Memahami Hadits tentang Anjuran Berinfaq Dalam Islam

Rumahinfaq.or.id – Dalam mengerjakan suatu amalan, tentu dibutuhkan dasar hukum. Baik itu dari al-Quran maupun dari as-Sunah, begitu pula dalam berinfaq. Ada beberapa hadits anjuran berinfaq selain dari perintah infaq yang tercantum dalam al-Quran.

Jika al-Quran berisi kalamullah atau berisi firman Allah, maka hadits secara bahasa ialah segala ucapan, perbuatan, keadaan atau prilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassalam.

hadits anjuran berinfaq
hadits anjuran berinfaq

Sedangkan makna hadits secara terminologis ialah sebagai ucapan dan segala perbuatan yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassalam.

Bisa dikatakan juga, bahwa hadits ialah penjelasan dari suatu perkara dalam al-Quran yang makna secara umumnya belum dipahami. Menurut Jumhur Ulama Hadits adalah dasar hukum ke-2 setelah al-Quran dalam islam.

Pengertian hadits di atas memberi definisi yang mengkategorikan hadits menjadi 3, yaitu Qauliyah atau perkataan Rasulullah, Fi’liyah atau perbuatan Rasulullah, dan ahwaliyah atau segala keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassalam.

Fungsi hadits

Fungsi hadits terhadap Al Quran ada 4 macam yang ditetapkan oleh ulama Atsar, yaitu sebagai berikut:

1. Bayan at-Taqrir atau bayat at-Ta’kid atau bayan at-Isbat ialah fungsi hadits terhadap al-Quran untuk menetapkan dan memperkuat keterangan yang ada dalam al-Quran.

2. Bayan at-Tafsir ialah fungsi hadits sebagai pemberi rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat yang masih mujmal atau samar, persyaratan untuk ayat-ayat yang masih mutlak dan penentuan khusus untuk ayat-ayat yang masih umum dalam al-Quran.

3. Bayan at-Tasyri atau bayan za’id ala al kitab al-karim ialah mewujudkan suatu hukum yang tidak ditemukan dalam al-Quran.

4. Bayan an-Nasakh merupakan penghapusan suatu ketentuan yang sudah ada karena datang dalil berikutnya, inilah yang disebut dengan dalil sayara’.

Jika, al-Quran dari segi wurud atau tsubut memiliki sifat Qath’i atau pasti, maka hadits bersifat relative atau zhanni al wurud selain hadits yang berstatus berturut-turut atau mutawatir.

Kita sudah mengetahui pengertian dan fungsi dari hadits, sekarang kita akan mendalami hadits anjuran berinfaq. Dorongan untuk berinfaq karena didasarkan pada keutamaan-keutamaan yang dimiliki dalam beinfaq.

Hadits tentang keutamaan berinfaq ini yang memberi dorongan kepada kita untuk berinfaq. Iya, dengan adanya hadits anjuran beirnfaq akan memotivasi kita untuk meraih keutamaan-keutamaan yang disampaikan oleh Rasulullah ataupun yang sudah ada dalam al-Quranul Karim.

Tapi kita tidak akan membahas hadits-hadits tentang keutamaan berinfaq, tapi kita akan membahasa hadits anjuran berinfaq atau hadits yang memerintahkan kita untuk menyambut seruan atas anjuran Rasulullah Shallallahu ;Alaihi Wassalam.

Baca juga: Keutamaan Infaq Subuh Langsung Mendapatkan Doa Mustajab Oleh Dua Malaikat

Dalil tentang Anjuran Berinfaq

Kita akan mempelajari 2 dalil saja yang berbicara tentang anjuran berinfaq, yaitu dalil dari al-Quran dan as-Sunah;

Ayat tentang Anjuran Beinfaq
1. QS. al-Baqarah ; 261

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat ke-261. Ayat tersebut adalah dalil yang menganjurkan untuk memperbanyak infaq.

Anjuran ini berisi kabar gembira tentang balasan berlipatganda dari infaq yang akan dilakukan.

Bahkan balasan yang dijanjikan dalam ayat ke-261 surah ke-2 dalam al-Quran tersebut ialah 700 kali lipat dari infaq yang dikeluarkan. Tentu saja, balasan tersebut dapat diraih jika didasari karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.

Dalam tafsiran ayat ini, Ibnu Katsir Rahimahullah berpendapat tentang penggandaan pahala untuk orang-orang yang melakukan infaq.

Syarat yang dipenuhi untuk bisa meraih penggandaan pahala tersebut ialah infaq yang dilakukan tersebut berada di jalan Allah dan ikhlas karena hanya mencari ridho Allah semata.

Penggandaan pahala tersebut menurut Ibnu Katsir ialah dengan minimal 10 kali lipat atau hingga 700 kali lipat.

Penggandaan pahala tersebut akan didapatkan selama yang dilakukan dalam bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain itu juga untuk berjihad melawan orang kafir, untuk membeli kudan dan senjata dalam persiapan jihad, dan masih banyak lagi bentuk infaq yang akan membawa kita pada penggandaan pahala hingga 700 kali.

Penggandaan pahala tersebut adalah cara Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk orang-oranh yang berinfaq sebagaimana halnya dalam menanam benih di tanah yang subur yang ketika musim panen dapat memetik buah yang banyak.

Penyataan Ibnu nKatsir ini telah direkam dalam Tafsir Ibn Katsir 1/691).

2. QS ath-Thalaq ; 07

Anjuran untuk berinfaq dalam ayat 07 surah ath-Thalaq berisi tertuju untuk semua kaum muslimn agar melakukan infaq yang sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Anjuran beinfaq dalam ayat tersebut juga berlaku untuk orang-orang sempit dalam mendapatkan rezeki, yang dalam artian tidak hanya berlaku kepada golongan yang bercukupan.

Kondisi ekonomi munfiq tidak mempengaruhi infaq yang akan dilakukan selama infaq tersebut memenuhi ketentuan-ketentua yang berlaku dalam berinfaq.
3. QS al-Ma’arij ; 24-25

Dalil tentang anjuran berinfaq yang terkandung dalam ayat ke 24-25 surah ke-70 dalam al-Quran tersebut ialah firman Allah yang memberitahukan akan hak mereka atas harta yang dimiliki yang harus dipenuhi.

Siapa saja mereka yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Ada 2 jenis orang yang berhak atas harta yang dimiliki oleh munfiq, yaitu ma’lum dan mahrum. Kedua golongan orang ini memiliki bagian yang sudah ditentukan dalam harta yang dimiliki oleh munfiq dan harus diberikan sebagai bentuk melakukan anjuran dari Rasulullah karena Allah tentunya.

Ma’lum ialah mereka yang termasuk dari golongan miskin yang meminta, sedangkan mahrum ialah golongan orang yang tidak memiliki apa-apa dan mereka tidak mau meminta infaq walaupun dalam harta tersebut ada hak mereka yang diberikan.

4. QS Muhammad ; 38

Infaq pada dasarnya tidaklah mengurangi harta yang dimiliki oleh seseorang. Hal itu akan berbeda jika orang tersebut bakhil, sebab tanpa disadarinya bahwa sifat bakhilnya tersebut telah merugikan dirinya sendiri.

Mengapa bisa demikian?

Itu pertanyaan yang pasti muncul ketika kita membahas hal ini. Tentu saja, akan berlaku demikian ketika seseorang memiliki sifat bakhil dalam dirinya.

Maka, harta yang dimilikinnya yang tidak yang keluarkan untuk infaq di jalan Allah akan dibenjakannya untuk hal-hal yang sia-sia dan bahkan untuk hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Peringatan ini telah Allah ingatkan dalam ayat ke-38 surah Muhammad atau surah ke-47 dalam al-Quran. Peringatan agar seseorang tidak bakhil dan anjuran untuk memperbanyakn dalam berinfaq.

Ketika seseorang melakukan apa yang difirmankan oleh Allah dalam ayat tersebut, maka ia telah berbuat baik untuk dirinya sendiri, walau pada dasarnya harta yang dimilikinya pindah kepada orang lain secara lahir.

Baca juga: Rukun dan syarat infaq yang harus diketahui

Hadits tentang Anjuran Beinfaq

1. HR Muslim 4/2273

Harta yang dimiliki oleh seseorang ialah harta harta yang telah ia pakai atau gunakan saja. iya, hanya sejumlah dan sebatas itu saja yang berhak ia klaim sebagai hartanya, selain itu bukanlah hartanya walau secara dzohirnya ia miliki.

Dalam hadits anjuran berinfaq yang tercantum dalam Muslim 4/2273 berisi keterangan apa yang berhak disebut harta bagi seseorang. Apa saja itu?

Ada 3 hal yang itu adalah harta kita, yaitu; apa yang dishodaqohkan dan sudah diberikan, apa yang dimakan dan sudah habis, dan apa yang dipakai dan sudah usang. Itulah 3 hal yang ialah harta yang berhak kita katakan “ini hartaku”.

Walau demikian, harta tidaklah mampu dihabiskan selama kita hidup di dunia ini, maka cara terbaik untuk menghabiskannya ialah dengan cara mengikuti hadits anjuran beinfaq di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

2. HR Muslim 8/211

Bersebab harta kita di dunia tidak akan mampu dihabiskan, maka apakah harta tersebut akan dibawa ketika kita meninggal dunia?

Tentu saja jawabannya TIDAK, harta di dunia ini tidak akan dibawa ke alam ke alam barzakh atau tidak akan ikut dikubur bersama denga jasad kita kelak. Sebab, ada hadits anjuran berinfaq yang berbicara tentang hal itu.

Hadits tersebut diriwayatkan dari Anas ibn Malik. Beliau berkata bahwa Rasulullah telah menyampaikan bahwa ada 3 hal yang akan dibawa oleh seseorang untuk mengiringnya ke liang kuburnya.

Ketiga hal tersebut akan dibawa pulang ad 2 dan 1 lagi akan tetap bersama dengan dirinya. Ketiga hal yang akan mengiringinya ke liang kubur ialah keluarga, harta dan amal perbuatannya.

2 hal yang akan kembali ke rumahnya ialah keluarga dan hartanya, sedangkan satu hal yang tertinggal bersamanya di liang kubur dan tetap tinggal untuk menemaninya ialah amal perbuatannya.

Berita tersebut telah disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan tercantum dalam Muslim 8/211.

3. HR al-Bukhari 2/907

Hadits anjuran berinfaq yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dikatakan bahwasanya Rasulullah mengingatkan muslimah secara khusus dan semua umat islam secara umum.

Peringatan tersebut berisi untuk tidak meremehkan infaq yang dilakukan oleh orang lain. Peringata tersebut tercantum dalam al-Bukhari 2/907.

Bahkan peringatan tegas Rasulullah dalam hadits anjuran beirnfaq tersebut memberi ibarat dengan istilah ‘ujung kaki kambing’ sebagai bentuk jumlah infaq yang dilakukan oleh orang lain yang tidak boleh diremehkan.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?