Ini Dia Penjelasan Paling Lengkap Tentang Prioritas Utama Urutan Penerima Infaq

Rumahinfaq.or.id – Mengingat hukum dasar dari infaq adalah sunah. Maka dari itu, dalam hal orang yang berhak meneriman infaq yang dikeluarkan sangat perlu untuk mengetahui tentang urutan penerima infaq. Mereka yang menjadi penerima infaq yang diprioritaskan dari infaq yang dikeluarkan.

Urutan penerima infaq
Urutan penerima infaq

Ada beberapa pendapat mengenai urutan penerima infaq yang dikeluarkan oleh si munfiq. Berikut ini pemaparannya;

Pendapat Pertama Tentang Penerima Infaq

Dalam islam, hukum infaq terbagi menjadi wajib dan sunah. Infaq yang berhukum wajib ialah infaq yang dikeluarkan oleh suami sebagai kepala rumah tangga.

Sedangkan infaq sunah itu seperti infaq yang pada umumnya yang telah diketahui secara umum.

Lalu, siapa saja yang termasuk dalam urutan penerima infaq dari dua jenis hukum yang berlaku dalam infaq yang dikeluarkan oleh seseorang kepada orang lain tersebut?

Urutan Penerima Infaq Wajib

Mereka yang berhak menjadi urutan penerima infaq wajib, yaitu nafkah disebut dengan istilah dzawil qurba. Dzawil qurba ialah mereka yang berada dalam tanggung jawab si pemberi infaq yang dalam hal ini suami sebagai kepala rumah tangga.

Mereka yang termasuk dalam dzawil qurba yang menempati urutan penerima infaq yang pertama dalam hukum infaq yang wajib ialah istri, anak dan kedua orang tuanya.

Siapakah mereka yang disebut dengan istilah istri, anak dan orang tua dalam urutan penerima infaq wajib tersebut?

Istri adalah istilah untuk perempuan yang terikat dengannya dalam ikatan pernikahan baik secara agama maupun secara Negara. Nah, setelah menikah nafkah seorang istri sudah menjadi tanggung jawab suaminya bukan lagi kedua orang tuanya.

Dalam sebuah pernikahan ada istilah istri, suami dan anak. Anak adalah mereka yang merupakan keturunan yang terlahir dalam sebuah pernikahan.

Anak dalam sebuah pernikahan bisa berupa perempuan, laki-laki seibu atau pun berbeda ibu. Hal yang paling penting untuk diperhatikan ialah mereka yang masih berada dalam tanggung jawab laki-laki yang disebut suami, ayah dalam keluarga tersebut.

Ada juga istilah kedua orang tua yang termasuk dalam urutan penerima infaq wajib yang disebut dengan dzawil qurba tersebut. Kedua orang tua masih menjadi tanggung jawab anak laki-laki baik sebelum atau pun sesudah ia menikah.

Kedua dua orang dalan urutan penerima infaq tersebut meliputi kedua orang tua dari pihak laki-laki dan dari pihak perempuan. Kedua orang tua dari kedua pihak menjadi tanggung jawab laki-laki sebagai si pemberi nafkah atau infaq wajib tersebut.

Baca juga: Penjelasan Lengkap Tentang Profile Lembaga Manajemen Infaq Indonesia

Urutan Penerima Infaq Sunah

Urutan penerima infaq sunah ini terbagi menjadi beberapa golongan. Sebagaimana yang dilansir dari kompas.com dalam uraian DR. H. Abdul Mu’ti, M.Ed ketika menjawab pertanyaan Bapak Nuryaman.

Berikut ini penjelasan urutan penerima infaq sunah tersebut, ialah;

Urutan Pertama

Mereka yang menempati urutan penerima infaq sunah yang pertama ini ialah golongan fakir. Mereka disebut fakir apabila mereka tidak mempunyai harta dan tenaga dalam menutupi kebutuhan hidup mereka.

Urutan Kedua

Golongan miskin menempati urutan penerima infaq sunah yang kedua. Mereka akan termasuk dari golongan miskin apabila hidup mereka serba dalam keadaan kekurangan.

Keadaan yang serba kekurang tersebut dikatakan jika harta atau pun tenaga mereka belum bisa memenuhi keperluan hidup mereka.

Golongan fakir dan miskin juga berhak menerima zakat yang dibayar oleh muzzaki. Kedua golongan tersebut termasuk dari bagian mustahiq.

Baca juga: Ini Dia Penjelasan Paling Lengkap Tentang Tujuan Infaq Dalam Islam

Urutan Ketiga

Golongan ketiga dalam urutan penerima infaq sunah tersebut ialah anak yatim, yaitu anak yang telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Istilah yatim tidak lepas dari piatu atau anak yang ditinggal wafat oleh ibunya.

Sehingga, masyarakat Indonesia mengenal anak yatim piatu sebagai anak yang telah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya.

Tentu saja, mereka yang termasuk ke dalam urutan penerima infaq sunah yang ketiga tersebut ialah anak yatim yang belum memasuki usia baligh. Sebab, jika anak tersebut sudah baligh, maka menerima infaq masih dalam perbedaan pendapat ulama.

Urutan Keempat

Menurut DR. H. Abdul Mu’ti, M.Ed dalam jawabnnya tersebut, kaum dhuafa lainnya menempati posisi sebagai penerima infaq sunah yang terakhir. Siapa sajakah mereka yang dimaksud sebagai kamu dhuafa lainnya.

Kata dhuafa atau dhi’afan, yang berarti lemah adalah kata dhuafa dalam al-Quran. Makna lemah tersebut meliputi kesejahteraan atau finansial. Pengertian dhuafa tersebut terdapat dalam surah an-Nisa ayat ke 9.

Sedangkan makan lemah dalam ayat ke 4 surah al-Qashas berarti lemah yang disebabkan oleh akibat dari penindasan atau terdzalimi yang dilakukan oleh pemerintah atau sistem yang tidak adil dan dzalim.

Berikut ini kelompok kaum dhuafa lainnya, yaitu;

1. Orang yang dalam tahanan atau tawanan atau hamba sahaya

Hamba sahaya ialah mereka yang didapatkan dari pihak lawan yang kalam dalam sebuah peperangan yang dijadikan sebagai tahanan atau tawanan. Golongan ini berhak ada dalam urutan penerima infaq sunah tersebut.

Hal demikian, dikarenakan mereka ditahan karena kedzaliman yang diperbuat oleh orang lain bukan karena kesalahan yang diperbuatnya. Mereka lemah dalam hal finansial, fisik dan juga psikis mereka.

2. Golongan difabel atau cacat fisik

Golongan difabel adalah mereka yang memiliki kendala atau keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Makna lemah dalam golongan ini terdapat pada fisik mereka. Hal itu juga yang menjadikan mereka termasuk bagian dari urutan penerima infaq sunah.

3. LanSia atau lanjut usia

Golongan ini adalah bagian ketiga dari kaum dhuafa lainnya yang berhak menerima infaq yang berada pada urutan penerima infaq sunah yang terakhir. Hak ini mereka dapatkan karena adanya makna lemah secara fisik dan psikis pada mereka.

4. Janda miskin

Janda miskin memiliki tanggungan pada anak-anaknya setelah ditinggal wafat oleh suaminya. Sehingga ia janda miskin berada pada urutan penerima infaq sunah yang keempat dari golongan kaum dhuafa lainnya yang menerima infaq sunah tersebut.

5. Orang dengan penyakit tertentu

Penyakit tertentu yang dimiliki golongan ini memberinya hak dalam urutan penerima infak sunah dari golongan kaum dhuafa yang kelima. Apalagi, jika golongan ini berasal dari mereka yang memiliki ekonomi rendah.

6. Pekerja kasar atau Buruh

Banyak menghabiskan fisik dan waktu untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Walau sudah seperti itu, apa yang mereka dapatkan belum bisa menutupi keperluan prime mereka.

Alasan demikianlah yang memberi mereka urutan penerima infak dari kaum dhuafa lainnya

7. Rakyat kecil yang tertindas

Jika ingin melihat contoh yang menyebabkan orang kecil atau msikin mendapatkan urutan penerim ingfaq sunah yang dikeluarkan. Infaq yang didapatkan bertujuan untuk membantu mereka meraih kembali kebebasan mereka.

8. Korban Bencana

Makna lemah pada mereka yang menjadi korban bencana alam adalah lemah secara finansial. Tidak hanya lemah secara finansial tapi juga fisik dan psikis. Mereka juga kehilangan tempat tinggal, harta atau bahkan semuanya dikarekan bencana alam.

Korban bencana alam juga merupakan bagian dari kaum dhuafa dan mereka menempati urutan penerima infak sunah yang terakhir dari gologan kaum dhuafa lainnya.

Pendapat Kedua

KH. Endang Mintarja mengemukakan pendapat siapa yang berhak diperioritaskan dalam urutan penerima infak. Pertanyaan ini masih tentang menjawab pertanya Bapak Nuryaman.

Menurut beliau, mereka yang berhak atas infaq ialah dengan urutan penerima infak yang dimulai dari mereka yang paling dekat dengan kita dalam hubungan kekerabatannya.

Mereka yang memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita ialah kedua orang tua, saudara terdekat, saudara terjauh, tetangga, teman sejawat, kerabat suadara dan selanjutnya.

Pendapat KH. Endang Mintarja berlandaskan dengan kalamullah yang telah terdapat pada ayat 36 surah an-Nisa ayat ke 36 dan surah al-Baqarah ayat 177 surat tersebut.

Pendapat Ketiga

Sayid Sabiq menyebutkan urutan penerima infak dalam buku yang ditulisnya yang berjudul Fiqhus Sunnah. Mereka dimulai dari istri dan anak anaknya, keluarganya dan semua kerabatnya.

Beliau juga menyatakan bahwa tidak ada infaq untuk orang lain selama harta tersebut masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, istri dan anak-anaknya serta keluarganya.

Sedangkan urutan penerima infak dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim ialah dimulai dari diri kita sendiri. Apalagi jika dalam keadaan miskin atau membutuhkan infaq tersebut.

Dan kelebihan dari harta tersebut boleh diinfaqkan kepada keluarga. Urutan penerima infak yang disabdakan Rasulullah tersebut juga terdapat dalam hadits yang diiriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dalam redaksi yang sedikit berbeda.

Baca juga: Keutamaan Infaq Subuh Langsung Mendapatkan Doa Mustajab Oleh Dua Malaikat

Dalam hadits tersebut, Rasulullah mengecam laki-laki yang meninggalkan tanggungannya, yaitu orang tua, anak istri dan sanak saudara serta keluarganya.

Demikian penjelasan kami mengenai urutan penerima infak. Semoga ke-3 pendapat yang telah kami paparkan memberi pemahaman kepada siapa yang terlebih dahulu atau menjadi perioritas kita untuk mereka penerima infaq kita nantinya.

Dan kita bisa mengeluarkan infaq kepada mereka yang berhak sesuai dengan urutan penerima infaq yang telah kami jelaskan di atas. Semoga bermanfaat.

Wallahu ‘Alam………

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?