Memenuhi 8 Syarat dan 4 Rukun dalam Melakukan Hibah

Rumahinfaq.or.id – Di Indonesia, istilah hadiah sudah sangat lumrah di dengar yaitu sesuatu yang seseorang berikan kepada orang lain. Dalam Islam, hadiah juga disebut dengan hibah. Sehingga dalam pelaksanaannya memiliki syarat dan rukun hibah yang harus dipenuhi.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa syarat dan rukun suatu amalan akan menentukan amalan tersebut sah sesuai dengan ajaran dalam Islam, begitu pula dengan syarat dan rukun hibah.

syarat dan rukun hibah
syarat dan rukun hibah

Lalu, apa saja sih syarat dan rukun hibah itu???

Berikut ini ulasan tentang hibah, selamat membaca!!!

A. Pengertian Hibah

Sebagaimana warisan yang merupakan pemberian seseorang kepada orang lain, maka hibah juga demikian. Secara etimologi hibah berarti pemberian, namun keduanya memiliki waktu pelaksanaan yang berbeda.

Jika warisan diberikan ketika orang tersebut sudah meninggal. Maka hibah adalah pemberian seseorang kepada orang lain yang dilakukan ketika orang memberi atau pemberi tersebut masih hidup.

Sehingga suatu akad yang membuat seseorang untuk memiliki sesuatu tanpa adanya penggati yang dilakukan secara sukarela dan dilakukan ketika masih hidup adalah pengertian hibah secara terminology atau istilah.

Dalam sebuah kutipan yang diambil dari situs Ahwal Syakhsiyah (Program Studi Hukum Keluarga) UII bahwa kata bahasa Arab الهِبَةُ adalah kata dasar untuk hibah yang memiliki arti sebagai suatu pemberian secara sukarela untuk orang lain.

Hibah juga memiliki pengertian yang dilihat dari segi adat ialah pemindahan kepemilikan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain terhadap suatu benda yang dipergunakan.

Benda tersebut bisa berupa benda yang jelada maupun benda yang tidak jelas yang dikarenakan adanya halangan dalam mengetahuinya. Benda tersebut juga harus berwujud dan dapat diserahkan kepada penerimanya.

Barang yang digunakan dalam hibah ialah barang yang diserahkan ketika masih hidup dan tanpa melalui pengganti.

Adapun pengertian hibah yang tercantum dalam Pasal 1666 dan Pasal 1667 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (BW) adalah pemberian yang dilakukan secara cuma-cuma oleh seseorang kepada orang lain dan tidak pemberian tersebut tidak dapat ditarik kembali terhadap suatu barang.

Baik barang tersebut bergerak atau barang yang tidak bergerak yang dilakukan oleh si pemberi ketika ia masih hidup.

Dari pemaram pengertian di atas, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam hibah, yaitu;

  1. Hibah dilakukan dengan harta yang berwujud
  2. Penyerahan hibah dilakukan bukan karena adanya kewajiban atasnya.
  3. Pemberi dan penerima hibah adalah orang yang masih hidup.
  4. Hibah dilakukan tanpa adanya pengganti.
  5. Sesuai dengan adat bahwa barang yang dhibahkan dikatakan hibah dengan lafadz hibah atau tamlik.

B. Syarat-syarat Hibah

Berikut ini adalah syarat-syarat hibah secara umum, yaitu;

1. Hibah untuk barang yang bergerak dilakukan dengan Akta Notaris (Pasal 1687 BW), sedangkan barang yang tidak bergerak seperti tanah dan juga bangunan dilakukan dengan Akta PPAT (Pasal 37 ayat 1 PP No. 24 Tahun 1997).
2. Hibah yang dilakukan harus bersifat cuma-cuma atau gratis atau tanpa bayaran.
3. Hibah dilakukan ketika pemberi masih hidup.
4. Secara hukum, hibah diberika oleh orang yang berakal.
5. Barang yang dihibahkan dapat berupa barang yang bergerak sepertisaham, obligasi, deposito, dan juga hak atas pungutan sewa atau barang yang tidak bergerak tanah atau rumah, kapal beratnya lebih dari dua puluh ton, dan juga sebagainya.
6. Barang yang akan dihibahkan harus berwujud atau ada.
7. Adanya penerima hibah, baik yang sudah lahir atau yang sudah ada dalam kandungan sebagaimana pasal 1679.
8. Berdasarkan pasal 1666 BW, hibah yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali.

Adapun syarat-syarat hibah dalam Islam ada 3, yaitu pemberi hibah, penerima hibah dan barang/benda hibah.

Berikut ini penjelasannya;

a. Syarat-syarat bagi pemberi hibah

  • Barang yang akan dihibahkan adalah kepimilikan penuh dari si pemberi hibah.
  • Pemberi hibah adalah orang yang haknya tidak dibatasi.
  • Pemberi hibah adalah orang yang berakal.
  • Tidak ada paksa pada pemberi hibah dalam memberikan hibahnya.

b. Syarat-syarat penerima hibah

Penerima hibah tidak dapat digantikan, yang berarti pada saat hibah dilakukan penerima hibah harus benar-benar ada. Baik itu sudah lahir atau sudah ada dalam kandungan.

Dari pernyataan di atas dapat diikatakan bahwa penerima hibah tidak harus orang dewasa dan yang memiliki mental yang baik. Sehingga mereka yang anak-anak, kurang akal dapat menjadi penerima hibah.

c. Syarat-Syarat barang/benda hibah

Berikut ini syarat-syarat barang/benda hibah, yaitu;

• Barang/benda yang akan dihibahkan benar adanya atau wujudnya.
• Barang/benda yang akan dihibahkan memiliki nilai.
• Barang/benda yang akan dihibahkan bisa dimiliki zatnya, peredarannya diterima dan kepemilikannya bisa dialihkan.
• Barang/benda yang akan dihibahkan bisa dipisahkan dan diserahkan untuk penerima hibah.

C. Rukun Hibah

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa ijab dan qabul adalah rukun hibah, sedangkan dalam kitab al-Mabsuth ditambahkan qadlohu.

Adapun Jumhur Ulama berpendapat tentang rukun hibah yang 4, yaitu

1. Wahib

Wahib atau pemberi hibah ialah orang yang memberikan barang yang dimilikinya kepada orang lain.

Ada pengecualian yaitu pemberian yang dilakukan oleh orang yang dalam keadaan sakit dan ia meninggal, maka hibahnya ialah sepertiga dari harta yang ditinggalkannya.

2. Mauhub lahu

Mauhub lahu atau penerima hibah ialah seluruh umat manusia.

3. Mauhub

Mauhub adalah barang/benda yang akan dihibahkan. Dalam hal ini, ulama sepakat bahwa seseorang dapat menghibahkan seluruh hartanya.

4. Sighat

Sighat dalam hibah ialah ijab dan qobul atau segala sesuatu yang bisa disebut dengan ijab dan qobul.

D. Macam-macam Hibah

Karena kita sedang membahas hibah atau yang biasa dikenal dengan pemberian, maka ada bebera macam dari pemberian tersebut, yaitus ebagain berikut;

1. Al-Hibah

Menurut Imam Taqiy al-Din Abi Bakr Ibnu Muhammad al-Husaini bahwa hibah ialah kepemilikan tanpa penggantian. Pengertian tersebut tercantum dalam kitab Kifayat al-Akhyar.

2. Shadaqah

Shodaqoh ialah pemberian seseorang secara sukarela kepada orang lain dengan mengharapkan pahala dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Wasiat

Hasbi Ash-Siddiqi berpendapat bahwa wasiat adalah suatu pemberian seseorang yang diberikan kepada orang lain yang akadnya dilakukan ketika masih hidup dan penyerahannya dilakukan ketika si pemberi sudah meninggal dunia.

Akan tetapi, tidak semua wasiat yang diberikan oleh seseorang tersebut berarti pemberian.

E. Pelaksanaan Hibah

Dalam ketentuan syari’at Islam, pelaksanaan hibah bisa dirumuskan dalam 4 permasalahan, yaitu sebagai berikut :

  • Hibah dilakukan semasa hidup, baik itu bagi pemberi hibah maupun penyerahan barang/benda yang akan dihibahkan.
  • Ketika hibah dilakukan, maka hak kepemilikan atas benda/barang yang dihibahkan akan berpindah.
  • Pernyataan harus ada dalam melakukan hibah, terutama pernyataan dari pemberi hibah itu sendiri.
  • Disunahkan dalam pelaksaan hibah dilakukan di depan banyak pat menghindari sesuatu yang tidak diinginkan dikemudian harinya seperti sengketa antara pemberi dan penerima hibah.

Demikianlah pemaparan kami mengenai hibah beserta dengan syarat dan rukun hibah.

Semoga Artikel ini bermanfaat ini untuk anda.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?