Menafkahi Keluarga dan Termasuk Sedekah Kepada istri Adalah yang Paling Utama

Rumahinfaq.or.id – Ketika seorang lelaki menjadikan seorang wanita sebagai pendamping hidupnya, maka dia memiliki tanggung jawab untuk menafkahi istrinya tersebut. menafkahi istri termasuk sedekah kepada istri loh!

Benar, ketika seorang suami menunaikan kewajibannya dalam menafkahi istrinya, maka tanpa dirinya sadari bahwa dirinya sudah memberi sedekah kepada istrinya sendiri.

Sedekah Kepada istri
Sedekah Kepada istri

Di dalam Al-Quran dan as-Sunnah banyak sekali menjelaskan dalil sedekah kepada istri yaitu ketika seorang suami menafkahi istrinya. Selain daripada bentuk tanggung jawab, hal itu juga termasuk sedekah yang afdhal.

Kenapa menafkahi istri dikatakan sebagai tanggung jawab?

Yah, karena setelah seorang suami mengucapkan kalimat sakral di hadapan Allah dan ayah sang istri, maka pada saat itu sebuah tanggung jawab yang dipinkul ayah dari istrinya berpindah kepadanya.

Nafkah, baik nafkah lahir atau nafkah batin adalah salah satu tanggung jawab sang suami yang telah dia ambil dari ayah istrinya. Menjaga dan menghormatinya juga kewajiban sang suami atas istrinya.

Begitu pula dengan kewajiban taat sang istri yang berpindah kepada sang suami, sebab setelah menikah ridho suami adalah syurga bagi sang istri. Walau taat kepada kedua orang tuanya masih ada keharusan.

Tapi, tidak sedikit dari para suami yang mengetahui bahwa memberi atau menafkahi kepada sang istri adalah sedekah, bahkan sedekah ini termasuk sedekah yang paling utama atau afdhal.

Sedekah kepada istri tentu memiliki nilai pahala di sisi Allah Subahnahu Wa Ta’ala. Dan tidak sedikit dalil yang menjelaskan keutamaan tersebut, baik di dalam al-Quran maupun di dalam as-Sunnah.

Baca juga: Keutamaan Sedekah dan Doa Malaikat untuk Orang yang Sedekah Subuh

Dalil tentang Menafkahi Istri

Al-Quran dan hadits Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wassalam, maka tidak heran lagi jika pada pembahasan sekarang kita merujuk kepada 2 pedoman kita dalam kehidupan ini.

Begitu juga dalam membahas tentang menafkahi istri sebagai bagian dari sedekah. Maka, berikut ini adalah penjelasannya;

1. Al-Quran

Allah berfiman dengan sangat jelas bahwasanya seorang suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya. Perintah tersebut sudah tercantum di salah satu ayatnya di dalam al-Quran.

Lebih tepatnya di ayat ke-34 surah an-Nisa, yaitu;

ٱلرِّجَالُ قَوَّ ٰ⁠مُونَ عَلَى ٱلنِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضࣲ وَبِمَاۤ أَنفَقُوا۟ مِنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡۚ

Suami adalah pelindung untuk perempuan atau istri, sebab Allah sudah melebihkan kepada sebagian laki-laki atas perempuan, dan karena laki-laki juga sudah memberikan nafkah kepada istrinya dari harta yang dimilikinya.

Di dalam ayat di atas, Allah menyatakan keutamaan laki-laki atas nafkah yang ia berikan kepada sang istri.

Nafkah yang diberikan sang suami kepada sang istri ini termasuk bagian dari sedekah, yaitu sedekah kepada istri dan sedekah ini juga termasuk sedekah yang afdhal atau sedekah yang utama.

2. Hadits

Jika di dalam al-Quran adalah firman Ilahi, maka hadits adalah kalimat yang disampaikan oleh Manusia yang Paling Jujur. Siapa lagi jika bukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Berikut ini haditsnya;

إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نفقَةً يحتَسبُها فَهِي لَهُ صدقَةٌ

Jika seorang lelaki atau suami memberikan nafkah kepada keluarganya (istrinya), maka yang demikian itu dapat dihitung sebagai bagian dari sebuah sedekah.

Hadits di atas merupakan hadits yang diriwayatkan dari sahabat ibnu mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim atau yang juga digambung dalam istilah Muttafaqun ‘Alaih.

Seorang Ulama yang bernama Syaikh bin baz Rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini.

Beliau menyatakan bahwa hadits ini memaparakan tentang bagaimana keutamaan yang didapatkan suami dalam menafkahi istri dan anak-anaknya serta motivasi-motivasinya.

Terutamaan nafkah wajib, setelah nafkah wajib ditunaikan maka setelahnya nafkah lainnya. Maka semua itu akan menjadi suatu amalan yang bernilai sedekah dan mendapatkan pahala dari Allah.

Tidak sampai di situ, Syaikh juga menyatakan bahwa menafkahi keluarganya mempunyai nilai tambahan. Sebab dia akan mendapatkan balasan atas 2 hal tersebut.

Apa saja itu?

Sang suami akan dibalas disebabkan kewajiban yang sudah ditunaikannya dan atas niat baiknya, yaitu menghalangi istri dan anak-anaknya dari hal meminta-minta.

Tenyata penjelasan beliau di atas semakna dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘Alaih).

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ ، وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا ، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِى فِى امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya bila ahli waris yang kamu tinggalkan dalam keadaan kaya, maka hal itu lebih baik daripada mereka dalam keadaan miskin. Sebab dengan kemiskinan mereka itu menjadikan mereka meminta-minta kepada manusia lainnya.

Dan ketahuilah, bahwa apa yang kamu beri sebagai nafkah dalam mencari keridhoan Allah akan dibalas dengan pahal. Begitu juga dengan apa yang kamu beri makan untuk istrimu.

Kaya dalam hadits di atas ialah juga bermakna hidup dalam keadaan berkecukupan dan tidak mengalami kesusahan dalam masalah perekonomiannya.

Maka dapat dikatakan bahwa hidup perekonomian istri dan anak-anaknya yang dianjurkan dalam keadaan berkecukupan setelah sang suami meninggal.

Lalu, bukankah akan menjadi lebih utama keadaan tersebut berlaku semasa sang suami hidup???

Dari 3 dalil di atas, dapat dilihat bahwasanya sang suami sebagai kepala keluarga dan tulang punggung keluarga memiliki tanggung jawab dalam memastikan keluarganya dalam keadaan ekonomi yang berkecukupan.

Dan akan menjadi dosa baginya ketika menelantarkan keluarga, istri dan anak-anaknya. Dan hal ini juga sebagai salah satu poin penting dalam kesakinahan mawadah warrohmahnya sebuah keluarga.

Buya Yahya juga ikut memberi pendapat dalam masalah kewajiban suami dalam menafkahi istri, dan anak-anaknya.

Bahkan Buya mengatakan suami yang pelit kepada istrinya sebagai “suami kurang ajar”. Demikianlah petikan kalimat belaiu sebagaimana yang dilansir dari mantrasukabumi.com.

Untuk lebih lengkpanya, video beliau dapat ditemukan di channel YouTube Al Bahjah TV, yang diupload pada tanggal 8 September 2021.

Suami yang pelit kepada istri, anak-anaknya dan keluarganya tapi dermawan kepada teman-temannya adalah suami yang tidak mengetahui keutamaan menfakahi istrinya sebagai bagaian dari sedekah selain kewajibannya.

Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa dinar yang diberikan kepada istri lebih dan paling besar pahalanya dibandingkan dinar yang ia keluarkan di jalan Allah, untuk membebaskan budak.

Tidak hanya kedua amalan yang kita ketahui memiliki balasan pahala yang banyak, tapi juga sedekah yang diberikan untuk kaum miskin dan untuk keluarganya.

Semua amalan tersebut lebih utama ketika seorang suami mengeluarkan dinar yang dimilikinyan untuk menafkahi istrinya, bahkan pahalanya adalah pahala yang paling besar dari 4 amalan yang sudah disebutkan tadi.

Maka untuk para suami perlu diperhatikan bahwa menafkahi istri memiliki keutamaan dan pahala yang besar, bukan sekedar sebuah tanggung jawab yang kalian ambil dari ayahnya.

Tapi juga memiliki nilai pahala sedekah di sisi Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Bahkan termasuk ke dalam sedekah yang paling utama dan utama, yang tentunya memiliki banyak keutamaan.

Demikianlah pemaparan kami mengenai menafkahi istri adalah bagian dari sedekah kepada istri yang memiliki pahala yang besar dan termasuk sedekah yang afdhal atau sedekah yang utama.

Semoga artikel ini bermanfaat

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?