Kriteria Fakir Miskin dan Orang Kurang Mampu Menurut Para Ulama’

Rumahinfaq.or.id – Golongan fakir miskin menempati posisi pertama, baik dalam golongan yang berhak menerima shodaqoh, maupun penerima infaq. Begitu pula untuk golongan yang berhaq atas zakat atau mustahiq. Lalu, apa saja kriteria fakir miskin?

Iya, kriteria fakir miskin inilah yang menjadi sebab golongan fakir miskin berada di golongan pertama dalam penerimaan zakat, infaq dan shodaqoh.

kriteria fakir miskin
kriteria fakir miskin

Kriteria fakir miskin menurut islam ialah seseorang dikatakan kafir ketika ia tidak mampu memenuhi setengah dari kebutuhannya dan ia akan dikatakan miskin ketika hanya dapat memenuhi setengah dari kebutuhannya.

Berikut ini akan kami paparkan lebih jelas tentang fakir dan miskin serta kriteria fakir miskin;

Pengertian Fakir dan Miskin

Kata faqr adalah asal kata fakir yang memiliki arti ‘tulang punggung’. Maksud dari arti ‘tulang punggung’ ialah yang memiliki beban yang dipikulnya. Sedangkan kata sakana adalah asal kata untuk miskin yang berarti ‘diam’ atau ‘tenang’.

Secara istilah memberi pengertian fakir sebagai seseorang yang tidak bisa memenuhi setengah bagian dari kebutuhan pokok dan tanggungannya atau keluarganya (Istri dan anak), seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Begitulah penjelasan yang tertera di halaman ke-341 dalam tafsirnya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.

Adapun miskin ialah seseorang yang hanya bisa mencukupi setengah bagian atau lebih dari kebutuhan pokok dan tanggungannya atau keluarganya. Akan tetapi, tidak bisa memnuhi keseluruhan kebutuhannya.

Dalam Al Mausu’ah al- fiqhiyyah | hlm. 199 jilid ke-32, dalam segi bahasa, al-ghaniy atau kaya merupakan lawan kata dari Fakirsecara, yaitu orang memiliki harta yang sedikit.

Sedangkan secara bahasa al-harakah atau bergerak menjadi lawan kata dari miskin, yaitu ketika sesuatu kehilangan gerakannya akan diam.

Baca juga: Mengupas Siapa Saja yang Termasuk Dalam Golongan Mustahiq Zakat

Fakir dan Miskin dalam al-Quran dan al-Hadits

Definisi kata fakir dan miskin dalam al-Quran bisa dipaparkan secara jelas, walau kedua kata tersebut memiliki beragam asal atau akar kata. Kata faqr ada lebih dari 14 kali dalam al-Quran dan untuk kata miskin ada lebih dari 33 kali.

Sedangkan dalam al-hadits, seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dan Hakim dari Abu Hurairah Radhiyyallahu ‘Anhu. Dalam hadits tersebut disampaikan bahwa Rasulullah meminta perlindungan kepada Allah dari kafakiran.

Sifat atau kondisi ‘fakir’ merupakan suatu kondisi yang sangat jelek, sebab dalam hadits tersebut disejajarkan dengan kekufuran, kekurangan, dan kehinaan. Hal demikian membuktikan ketakutan sahabat mulia Ali bin Abi Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu.

Katakutan beliau yang ditangkap dari kalimat yang beliau ucapkan, yaitu kecemasan dan ketakutan beliau akan kefakiran seseorang yang membawanya pada kekufuran.

Baca juga: Hukum Zakat Fitrah Sesuai Dalil Menurut Agama yang Benar

Hadis-hadis tentang Kriteria Fakir dan Miskin

1. Dalam hadits yang tercantum dalam Shahih al-Jamis Shaghir, no.7251 dikatakan bahwa zakat tidaklah halal untuk golongan orang kaya dan berkemampuan atau memiliki kemampuan untuk mendapatkan harta.
2. Shahih sunan Abi Dawud no.14281 adalah sebuah hadits yang memberitakan bahwa “tidak ada jatah” untuk orang kaya dan mereka yang masih kuat atau memiliki kekuatan dalam mencari penghasilan.
3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Musli atau yang biasa disebut dengan Muttafaq ‘alaih atau Shahihain dikatakan tentang pengertian miskin menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Miskin menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ialah orang yang tidak mempunyai harta yang memenuhi kebutuhannya dan ia tidak meminta-minta kepada orang lain.

Kriteria Fakir dan Miskin

Pendiri Pondok Pesantren Al Bahjah Buya Yahya berpendapat tentang kriteria fakir miskin, yaitu Seseorang dapat dikatakan fakir apabila mempunyai kebutuhan pokok yang lebih besar dari pendapatannya.

Contoh seseorang dapat dikatakan fakir ialah ketika ia memiliki kebutuhan hidup sebesar 40-50 ribu perharinya, akan tetapi ia hanya memiliki pendapatan sebesar 15-25 ribu perharinya.

Tidak hanya itu, contoh lain juga ialah seseorang yang memiliki harta sebanyak 25 juts, tapi memiliki kondisi yang tidak bisa melakukan pekerjaan lagi atau cacat fisik atau sakit dan lain sebagainya.

Ia tetap dikatakan fakir sebab harta tersebut tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dengan sisa usia yang dimilikinya.

Demikian dikategorikan fakir sebab kebutuhan pokok fakir ialah dimulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan. Dikatakan fakir juga ketika mengalami kemiskinan multidimensi atau tidak dapat berpendidikan formal.

Kriteria tersebut sesuai dengan pengertian fakir dan miskin yang dijelaskan dalam Dalam sebuah pembahasan tentang “Redefinisi Mustahiq Zakat Kontemporer” dalam Sidang Tarjih Fikih Keagamaan Tingkat Nasional Tahun 2019 di Banda Aceh.

Buya Yahya juga memberi pendapat tentang kriteria seseorang dapat dikatakan miskin yaitu orang yang mempunyai penghasilan tapi, belum bisa memenuhi keseluruhan dari kebutuhan pokoknya. Walau pada dasarnya ia dapat menyelesaikan pendidikan formalnya.

Sebagai contoh seseorang yang berpendapatakn 500.00 ribu perbulan, tapi jumlah kebutuhan pokok yang harus dipenuhinya lebih besar dari itu.

Kriteria menurut BPS

Ada 14 Kriteria Miskin yang sesuai dengan Badan Pusat Statistik atau BPS. Kriteria-kriteria tersebut adalam usaha Pemerintah Desa dalam menjalankan Roda Pemerintahnya.

Masyaratkat dapat dikatakn miskin dalam Rumah Tannganya ketika memenuhi setidaknya 9 kriteria di bawah ini;

1. Memiliki bangunan tempat tinggal dengan luas lantai kurang dari 8 m2 per orangnya.
2. Lantai tempat tinggalnya berasal dari jenis tanah atau bamboo atau kayu murahan.
3. Dinding tempat tinggal berasal dari jenis bamboo atau rumbia atau kayu berkualitas rendah atau tembok tanpa diplester.
4. Fasilitas wc atau tempat buang air besar dimiliki bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Tidak menggunakan listrik sebagai sumber penerangan di rumah tangganya.
6. Air minumnya berasal dari sumur.
7. Kayu bakar atau arang atau minyak tanah adalah bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-harinya.
8. Daging atau susu atau ayam hanya dapat dikonsumsi 1 kali dalam seminggu.
9. Dalam setahun hanya membeli satu stel pakaian.
10. Sehari hanya bisa atau sanggup maka sebanyak 1-2 kali.
11. Tidak memiliki kesanggupan dalam membiayai pengobatan di puskesmas atau poliklinik.
12 Kepala rumah tangga berpenghasilan dari; pertanian dengan luas laham 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh perkebunan, buruh bangunan atau pekerjaaan lainnya dengan syarat dengan penghasilan dibawah Rp.600.000,- setiap bulannya.
13. Kepala rumah tangga memiliki riwayat pendidikan tertinggi aialah tidak sekolah atau tidak tamat SD atau tamat SD.
14. Tidak mempunyai tabungan atau barang yang bisa dijual dengan harga Rp. 500.ooo,-. Barang tersebut dapat berupa emas, sepeda motor, ternak, dan atau barang lainnya.

Sedangkan ditetapkan dalam Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu menurut Surat Keputusan Menteri Sosial RI No.146/HUK/2013 bahwa kategori fakir miskin dan orang tidak mampu dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu;

1. Fakir miskin dan 0rang tidak mampu teregister
2. Fakir miskin dan 0rang tidak mampu belum teregister

Demikian pemaparan kami mengenai kriteria fakir miskin, semoga bermanfaat. Wallahu ‘Alam.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?