Hukum Zakat Fitrah Sesuai Dalil Menurut Agama yang Benar

Rumahinfaq.or.id – Kata Zakat menurut bahasa yang artinya an namaa’ yaitu (tumbuh), Az ziyadah artinya (bertambah), dan Ash sholah artinya (perbaikan), membersihkan sesuatu dan sesuatu yang ditunaikan dari pemiliknya itu adalah untuk menyucikan dirinya. Baca terus penjelasan tentang hukum zakat fitrah.

hukum zakat fitrah
hukum zakat fitrah

Asal mula kata Fitri itu asalnya adalah dari kata ifthor, yang artinya berbuka (tidak berpuasa). Zakat dikaitkan pada kata fithri karena fithri (tidak berpuasa lagi) merupakan sebab ditunaikannya zakat tersebut.

Dan Ada juga ulama yang mengatakan zakat ini juga dengan sebutan “fithroh”, yang memiliki arti fitrah atau naluri. Al-imam An Nawawi Rahimahullah berkata bahwasanya untuk harta yang ditunaikan sebagai zakat fithri dinamai dengan “fithroh”, sebutan ini dipakai oleh para pakar fikih.

Sementara menurut istilah, zakat fithri berarti zakat yang diwajibkan sebab berkenaan dengan waktu ifthor (tidak lagi berpuasa) pada bulan Ramadhan.

‘Ibrah Dan Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Menjalin kasih sayang antara orang miskin, yakni membantu mereka agar tidak lagi meminta-minta pada hari ‘ied. Menebarkan rasa suka cita terhadap orang miskin agar mereka juga bisa merasakan gembira ria di hari ‘ied

Membersihkan dan menyucikan kekhilafan orang yang melaksanakan puasa karena kata-kata yang sia-sia dan kata-kata yang kotor lagi jorok yang dilakukan selama dalam menjalankan puasa.

Baca juga: Buka Puasa Para Santri Yatim dan Dhuafa SeJabodetabek

Dan disebutkan dalam hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa zakat fitri itu membersihkan atau menyucikan orang-orang yang berpuasa dari senda gurau dan kata-kata keji, kotor, ucapan dusta dll.

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fitri adalah merupakan shodaqoh yang harus dibayarkan oleh tiap-tiap muslim pada hari dimana hari itu sudah berbuka, artinya (tidak berpuasa lagi) pada bulan Ramadhan. Sampai Ishaq bin Rohuyah mengatakan bahwasanya wajibnya zakat fitri seperti ada ijma’ (kesepakatan dari para ulama).

Fakta dalil dari wajibnya zakat fitri ialah merupakan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwasanya “Rasulullah mewajibkan zakat fitri itu dengan 1 sho’ kurma ataupun 1 sho’ gandum bagi tiap-tiap orang islam. Baik yang merdeka maupun dia seorang budak, laki-laki maupun wanita, anak kecil ataupun yang sudah dewasa.

Zakat tersebut di suruh ditunaikan sebelum orang ramai keluar untuk mengerjakan sholat ‘ied. Dan juga perlu diperhatikan bahwasanya shogir atau (anak kecil) didalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin.

Sebab ada beberapa ulama seperti Ibnu Hazm yang menyatakan bahwasanya janin juga harus ditunaikan zakatnya. statement ini kurang tepat sebab janin tidaklah disebut shogir (anak kecil) didalam bahasa Arab juga secara ‘urf (kebiasaan yang ada).

Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri

Zakat fithri ini wajib dibayarkan oleh semua muslim, sebab untuk melengkapi kekurangan puasa yang di isi dengan amalan yang sia-sia dan kata-kata kotor dan keji. Zakat wajib ditunaikan oleh orang yang mampu dari semua orang muslim baik yang masih kecil sampai yang sudah usia renta.

Menurut para ulama, batasan mampu di sini artinya mempunyai kelebihan makanan, baik untuk dirinya sendiri dan yang dikasih nafkah (tanggungannya) dikala malam dan siang hari ‘ied. Maka jika kondisi seseorang yang seperti ini artinya dia bisa dikatakan mampu atau sanggup dan wajib menunaikan zakat fithri. Orang yang seperti ini disebut ghoni (berkecukupan).

Dari persyaratan di atas menerangkan bahwasanya kepala keluarga wajib menunaikan zakat fithri orang yang dia tanggung nafkahnya. Berdasarkan pendapat Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab atas zakat fithri si istri sebab istri telah menjadi tanggungan nafkah suami.

Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Menunaikan Zakat Fithri?

Seseorang mulai terkena keharusan menunaikan zakat fithri apabila ia berjumpa waktu tenggelamnya matahari pada malam hari raya Idul Fithri. Apabila dia menjumpai waktu tersebut, maka wajib untuknya menunaikan zakat fithri.

Hal Inilah yang jadi pendapat Imam Asy Syafi’i, karena zakat fithri berhubungan dengan hari fithri, hari dimana tidak lagi berpuasa. Maka dari itu, zakat ini disebut demikian (disandarkan pada kata fithri) sampai-sampai hukumnya pun disandarkan pada saat waktu fithri tersebut.

Contohnya, jika seseorang meninggal 1 menit sebelum tenggelamnya matahari pada saat malam hari raya, maka dia tidak ada kewajiban ditunaikan zakat fithri. Akan tetapi, apabila ia meninggal 1 menit sesudah tenggelamnya matahari maka diwajibkan untuknya menunaikan zakat fithri.

Demikian juga jika ada seorang bayi yang lahir sesudah terbenamnya matahari, maka tidak wajib ditunaikan zakat fithri baginya. Akan tetapi dianjurkan sebagaimana yang terdapat pada perbuatan dari Utsman bin ‘Affan yang menunaikan zakat fithri untuk janin. Akan tetapi, apabila bayi itu terlahir sebelum matahari tenggelam, maka zakat fithri wajib untuk ditunaikan darinya.

Bentuk Zakat Fithri

Bentuk zakat fithri ialah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan yang sebagainya. Ini adalah pendapat yang benar sebagaimana dipilih dari ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam Majmu’ Fatawa.

Akan tetapi hal ini disanggah oleh ulama Hanabilah yang membatasi jenis zakat fithri cuma pada dalil (yakni kurma dan gandum). Statement yang lebih tepat ialah pendapat yang pertama, dimana tidak dibatasi cuma pada dalil.

Perlu kita ketahui bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan atau mengharuskan zakat fithri itu dengan 1 sho’ kurma atau juga gandum, sebab ini adalah makanan pokok penduduk setempat (Madinah).

Andaikata itu bukanlah makanan pokok mereka, tetapi mereka juga mengkonsumsi makanan pokok yang lainnya, tentulah beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak akan memberatkan mereka menunaikan zakat fithri yang dimana itu bukan makanan yang biasa mereka makan.

Sebagaimana juga didalam menunaikan kafaroh disuruh seperti ini, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam (QS. Al Maidah: 89). Zakat fithri juga merupakan komponen dari kafarat sebab di antara tujuan dari zakat ini ialah untuk menutupi kekhilafan sebab berucap kotor, keji lagi sia-sia.

Ukuran Zakat Fithri

Para ulama sependapat bahwasanya kadar wajib zakat fithri itu ialah 1 sho’ dari seluruh bentuk zakat fithri selain untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) beberapa ulama memperbolehkan dengan setengah sho’.

Dalil dari pendapat ialah hadits dari Ibnu ‘Umar yang sudah disebutkan bahwasanya zakat fithri itu seukuran 1 sho’ kurma atau juga gandum. Dalil yang lainnya ialah dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya,”dulu pada masa Nabi kami selalu menunaikan zaka fitri itu sebanyak 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho gandum dan juga 1 sho kismis.”

Didalam riwayat yang lain disebutkan bahwa,
أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ
“Atau 1 sho’ keju.”
1 sho’ adalah ukuran takaran yang ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini bagaimanakah ukuran takaran ini. Mereka juga berselisih pendapat lagi bagaimanakah juga tentang ukuran berat timbangannya.

1 sho’ dari seluruh jenis ini ialah seukuran dengan 4 cakupan penuh telapak tangan yang sedang. Ukuran 1 sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan ialah kisaran 3 kg. Dan Ulama yang lainnya menyatakan bahwasanya 1 sho’ itu perkiraan 2,157 kg. Berarti apabila zakat fithri ditunaikan 2,5 kg, Telah dianggap sah, Wallahu a’lam Bisshowwab.

Bolehkah Menunaikan Zakat Fithri menggunakan Uang?

Ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwasanya tidak diperbolehkan membayarkan zakat fithri itu menggunakan uang yang seharga dengan zakat. Sebab tak ada satu pun dalil yang menerangkan bahwa dibolehkannya hal ini. Sementara ulama Hanafiyah beranggapan bahwasanya boleh zakat fithri itu menggunakan uang.

Pendapat yang tepat di dalam persoalan ini ialah tidak dibolehkan zakat fithri dengan uang sebagaimana pendapat dari mayoritas ulama. Abu Daud rahimahullah mengatakan:
“Al-Imam Ahmad pernah ditanya dan saya pun mendengarkannya. Imam Ahmad ditanya oleh seseorang, “Apakah boleh kami menyerahkan beberapa uang Dirham sebagai Zakat Fitri?” Imam Ahmad menjawab, “Saya takut dan khawatir hal yang seperti itu tidak sah.

Membayarkan zakat fithri menggunakan uang itu artinya menyelisihi perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
Abu Tholib berkata bahwasanya Al-Imam Ahmad telah berkata kepadanya:
لَا يُعْطِي قِيمَتَهُ
“Tidak ada Agama Islam yang membenarkan menunaikan zakat fitrah menggunakan uang, walaupun senilai nishob zakatnya”

Didalam kisah yang lainnya masih dari Al-Imam Ahmad:
قِيلَ لَهُ : قَوْمٌ يَقُولُونَ ، عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَ يَأْخُذُ بِالْقِيمَةِ ، قَالَ يَدَعُونَ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُونَ قَالَ فُلَانٌ ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ada yang mengatakan kepada Imam Ahmad, “Sebuah kaum mengatakan bahwasanya ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz memperbolehkan membayarkan zakat fithri itu menggunakan uang senilai zakat.” Imam Ahmad menjawab, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terus mereka berkata bahwasanya si fulan sudah berkata demikian?!

Sementara Ibnu ‘Umar sendiri sudah menerangkan bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri itu menggunakan (dengan satu sho’ kurma atau juga satu sho’ gandum). Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul-Nya.” Maka Sungguh aneh, segelintir orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malahan berkata, “Si fulan mengatakan demikian dan juga demikian”.”

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah Ibn Baz (Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Komisi Fatwa Saudi Arabia), memberikan penjelasan bahwa:
“Kita semua telah mengetahui bahwasanya ketika disyari’atkannya dan ditunaikannya zakat fithri ini, sudah ada mata uang Dinar dan Dirham di tengah-tengah umat Islam. Terkhusus penduduk Madinah (daerah domisili Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,).

Akan tetapi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fithri. Sekiranya mata uang dianggap sah dalam menunaikan zakat fithri, sudah barang tentu beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan akan hal ini. Alasannya, sebab tidak boleh untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan.

Andaikata beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan zakat fithri itu menggunakan uang, sudah barang tentu mereka para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum akan mengutip kabar tersebut. Dan Kami juga tak tahu ada seorang teman Nabi Muhammad SAW yang membayar zakat fithri itu dengan uang.

Sementara para sahabat itu merupakan manusia yang paling tahu sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka juga orang yang paling bersemangat didalam melaksanakan sunnahnya.

Andaikata ada di antara mereka yang menunaikan zakat fithri itu menggunakan uang, pasti hal ini akan dinukil sebagaimana ucapan dan perbuatan mereka yang berhubungan dengan syari’at yang lainnya dinukil (sampai pada kita).

Penerima Zakat Fithri

Para ulama berbeda pendapat berkenaan tentang siapakah yang memilik hak untuk diberikan zakat fithri. Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya zakat fithri diberikan pada 8 kriteria sebagaimana yang disebutkan didalam surat At Taubah ayat 60.

Sementara ulama Malikiyah, dan Imam Ahmad didalam salah satu pendapatnya dan Ibnu Taimiyah beranggapan bahwasanya zakat fithri itu cuma khusus bagi fakir miskin saja. Sebab didalam hadits disebutkan,
وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Zakat fithri itu sebagai makanan bagi orang miskin.”

Alasan lainnya disebutkan oleh murid Imam Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberi penjelasan bahwa, “Nabi Muhammad SAW itu menerangkan bahwa zakat fithri itu hanya khusus dikasihkan untuk orang-orang yang miskin dan beliau sama sekali tidak memberikannya pada 8 golongan penerima zakat satu per satu.

Dan beliau juga tidak menyuruh untuk memberikannya kepada 8 kriteria tersebut. Dan Juga tidak ada satu orang pun sahabat yang mengerjakan hal yang seperti ini, begitu juga orang-orang yang sesudahnya. Pendapat yang terakhir ini yang lebih tepat, ialah zakat fithri itu cuma khusus bagi orang-orang miskin saja.

Waktu Penunaian Zakat Fithri

Dan Perlu juga kita ketahui bahwasanya waktu penunaian zakat fithri itu ada 2 jenis:
1. Waktu yang afdhol yakni mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri sampai dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied.
2. Waktu yang dibenarkan untuk membayar zakat yaitu 1 atau 2 hari sebelum sholat ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibnu Umar.

Yang menjelaskan waktu yang afdhol ialah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan, “barang siapa yang memberikan zakat fitri sebelum di mulainya shalat ‘ied maka zakatnya itu sah. Dan barang siapa yang memberikannya setelah dilaksanakan nya sholat ‘ied itu tidak sah dan dianggap cuma sebagai sedekah diantara sedekah.

Baca juga: Keutamaan Sedekah dan Doa Malaikat untuk Orang yang Sedekah Subuh

Sementara dalil yang menjelaskan waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ialah disebutkan dalam shahih Al Bukhari, Bahwasanya “ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma memberikan zakat fitri itu kepada orang yang mempunyai hak untuk menerima dan ibnu umar memberikan zakatnya itu 1 hari atau 2 hari sebelum hari raya ‘idul fitri.”

Dan ada juga beberapa ulama yang memperbolehkan zakat fithri itu dibayarkan 3 hari sebelum ‘Idul Fithri. Riwayat yang menerangkan dibolehkannya hal ini ialah dari Nafi’, ia mengatakan bahwa,”Abdullah ibnu umar itu memberikan zakat fitrah kepada apa yang sudah menjadi di bawah tanggungan nya 2 hari atau 3 hari sebelum tiba hari raya idul fitri”.

Bebarapa ulama juga ada yang beranggapan bahwasanya zakat fithri itu boleh dibayarkan pada saat awal pada bulan Ramadhan. Dan juga yang berpendapat bahwasanya boleh dibayarkan 1 atau 2 tahun sebelumnya.

Akan tetapi pendapat yang lebih tepat mengenai permasalahan ini, disebabkan zakat fithri itu berhubungan dengan waktu fithri (Idul Fithri), Oleh karenanya tidak seharusnya diberikan dari jauh-jauh hari sebelum hari fithri.

Sebagaimana juga yang sudah diterangkan bahwasanya zakat fithri itu dibayarkan untuk mencukupi kebutuhan orang-orang miskin supaya mereka dapat bersuka ria di hari fithri. Apabila ingin dibayarkan lebih awal, alangkah baiknya dibayarkan 2 atau juga 3 hari sebelum hari raya ‘ied.

Ibnul Qudamah Al Maqdisi dia berkata, Sekiranya zakat fithri itu jauh-jauh hari sebelum ‘Idul Fithri sudah diberikan, maka sudah barang tentu perkara tidak mencapai maksud disyari’atkannya zakat fithri yaitu untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari ‘ied.

Ingatlah bahwa kenapa diwajibkannya zakat fithri hari fithri, hari dimana orang-orang tidak lagi berpuasa. Hingga zakat ini juga disebut dengan zakat fithri. Sebab tujuan dari zakat fithri itu adalah untuk memenuhi kebutuhan si miskin di waktu yang khusus (yaitu hari fithri). Oleh karena itu tidak diperbolehkan dari jauh-jauh hari sebelum waktunya.

Bagaimana Membayarkan Zakat Fithri Sesudah Shalat ‘Ied?

Barangsiapa membayarkan zakat fithri sesudah shalat ‘ied tanpa ada udzur syar’i, maka orang itu berdosa. Hal Inilah yang jadi pendapat dari ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanafiyah. Akan tetapi semua ulama ahli fikih setuju bahwasanya zakat fithri tidaklah gugur sesudah habis waktunya, sebab zakat ini masih harus ditunaikan.

Zakat itu masih menjadi utang dan dia tidaklah gugur melainkan dengan cara membayarkannya. Zakat ini merupakan hak sesama hamba yang harus dibayarkan. Maka dari itu, untuk siapa saja yang memberikan zakat fithri terhadap sebuah instansi atau lembaga zakat, maka sudah semestinya melihat hal ini.

Sudah semestinya instansi atau lembaga zakat itu diberikan pemahaman bahwasanya zakat fithri mesti ditunaikan sebelum pelaksanaan shalat ‘ied, dan bukan setelahnya. Pun apabila zakat fithri diberikan langsung kepada si miskin yang memiliki hak untuk menerimanya, maka hal itu pun diperbolehkan.

Di Manakah Zakat Fithri Diserahkan?

Zakat fithri diserahkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fithri, yakni di saat ia mendapatkan waktu fithri (tidak lagi berpuasa). Disebabkan wajibnya zakat fithri ini berhubungan dengan sebab wajibnya yaitu berjumpa dengan waktu fithri.

Donasi sekarang

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?