang diberikan secara langsung kepemilikannya ketika pemberi masih hidup dengan niat untuk shodaqoh.

Baca juga: Penjelasan Paling Lengkap Tentang Perbedaan Infaq dan Sedekah Dalam Islam

Tidak jarang, hibah disamakan dengan warisan, akan tetapi warisan diberikan kepada orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan pemberinya. Sedangkan hibah bisa diberikan kepada siapa pun selain dari luar keluarganya.

Harta yang sudah diberikan dan diterima oleh penerima hibah tersebut tidak terikat lagi dengan orang yang sudah memberi hibah tersebut. sehingga, penerima tidak memiliki kewajiban untuk memberikan imbalan atas hibah yang diterimanya itu.

Dalam kitab al-Adâbul Mufrad no. 594, ada hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bebricara tentang saling memberi yang akan mengerat cinta di atara pemberi dan penerimanya.

Hibah dalam Pandangan Hukum Negara

Hibah dalam pandangan hukum Negara yang diberikan berupa uang dengan jumlah yang banyak atau barang yang diberikan memiliki nilai yang sangat besar, maka hibah tersebut harus melewati prosedur hibah.

Selain itu, bentuk pemberian tersebut juga harus disertai dengan bukti-bukti yang sesuai dengan ketetapan hukum yang resemi secara perdata. Langkah tersbeut ditempuh agar pihak ketiga tidak mengguggatnya.

Orang ketiga yang dimaksud sebagai orang ketiga dalam hibah ialah ahli waris dari pemberi hadiah tersebut.

Pasal 1666 dan pasal 1667 dalam UU Hukum Perdata (KUH Perdata) menjelaskan bahwa hibah yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali selama pemberi masih hidup. Baik itu berupa harta yang bergerak maupun tidak bergerak.

Rukun dan Syarat Hibah

Rukun dan Syarat Hibah menurut Islam

Ada beberapa syarat yang harus diikuti oleh hibah menurut Islam, syarat-syarat tersbeut adalah syarat sahnya hibah, yaitu;

1. Pemberi hibah

Seorang pemberi hibah harus seorang ahliyyah yang memiliki akal yang sempurna, balihg, dan rusyd. Seorang pemberi hibah juga harus diapstikan harta yang diberikannya adalah miliknya dan berkuasa secara penuh atas harta tersebut.

2. Penerima hibah

Sebagai penerima hibah harus memenuhi kesanggupan dalam memiliki harta tersebut atau yang biasa disebut dengan mukalaf. Jika penerima hibah belum mukalaf, maka hibahnya bisa diwakilkan oleh walinya.

3. Harta yang akan Dihibahkan

Harta yang akan dihibahkan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu harta tersbeut halal, memiliki nilai secara syariat, harta tersebut adalah milik penuh pemberi hibah.

Selain itu, harta tersebut dapat diserahkan kepada penerima dan yang terakhir harta tersebut memiliki wujud untuk dihibahkan.

4. Lafadz ijab dan qabul

Dalam hibah ada juga ijab dan qabul atau yang biasa disebut dengan serah terima hibah tersebut.

Rukun dan Syarat Hibah menurut UU Hukum Perdata

Hibah dikatakann sudah sah, jika mememuhi beberapa syarat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Berikut ini beberapa syarat tersbeut, yaitu:
1. Objek hibah

Objek atau harta yang digunakan dalam hibah haruslah memenuhi syarat yaitu ada wujudnya harta tersebut.jika tidak ada objek ketika terjadi hibah , maka hibah tersebut batal atau nakal

2. Pemberi hibah

Ada beberapa ketentuan untuk pemberi hibah, yaitu sebagai berikut;

Aktivitas hibah dilakukan oleh yang masih hidup,
Terputus hak dan kuasa Penghibah atas harta yang dihibahkannya.
Penghibah yang masih anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan menghibahkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan.

Pernyataan tersbeut sesuai dengan isi Bab VII Buku Pertama Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Suami istri yang masih terikat hubungan perkawinan dilarang untuk melakukan penghibahan, kecuali hadiah berupa barang yang wujudnya bergerak dan tidak melebihi kekayaan penghibah.
Dalam Undang-Undang ada beberapa orang yang dinyatakan tidak mampu untuk memberi dan menerima hibah, walau pada dasarnya semua orang diperbolehkan.

3. Penerima hibah

Ketentuan untuk penerima hibah adalah sebagai berikut;

Sah hibah dimanfaat penerimanya ketika penerima ada dan masih hidup atau seorang anak yang sudah ada wujudnya dalam kandungan ibunya ketika penghibahan diberikan atasnya.
Seorang wanita yang masih bersuami tidak dapat menerima hibah kecuali apa yang sudah ditentukan dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdat Bab V Buku Pertama.
Pengadilan Negeri memberi kuasa kepada orang tau atau wali atau pengampu untuk menerima hibah yang diterima oleh anak-anak yang masih di bawah umur.

4. Hibah dilakukan dengan Akta Notaris atau Akta PPAT

Hibah dapat dikatakan sah secara hukum, jika hibah yang dilakukan sesuai dengan pembuatan akta notaris dan notaris menyimpan naskah aslinya.

Sedangakan untuk hibah dalam bentuk hibah tanah, maka harus dilakukan sesuai dengan akta PPAT atau akta Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Ketentuan Hibah di Mata Hukum Negara

Pengertian dan pemberian hibah sudah diatur dalam Negera, berikut adalah 8 aturan yang menjadi ketentuan hibah di mata hukum Negara, yaitu;
1. Akta hibah yang disertai dengan akta dari PPAT atau penjabat pembuat akta tanah diberlakuka untuk hibah atas harta dalam bentuk tanah dan bangunan.
2. Jika orang tua yang menhibahkan harta berupa tanah kepada anak kandugnya, maka tidak akan dikenai PPh (Pajak Penghasilan).
3. PPh sebesar 2,5 % untuk hibah yang berupa tanah, PPh (Pajak Penghasilan) tersebut adalah bagian dari harga tanah yang sesuai dengan nilai tanah di pasaran.
(Ketentuan tersebut berlaku jika hibah tanah kepada sesama saudara kandung)
4. Akta Notari menjadi syarat wajib untuk hibah harta dalam bentuk harta atau barang yang bergerak.
5. Objek hibah ialah harta yang diberikan oleh pemberi hibah ketika masih hidup.
6. Jika harta yang diberikan dengan maksud hibah sedangkan pemberinya sudah meninggal, maka disebut dengan wasiat. Sementara wasiat bisa dibuktikan dengan adanya surat yang diakui oleh perdata.
7. Penerima harta hibah ialah yang sudah ada atau lahir dan tidak dapat diberikan kepada penerima yang belum lahir atau ada.
8. Pemberian harta sebagai bentuk dari hibah memiliki sifat FINAL dan tidak dapat ditarik kembali apa yang sudah diberikan.

Ada beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang berkaitan dengan poin ke-8 dari ketentuan hibah di mata hukum Negara, yaitu sebagi berikut;

1. Perumpamaan untuk orang yang menarik hibahnya dimisalkan dengan ajing yang menjilat muntahannya sendiri. Demikianlah yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.
2. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengingatkan untuk saling berbagi dengan sesama.

Demikianlah pemaparan kami mengenai hibah, hibah adalah pemberian yang diberikan atas dasar kesukarelaan yang harus mengikuti rukun dan syarat hibah tanpa mekhawatirkan jenis harta yang diberikan.

Sebab, hibah tetap dapat dilakukan selama barang atau harta tersebut dapat dihibahkan sesuai dengan rukun dan syarat hibah. Semoga artikel ini bermanfaat.

Wallahu ‘Alam…………

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?