Ini Dia Penjelasan Hukum Infaq Dalam Islam yang Wajib Difahami

Rumahinfaq.or.id – Sebelum kita masuk ke bab hukum infaq, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian infaq secara bahasa.

Dalam bahasa Arab, kata infaq berasal dari kata “anfaqo-yunfiqu”, yang memiliki arti membelanjakan atau membiayai. Arti infaq itu sendiri menjadi khusus ketika dikaitkan dengan upaya untuk mewujudkan perintah-perintah Allah.

hukum infaq
hukum infaq

Dengan demikian, infaq hanyalah berkenaan dengan bentuk materi saja. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia infaq diartikan, “mengeluarkan harta atau kekayaan yang meliputi zakat dan non zakat“.

Sedangkan menurut istilah syar’i, infaq berarti “mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan dalam ajaran Islam.” Kadang infaq juga yang awalnya berasal dari bahasa Arab telah dijadikan istilah dalam Indonesia yang berarti, memberikan atau mengeluarkan (sumbangan) sebagian harta dan sebagainya untuk sesuatu yang berniai kebaikan.

Dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa kata “infaq” digunakan tidak cuma tentang sesuatu yang wajib atau keharusan, namun juga meliputi semua jenis pengeluaran.

Bahkan, kata infaq juga digunakan untuk pengeluaran yang tidak ikhlas sekalipun. Seperti yang tercantum dalam firman Allah dalam QS al-Baqarah (2) : 262 misalnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertian infaq itu sendiri menurut etimologi adalah, 

“Memberikan barang berupa apapun kepada orang lain yang sifatnya akan hilang atau habis dan terputus dari orang yang memberi barang. Seperti yang sudah pernah dijelaskan bahwa, “apa saja yang telah pindah tangan untuk orang lain atau bahkan menjadi hak milik orang lain”.

Sedangkan menurut istilah, pengertian infaq memiliki beberapa batasan, sebagai berikut : infaq adalah mengeluarkan sebagian harta,kekayaan atau pendapatan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh syariat Islam.

Dasar Hukum Infaq

Syariat Islam yang sempurna telah begitu detail mengatur dan memberikan panduan kepada kita dalam berinfaq atau membelanjakan harta. Banyak hadits dan ayat dan yang menerangkan tentang hal ini dan memerintahkan kita agar menginfaqkan (membelanjakan) harta yang kita miliki.

Allah juga memerintahkan kepada manusia agar membelanjakan harta miliknya untuk keperluan  dirinya sendiri (QS at-Taghabun: 16), serta untuk menafkahi istri dan keluarganya menurut kesanggupan atau kemampuannya (QS ath-Thalaq: 7).

Dalam membelanjakan harta, yang dibelanjakan itu hendaklah harta yang bagus dan berguna serta bebas dari harta yang masih haram dan syubhat, terutama dalam menunaikan infaq (QS al-Baqarah: 267)

Kemudian Allah juga menjelaskan dalam kitab-Nya Al-Qur an bagaimana tatacara membelanjakan harta. Seperti yang telah termaktum dalam ayat berikut ini yang artinya:

Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang jika membelanjakan (hartanya), mereka tidak isrâf (berlebihan) dan tidak (juga) iqtâr (kikir/pelit); adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah atau imbang antara yang demikian (secara wajar).”(QS al-Furqan: 67).

Selain itu, Allah juga telah berfirman di dalam Surat Al-Isra’ ayat 26 yang artinya “Berikan haknya kepada keluarga dekat, dan kepada orang miskin, orang yang dalam perjalanan (Musafir), dan kalian  janganlah menghambur hartamu secara boros.

Dan masih banyak terdapat di Surat atau ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’an mengenai dasar hukum infaq ini diantaranya, QS. Adz-Dzariyat 19, QS. Al-Baqarah 245, QS. Ali Imran 134, QS. Al-Baqarah 215.

Hukum Infaq

Adapun hukum Infaq dibagi menjadi 4 yakni, ada yang wajib, sunnah, mubah dan haram:

  1. Infaq mubah: Yaitu mengeluarkan harta untuk hal-hal yang mubah (diperbolehkan) seperti dalam usaha bercocok tanam atau perdagangan.
  2. Infaq sunnah: Yaitu mengeluarkan harta yang diniatkan untuk sedekah. Infaq jenis ini ada dua macam; Infaq untuk mendukung jihad dan infaq kepada orang yang membutuhkan.
  3. Infaq wajib: Yaitu mengeluarkan harta untuk hal-hal yang wajib, seperti seorang suami yang membayar maskawin untuk istrinya, menafkahi istri dan keluarga, dan nazar.
  4. Infaq haram: Yaitu mengeluarkan harta untuk perkara haram (dilarang) seperti infaqnya orang kafir untuk menghalangi dakwah dan program-program syiar Islam, juga termasuk infaq-nya orang Islam kepada fakir miskin tapi tidak diniatkan karena Allah. Seperti yang tercantum dalam QS. Al-Anfal:36 dan An-Nisa’: 38.

Rukun dan Syarat Infaq

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa dalam suatu perbuatan hukum terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi agar perbuatan tersebut bisa dikatakan sah. Begitu juga halnya dengan infaq, agar hukum infaq tersebut sah secara syariat maka harus memenuhi beberapa faktor.

Faktor itu dapat kita sebut dengan rukun infaq, dimana infaq bisa dikatakan sah apabila terpenuhi rukun-rukunnya, dan tiap rukun itu membutuhkan persyaratan yang wajib terpenuhi juga. Di dalam infaq harus memenuhi serta memiliki 4 (empat) rukun, yakni:

  • Penginfaq (orang yang berinfaq)
    1. Penginfaq memiliki apa yang akan diinfaqkan.
    2. Orang yang infaq bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan.
    3. Penginfaq adalah oarang dewasa, bukan anak-anak yang terbatas kemampuannya
    4. Orang yang berinfaq itu tak dipaksa ataupun terpaksa, karena berinfaq itu adalah akad yang mensyaratkan keridhoan atau keikhlasan dalam keabsahannya.
  • Orang yang diberikan infaq
Orang yang diberikan infaq harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Benar-benar ada saat diberikan infaq tersebut. Jika memang benar-benar tidak ada, atau masih diperkirakan adanya, misalnya dalam bentuk janin maka infaq tersebut tidak berlaku atau tidak ada.
  2. Dewasa atau telah mencapai usia baligh, yakni apabila seseorang yang diberi infaq itu ada ketika infaq itu diberikan, akan tetapi ia masih anak kecil atau terdapat gangguan jiwa maka infaq itu boleh diambil oleh walinya, orang yang dalam pemeliharaannya, atau orang yang mendidiknya, sekalipun dia adalah orang asing atau tidak ada darah keluarga.
  3. Sesuatu yang diinfaqkan (materi atau harta)
Maksudnya orang yang akan diberi infaq oleh penginfaq, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Sesuatu yang benar-benar ada
  2. Harta atau sesuatu yang memiliki nilai
  3. Dapat dimiliki bendanya artinya, yang diinfaqkan merupakan apa yang lazim ia miliki, diterima secara umum oleh masyarakat dan pemilikannya itu dapat berpindah tangan satu sama lain. Sebagai contoh, infaq tidak akan sah apabila menginfaqkan ikan yang masih ada di laut, burung yang masih ada di udara, air di sungai dll.
  4. Sama sekali tak berhubungan dengan lokasi yang memberikan infaq atau penginfaq, misalnya infaq tanaman, pohon atau bangunan tanpa ada tanahnya. Tetapi sesuatu yang diinfaqkan itu harus dipisahkan antar keduanya. Lalu harus segera diserahkan kepada yang berhak diberi infaq sehingga sah menjadi miliknya.
  5. Ijab dan Qabul

Infaq akan dikatakan sah jika melalui proses ijab dan qabul, bagaimana pun bentuk ijab qabul yang ditunjukkan oleh pemberi harta tanpa imbalan apapun. Misalnya, yang memberikan infaq itu berkata: Saya infaqkan ini kepadamu; saya berikan harta ini kepadamu; atau yang serupa dengan itu; sedang yang lain atau yang dikasih infaq berkata: Ya, aku terima. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Asy-Syafi’i.

Sedangkan yang mengikuti Madzhab Hanafi berpendapat bahwa ijab saja sudah cukup, dan itulah yang paling shahih. Sedangkan, yang mengambil pendapat dari Madzhab Hambali mengatakan: Infaq itu sah dengan pemberian yang menunjukkan kepadanya; karena Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi dan memberikan hadiah. Begitu pula yang dilakukan oleh para sahabat. Adapun, tidak dinukil dari madzhab tersebut bahwa keduanya mensyaratkan ijab qabul, dan yang serupa dengan hal itu.

Orang Yang Berhak Dan Tidak Berhak Menerima Infaq

  • Fakir: Adalah adalah seseorang yang tidak mampu mencukupi setengah dari kebutuhan pokoknya dan tanggungannya (istri dan anak), seperti kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makan), dan papan (tempat tinggal).
  • Miskin: Adalah seseorang yang cuma bisa memenuhi separuh atau lebih keperluan pokoknya dan tanggungannya. Namun tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhannya.
  • Amil Infaq: Adalah seorang yang memiliki pekerjaan dan penghasilannya mencapai separuh atau lebih dari yang dibutuhkan, namun belum mampu mencukupinya.
  • Hamba Sahaya: Adalah seseorang yang tidak merdeka dalam artian masih menjadi hak majikannya, hamba sahaya ini terjadi hanya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang yang memiliki hutang: Merupakan seorang yang sedang terlilit atau terjerat hutang, baik ia bangkrut dalam perdagangan atau mempunyai hutang karma untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Muallaf: Adalah seseorang yang baru beberapa saat masuk agama Islam atau orang yang diharapkan masuk Islam.
  • Fi Sabilillah: Adalah seseorang yang sedang berjuang untuk menegakkan agama di jalan Allah.
  • Ibnu Sabil: Adalah seseorang yang sedang dalam safar (perjalanan), sedang bekal yang ia bawa tidak cukup selama dalam perjalanan.
  • Sahabat atau Keluarga Terdekat: Adalah orang yang terdekat dengan kita baik orang yang memiliki hubungan darah atau hubungan dari pernikahan.
  • Pembangunan Kepentingan Umum: Adalah sebuah pembangunan yang digunakan untuk kepentingan umum, baik untuk mendukung pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit dan lain sebagainya.

Sedangkan orang-orang yang tidak berhak menerima infaq adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang mampu atau kaya
  2. Orang yang masih mampu bekerja
  3. Orang kafir yang memerangi orang Islam
  4. Orang Murtad (keluar dari agama Islam)
  5. Pembangunan tempat umum yang sudah mewah megah
Manfaat Infaq

Setelah kita membahas hukum dan rukun infaq, sekarang kita akan membahas manfaat infaq itu sendiri.

  1. Infak dapat membuka pintu rezeki

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan hadist dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Berinfaqlah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infaq kepadamu.” (HR. Al- Bukhari no.5352 dan Muslim no. 2305)

Hadist ini menjelaskan bahwa, sesorang yang menginfakan hartanya akan diganti atau diberikan nafkah langsung dari Allah yang bisa dianggap membuakan pintu rezeki.

  1. Infaq dapat melipatgandakan rezeki
Seperti yang telah Allah jelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 291 yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
  1. Membersihkan atau menyucikan diri

Allah telah berfirman di ayat ini yang artinya, “Ambillah (sebagian harta mereka untuk sedekah atau zakat jika sudah Nishob, supaya dengan cara itu engkau membersihkan mereka (dari dosa) dan mensucikan mereka (dari akhlak yang buruk).

  1. Menghindarkan kita dari suatu musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segeralah sedekah, karena mala petaka tak pernah bisa mendahului sedekah. Tebuslah semua kesulitanmu dengan jalan memberi sedekah, obatilah penyakitmu dengan cara ngasih sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 jenis petaka, dan yang paling ringan yaitu penyakit kusta dan sopak.”(HR. Baihaqi dan Thabrani).

  1. Menyempurnakan Ibadah

Seperti yang tercantum dalam surat  Al-Imran:92, ” Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang di infakkan, seputar hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.”

Donasi Sekarang



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Sudahkan infaq hari ini?