Memahami Istilah Sanad dan Isnad dalam Hadits

Rumahinfaq.or.id – Dalam hadits ada beberapa istilah yang merupakan bagian dari hadits itu sendiri, seperti sanad dan isnad. Secara sekilah kedua istilah tersebut mirip, akan tetapi pada kenyataanya dua istilah tersebut berbeda.

Contoh sanad dan isnad secara umum seperti dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Maka Abu Hurairah adalah contoh sanad dan isnad dalam hadits tersebut.

sanad dan isnad
sanad dan isnad

Untuk lebih memahami istilah sanad dan isnad, berikut ini kami paparkan penjelasannya;

Pengertian Sanad dan Isnad

Sanad

Sanad secara bahasa berarti sandaran, sementara arti sanad secara istilah memiliki arti suatu ajlan yang memiliki hubungan pada matan hadits.

Sanad jug dapat dikatakan sebagai rantai yang berisi periwayat hadits yang menyambung sampai pada matan atau isi hadits. Sanad akan bersambung sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Isnad

Pengertian isnad dapat diartikan sama dengan perngertian sanad. Namun dikatakan bahwa isnad ialah suatu hadits yang diriwayatkan dari orang yang mengatakannya atau menyampaikannya. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Sanad dan isnad merupakan rangkaian urutan orang-orang yang mengamil riwayat hadits dari kalangan sahabat hingga sampai pada umat Islam. Sedangkan isnad ialah orang yang memberi keterangan mengenai urutan rangkaian suatu hadits.

Al-qasimi mengutip pengertian sanad dan isnad menurut ath-Thibi yang memiliki arti yang berdekatan atau sama.

Sedangkan Ibn Jama’ah berpendapat bahwa ulama muhadditsin yang berpandangan bahwa kedua istilah tersebut sama dan bisa digunakan secara bergantian.

Akan tetapi jika yang dimaksud adalah lafadz isnad berarti tidak dapat ditasniahkan begitu juga tidak dijama’kan. Sedangkan jika yang dimaksudkannya adalah lafadz sanad, maka ditasniahkan dan juga dijama’kan.

Seperti bahwa dalam sebuah hadits dikatakanlah memiliki isnadāni atau 2 sanad. Dan suatu hadits dikatakan memiliki beberapa sanad atau asanīd.

Sehingga dapat dikatakan bahwa kata al-isnad atau al-sanad ialah raf’u al-hadits ila qa’ilih atau azwu al-hadits ila qa’ilih atau mengembalikan hadits tersebut ke asala hadits yaitu orang yang mengatakannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Oleh karena itu, jika Isnad dalam keilmuan hadits memiliki arti sama dengan sanad, yang berarti seluruh periwayat hadits tersebut yang dimulai dari orang yang mencatat hadits tersebut sampai kepada sumber hadits tersebut.

Atau bisa dikatakan sebagai istilah para periwayat hadits tersebut. Dengan pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa adanya sanad menentukkan derajat suatu hadits. Dari sini juga al-Hadits dappat dipahami melalui sanadnya, yaitu;

  1. Keutuhan sanad hadits
  2. Jumlah sanad
  3. Periwayat hadits yang terakhir

Contoh Sanad dan dalam hadits

Berikut ini contoh Sanad dalam Hadits yang dikutip dari buku yang ditulis Mahmudah Mastur dengan judul Seri Ensiklopedia Anak Muslim: Mengenal Al-Qur’an dan Hadits, yaitu:

1. Dalam sebuah yang berbicara tentang kenikmatan bagi orang yang masuk syurga. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Radhiyyallahu ‘Anhu.

Dalam hadits di atas dapat dilihat bahwa sanadnya ialah Abu Hurairah Radhiyyallahu ‘Anhu sebagai orang yang mendengar hadits tersbeut dari Rasulullah.

2. Bukhari meriwayatkan hadits dari Muhammad, Muhammad mendapatkan hadits yang berisi tentang perintah siwak ketika akan melaksanakan shalat. Hadits tersebut diterima dari Abu Salamah, dan dari Abu Hurairah.

Sanad dalam hadits tersebut ialah Muhammad, Abu Salamah dan Abu Hurairah Radhiyyallahu ‘Anhum.

Jenis-jenis Sanad dan Isnad

Sanad dan isnad terbagi ke dalam 2 jenis, yaitu sebagai berikut;

1. Sanad ‘Aliy

Jika suatu hadits memiliki sanad yang memiliki jumlah perawinya lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Jadi hadits ini ditentukan oleh jumlah rawinya, jika rawi suatu sanad sedikit akan dikalahkan oleh yang jumlah rawinya banyak.

Sanad ‘aliy terbagi menjadi 2, yaitu;

1. Sanad ‘aliy mutlaq

Sanad ‘aliy yang bersifat mutlaq ialah suatu sanad yang memiliki rawi sampai kepada Rasulullah tapi lebih sedikit dibandingkan dengan sanad yang lain.

Jika sanad tersebut termasuk sanad yang shahih, maka ditempatkan lebih tinggi dari tingkatan sanad ‘aliy.

2. Sanad ‘aliy nisbi

Sanad ‘aliy nisbi adalah sanad yang memiliki jumlah rawi yang lebih sedikit dibandingkan dengan imam ahli hadits, seperti seprti ibnu juraij, malik, as’syafii, bukhori, muslim dan lain sebagainya.

Tetap dikatakan sebagai sanad ‘aliy nisbi walaupun jumlah rawi yang dimiliki setelah mereka lebih banyak hingga sampai kepada Rasululloh.

2. Sanad Nazil

Sanad yang memiliki jumlah rawi yang lebih banyak dibadingkan dengan sanad yang lain.

Sehingga hadits yang memilik sanad yang lebih banyak akan tertolak jika bertemu dengan sanad yang sama dan memiliki rawi yang lebih sedikit, inilah hadits dengan sanad nazil.

Istilah dalam Sanad dan Sanad

Ada 2 istilah yang berhubungan dengan sanad, yaitu musnad dan musnig. Berikut ini penjelasannya;

Musnad

Secara bahasa kata musnad berasal dari bentuk isim maf’ul dari kata asnada, yang memiliki arti sesuatu yang diberi sandaran kepada sesuatu yang lain. Sedangkan secara terminologi, ada 3 pengertian yang dikandung dalam musnad, yaitu;

Pertama

Hadits yang memiliki sanad yang bersambung dari periwayat hadits seperti contoh Bukhari sampai kepada akhir sanad hadits tersebut. Akhir sanad dalam pengertian musnad ini adalah para sahabat, seperti Anas ibnu Malik Radhiyyallahu ‘Anhu.

Hadits yang termasuk dari pengertian ini adalah hadis Marfu’, hadits Mawquf dan hadits Maqthu’. Akan tetapi, ulama hadits menggunakn istilah ini untuk hadits yang datang dari Rasulullah bukan dari selain Rasulullah.

Dalam hal ini al-Hakim dan para ahli Hadis berpendapat dengan pendapat yang shahih bahwa istilah musnad hanya digunakan pada Hadis Marfu’ dan Muttashil.

Kedua

Istilah musnad digunakan untuk himpunan hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh sahabat, seperti sahabat Abu Bakar, Umar dan sahabat yang lainnya. Contoh himpunan ini adalah Musnad Imam Ahmad.

Ketiga:

Pengertian ketiga inn merujuk pada huruf mim dalam kata sanad atau disebut dengan istilah mashdar mim, sehingga dalam hal ini pengertian musnad sama dengan pengertian sanad dan isnad.

Musnid

Musnid merupakan bentuk isim fa’il dari kata bahasa Arab asnada-yusnidu, yang memiliki arti sebagai orang yang melakukan sandaran sesuatu kepada orang lain. Sedangkan istilah Ilmu Hadits memberi pengertian untuk musnid, sebagai berikut;

Musnid diartikan dalam buku Qawa’id fi ‘Ulurn al-Hadits sebagai periwayat atau perawi hadits yang meriwayatkan suatu hadits dengan menyebut sanad hadits tersebut, atau bisa dikatakan dengan meriwayatkan saja hadits tersebut.

Baik, dengan pengetahuan atau tidak adanya pengetahuan tengant sanad hadits tersebut. begitulah pengertian secara istilah ilmu hadits dalam buku karya Zhafar al-Tahanawi, hlm.26 dan Mahmud al-Thahhan Taisir, hlm.16.

Jenis-Jenis Hadits berdasarkan Ujung Sanad dan Isnad

Dalam buku yang ditulis oleh Arbain Nurdin dan Ahmad Fajar Shodik yang berjudul Studi Hadis Teori dan Aplikasi ada beberapa hadits yang dikategorikan berdasarkan ujung dari sanad, yaitu sebagai berikut;

Hadits Marfu

Hadits yang memiliki ujung sanad langsung kepada Rasulullah, maka disebut dengan hadits mafu. Hadits marfu dibagai menjadi 6 macam, yaitu sebagai berikut

  1. Marfu Qauly Hakiki
  2. Marfu Qauli Hukmi
  3. Marfu Fi’li Hakiki
  4. Marfu Fi’i Hukmu
  5. Marfu Taqririyah
  6. Marfu Taqiririyah Hukmi

Contoh hadits marfu;

Hadits yang diriwayatkan dari cerita Abdullah bin Yusuf dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al Araj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda tentang menyucikan benjana yang sudah dijilati anjing sebanyak 7 kali.

Hadits di atas termasuk hadits marfu sebab ujung sanadnya adalah Rasulullah.

Hadits Mauquf

Jika suatu hadits yang memiliki ujung sanad sampai kepada sabahabt Rasulullah, nmaka disebut dengan hadits mauquf. Sebab itulah, hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil, keculai mendapatkan petunjuk yang menjadikannya hadits marfu.

Seperti contoh sebuah contoh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata untuk berbicara yang sesuai dengan pengetahuan manusia itu sendiri.

Karena hadits tersebut sanadnya berhenti sampai pada Ali ibnu Abi Thalib, maka hadits tersebut termasuk ke dalam hadits mauquf.

Hadits Maqthu

Jenis hadits yang terakhir ini ialah hadits maqthu ialah hadits yang memiliki sandaran hanya sampai pada perkataan tabiin. Hadits ini juga bisa dari orang-orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah.

Hadits maqthu dapat berupa dari perkataan maupun perbuatan. Seperti contoh hadits yang ada dalam Hilyatul Auliya yang merupakan perkataan dari Ibrahim bin Muhammad Al Muntasyir, yang merupakan tabiin.

Demikianlah pemaparan kami mengenai sanad dan isnad. Semoga artikel ini bermanfat.

Wallahu ‘Alam

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?