Infaq Yatim Serta Beberapa Keutaman Sedekah untuk Anak yang Kurang Mampu

Rumahinfaq.or.id – Anak yatim mempunyai kedudukan tersendiri dalam islam. Ada banyak ayat al-Quran yang mengungkapkan perhatian Allah kepada anak yatim, demikian juga hadits-hadits Rasulullah. Itu pulalah alasan beliau untuk menganjurkan infaq yatim.

Ada 22 ayat al-Quran yang bebricara tentang anak yatim. Dalam ayat-ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk memuliakan dan memperhatikan anak yatim.

Infaq yatim
Infaq yatim

Infaq yatim merupakan jenis infaq yang dikeluarkan dalam bentuk memuliakan anak yatim. Sedangkan arti infaq adalah membelanjakan sebagian harta untuk suatu kepentingan bersama yang diperintahkan dalan islam.

Dalam membahas infaq yatim yang lebih lanjut, kita akan diajak untuk memahami makna dari anak yatim, hak-hak mereka serta keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan bagi mereka yang mengasihi anak yatim.

Berikut ini penjelasannya;

Pengertian Anak Yatim

Berbicara tentang anak yatim, maka pahamilah kalimat yang disampaikan oleh Prof Dr H Hasanuddin AF. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat berbicara tentang siapa anak yatim yang tersimpan dalam arsip Harian Republika.

Menurutnya, anak yatim itu tidak hanya sekedar mereka yang kehilangan atau tidak memiliki ayah saja, akan tetapi mereka yang kurang dalam aspek pendidikan dan moralnya juga termasuk dari mereka yang dikategorikan anak yatim.

Kata ‘anak yatim’ memiliki makna yang dilihat secara harfiah merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata ‘anak’ dan kata ‘yatim’. Kata anak dalam bahasa Arab adalah waladun yang merupakan bentuk mashdar dari kata walada-yalidu.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia, anak memiliki arti sebagai keturunan. Sedangkan kata ‘yatim’ adalah kata yang diserap dari bentuk fa’il bahasa arab yutma–yatama–yatma yang memberi arti infirad atau kesendirian.

Sehingga, arti dari anak yatim ialah anak yang masih di bawah umur dan belum baligh yang telah kehilangan ayah sebagai penanggung jawab untuk pembiayaan hidup dan pendidikannya.

Begitu pun dengan makna al-yatimah yang berarti janda. Pernyataan tersebut dapat dilihat dalam Tahdzib al-Lughat h. 14/ 242, Muhammad Abu Manshur al-Harawi, w.370 H, dan Mujmal al-Lughat, h. 1/ 941, Ibnu Faris ar-Razi w. 395 H.

Istilah anak yatim tidak memandang status sosial, baik itu kaya maupun miskin, apalagi gendernya, yaitu perempuan atau laki-laki.

Selanjutnya, Ahmad Mushthofa al-Maraghi memberi pendapat tentang anak yatim dalam tafsirnya. Yatim ialah seorang anak yang ayahnya telah meninggal dunia yang dihukumi secara mutlak, yaitu baik ketika usianya masih kecil maupun sudah dewasa.

Tapi, Ahmad memberi tambahan yang dilihat dari kaca tradisi bahwa anak disebut anak yatim ketika ia belum mencapai usia dewasanya.

Adapun di Indonesia, anak yang telah kehilangan ayah disebut yatim. Dan yang sudah kehilangan kedua orang tuanya disebut dengan yatim piatu.

Sedangkan Ibnu Mandzur al-Ifriqi w. 711 H berpendapat bahwa mereka yang kehilangan kedua orang tuanya dalam bahasa Arab disebut dengan istilah Lathim. Pernyataan tersebut dapat dilihat di Lisan al-Arab, h. 12/ 645.

Padahal dalam fikih klasik istilah yatim saja yang dikenal, baik yang meninggal ayah atau ibunya atau kedua-duanya.

Ibnu Sikkith mengemukkan pendapat bahwa ada 2 makna untuk yatim, yaitu untuk manusia dan binatang. Kata ‘yatim’ untuk manusia ialah mereka yang sudah meninggal ayahnya sedangkan untuk binatang ialah yang kehilangan ibunya.

Manusia yang kehilangan ibunya tidak dapat dikatakan anak yatim, begitulah pendapat Ibnu Sikkith dalam Lisanul ‘Arab, 12:645.

Para ulama berpendapat tentang anak yatim secara istilah ialah anak yang sudah meninggal ayahnya dan dia belum baligh. Sebab, anak tidak lagi disebut yatim ketika ia sudah mengalami mimpi basah atau sudah baligh.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari dari Handzalah ibnu Hudzaim oleh At-Thabrani. Hadits tersebut tercantum dalam Mu’jam Al-Kabir, 4:14. Dan pernyataan di atas dapat dilihat di Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 45:254.

Ada poin penting yang harus diingat, status anak yatim ialah ditinggal meninggal oleh ayahnya dan belum baligh. Adapun anak yang sudah dewasa tetap dibantu jika hidup dalam kekurangan walaupun tidak berstatus yatim lagi.

Hak Anak Yatim dalam Islam

Karena kedudukannya yang istimewa dalam islam, anak yatim diharuskan untuk diperhatikan, berbuat baik, merawat mereka hingga dewasa. Sehingga mereka yang melaksanakan semua itu akan mendapatkan keistimewaan tersebut.

Karena telah kehilangan kedua orang tua yang seharusnya merawat dan mengasihinya, kesejahteraan psikologi anak yatim sangatlah rendah daripada anak yang tidak yatim.

Hasil yang signifikan tersebut didapatkan dari sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal Plos One.

Oleh karena itu, dalam islam ada beberapa hak anak yatim yang harus diperhatikan selama dalam masa perawatan kita, yaitu;

1. Mendidik dan memberi makan

Perintah ini telah Allah tegaskan dalam surah al-Ma’un ayat 1-3. Bahkan mereka yang tidak mendidik dan memberi makan anak yatim dikategorikan sebagai pendusta agama. Naudzubillah min dzalik.

2. Memperlakukan dengan baik

Surah ad-Dhuha, Allah Subahanahu Wa Ta’ala melarang untuk berbuat sewenang-wenang terhadap anak yatim. Peringatan keras tersebut difirmankan dalam ayat ke-9 surah tersebut.

3. Mencukupi kebutuhannya

Allah menjanjikan syurga lewat lisan as-shidiq Muhammad Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas untuk mereka yang memberi makan dan minum anak yatim.

Memberi makan dalam hadits tersebut adalah bentuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan mereka, anak yatim. Diantara kebutuhan anak yatim yang harus dipenuhi ialah kebutuhan pangan, sandang, papan dan pendidikan.

4. Memberi kasih sayang

Untuk melembutkan hati, Rasulullah memberikan solusinya, yaitu mengusap kepala anak yatim.

Maksud dari mengusap kepala anak yatim dalam hadits tersebut ialah mengasihi dan menyantuni anak yatim. Solusi tersebut tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah.

5. Mendapatkan perlindungan

Hak anak yatim untuk mendapatkan perlindungan ialah makna tersirat dari ayat ke-6 surah ad-Dhuha.

6. Hak anak yatim dalam hal harta

Ayat ke-152 surah al-An’am adalah kalamullah yang memberi peringatan tegas atau larangan kepada mereka yang merawat anak yatim untuk tidak mendekati harta anak yatim.

Mendekati dalam ayat tersebut ialah membelanjakan harta anak yatim diluar daripada keperluannya atau kemaslahatan anak yatim tersebut. Peringatan tersebut juga difirmankan dalam surah an-Nisa ayat ke-2 nya.

7. Hak warisan

Di ayat ke-6 surah an-Nisa diingatkan untuk menyerahkan kembali harta warisan anak yatim ketika ia sudah dewasa. Dan hukumnya adalah wajib bagi mereka yang mengasuh atau merawatnya atau yang bertanggung jawab atasnya.

Keutamaan Memelihara Anak Yatim

Berikut ini adalah keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan oleh mereka yang menyantuni anak yatim, yaitu;

1. Termasuk amal shaleh

Allah berfirman dalam ayat 220 surah al-Baqarah tentang memperbaiki keadaan anak yatim. Memperbaiki dalam ayat tersebut berarti memberi infaq yatim atas mereka, memilihara mereka dengan baik serta kehidupan mereka haruslah terjamin.

2. Allah menyukai hamba yang suka berinfaq

Dalam ayat 215 surah al-Baqarah ayat menuturkan bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk infaq yatim adalah harta yang dicintai di sisi-Nya. Sebab mereka yang suka berbagi terkhusus anak yatim akan mendapatkan kemuliaan dari infaqnya tersebut.

3. Wasilah masuk syurga

Mereka yang menanggung nafkah anak yatim dijamin akan masuk syurga dan kedudukannnya di syurga sangatlah dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagaimana yang beliau tuturkan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari.

Kemulian tersebut didapatkan lantaran, mereka yang menanggung nafkah anak yatim, telah menjamin kehidupan anak yatim yang berada dalam pantauan mereka dan tanggungan mereka sebagai bentuk infaq yatim yang mereka lakukan.

Mereka yang mengasihi dan menyantuni anak yatim juga akan mendapatkan kemulian dengan disiapkannya pintu khusus untuk mereka. Pintu tersebutlah yang akan memanggil mereka untuk memasuki syurga.

4. Jauh dari adzab Allah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menyatakan bahwa tidak diadzab bagi mereka yang mengasihi anak yatim. Maksuda dari mengasihi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani tersebut ialah merawat mereka, memperlakukan mereka dengan ramah.

Termausk juga berkata baik kepada mereka, anak yatim yang berada di bawah tanggungjawabnya. Bersebab anak yatim memiliki keistimewaan dalam islam akan mendatangkan kesitimewaan tersebut bagi mereka yang melakukan infaq yatim.

5. Terpenuhi kebutuhan hidup

Ada yang unik dari infaq yatim atau menyantuni anak yatim. Secara logika, ketika harta dikeluarkan akan mengurangi harta tersebut dan otomatis kebutuhan hidup seseorang juga akan berkurang.

Tapi hal demikian tidak berlaku untuk mereka yang mengeluarkan infaq yatim untuk menyantuni anak yatim. Harta serta kebutuhan hidup mereka akan terpenuhi, itulah yang Allah janjikan selain daripada mendapatkan pahala dan masuk syurga.

Tidak hanya dipenuhinya kebutuhan hidupnya tapi juga harta yang dimiliki mereka yang mengeluarkan infaq untuk menyantuni anak yatim akan dilipatgandakan oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits Shahih At Targhib oleh al-Baniy.

6. Memperbaiki urusan dunia dan akhirat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji akan memperbaiki urusan mereka, baik itu urusan dunianya maupun urusan akhiratnya selama mereka mengasihi sesama mereka. Mereka juga akan mendapatkan cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pernyataan tersebut tentunya dilandaskan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Tirmidz.

Selain daripada 6 keutamaan yang akan diraih oleh mereka yang mengasihi anak yatim di atas, masih ada beberapa keutamaan yang akan mereka dapatkan, yaitu;

  1. Bukti keimanan seseorang
  2. Dilipatgandakannya pahala oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  3. Pahala infaq yang dikeluarkannya akan terus berkembang dan tumbuh
  4. Dijauhkannya dari api neraka
  5. Dibebaskan dari siksa kuburnya
  6. Mendapat naungan di hari akhir
  7. Menghapus dosa-dosa selain syirik
  8. Keberkahan untuk hartanya
  9. Mencegah seorang pedagang untuk bermaksiat dalam jual beli yang dilakukannya.

Demikianlah pemaparan kami tentang infaq yatim, maka mari kita menebar kasih dengan menyantuni, merawat dan mengasihi anak yatim. Dan raihlah keutamaan-keutaman tersebut.

Semoga bermanfaat…

Wallahu ‘Alam……..

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?