Mengkaji Syarat-Syarat Akad dalam Islam yang Wajib Dipelajari

Rumahinfaq.or.id – Sekarang kita akan membahas sahabat dekat rukun akad, yaitu syarat akad. Rukun dan syarat akad adalah pembahasan yang sangat penting untuk dibahas.

Sebagaimana pentingnya rukun akad dalam mu’amalah, begitu juga dengan syarat akadnya. Sudah tidak heran lagi, bahwa pembahasan tentang rukun sangatlah penting dalam suatu amalan.

syarat akad
syarat akad

Sehingga tidak jarang para ulama fiqh mengkaji rukun dan syarat akad dalam Islam dalam Kajian fiqh mu’amalah. Karena adanya hukum akibat dari akad terhadap suatu mu’amalah.

Sehingga ketika mu’amalah itu dilakukan tanpa adanya akad, maka batallah mu’amalah tersebut. Seperti dalam mu’amalah sewa-menyewa, jika dalam jual-beli tidak akad, maka jual-beli tersebut tidaklah sah atau batal.

Begitu juga ketika syarat ataupun rukun akad yang tidak terpenuhi, maka akad tersebut tidak dapat dilakukan dan sewa-menyewa tersebut pun tidak terlaksana sebagaimana yang diharapkan.

Pada pembahasan ini, kita akan membahas syarat dari akad itu sendiri. Sehingga pembahasan sekarang dan pembahasan sebelumnya yaitu rukun akad masih memiliki kaitan.

Baca juga: Hukum Infaq Online dan Sedekah Online yang Wajib Dipelajari Orang Muslim

Berikut ini pemaparan tentang rukun akad

Dalam Islam, syarat akad sudah ditentukan dan ditetapkan, sehingga ketika akad akan dilaksanakan, maka syarat-syarat tersebut haruslah dipenuhi. Syarat-syarat dalam akad sudah ditentukan dan ditetapkan oleh syara’.

Syarat dalam berakad terbagi menjadi 3 tahap, yaitu sebagaii berikut ini;

Syarat Terjadinya Akad

Segala sesuatu yang harus dipenuhi atau telah syariatkan dalam syariat yang akan menyebabkan terjadinya akad dapat dikatakan sebagai syarat yang berada dalam tahap terjadinya akad.

Syarat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu syarat umum dan syarat khusus. Berikut pemaparannya;

Syarat Umum

Syarat umum atau syarat-syarat yang bersifat umum adalah syarat-syarat yang berlaku dalam berbagai akad dan wajib untuk menyempurnakan wujudnya dalam pelaksanaannya.

Bisa dikatakan juga bahwa syarat-syarat umum adalah syarat yang berlaku dalam semua akad yang dilakukan.

Berikut ini syarat-syarat umum yang harus dipenuhi oleh kedua pihak yang akan melakukan akad sebelum terjadinya akad antara keduanya, yaitu:

1. Kedua orang atau pihak yang akan melakukan akad adalah orang yang cakap dalam bertindak atau bisa disebut orang tersebut sudah ahli dalam melakukan akad,

Tidak sah akad, apabila dilakukan oleh orang yang tidak cakap dalam bertindak. Bisa juga dikatakan bahwa orang tersebut tidak berakal.

Orang yang tidak cakap dalam bertindak dapat dicontohkan dicontohkan dengan orang gila.

Termasuk juga mahjur atau orang yang yang berada di bawah pengampuan dikarenaka memiliki sifat boros, dan yang lain sebagainya.

2. Objek akad haruslah sesuatu yang dapat menerima hukumnya

3. Akad yang akan dilakukan haruslah sesuai syara’ atau diperbolehkan oleh syara’, akad tersebut juga harus dilakukan oleh orang yang memiliki hak untuk melakukan akadnya.

Walau orang tersebut bukan bagian dari aqid atau orang yang memiliki barang yang menjadi objek akadnya.

4. Akad yang dilakukan bukanlah akad yang dilarang oleh syara’, seperti akad dalam jual beli mulasamah.

5. Akad yang akan dilakukan ialah akad yang bisa memberi faidah. Sehingga akad tidak akan sah apabila rahn atau seseuatu yang dinggap sebagai imbalan dalam amanah.

6. Akad yang dilakukan akan dikatakan batal ketika seseoranga yang sudah melakukan ijabnya menarik kembali ijabnya sebelum adanya qabul dari pihak lainnya.

Ijab dan qabul dalam akad memiliki sifat bersambung. Dalam arti jika kedua pihak yang melakukan akad sudah berpisah sebelum qabul dari pihak satunya, maka ijabnya batal atau tidak sah.

Baca juga: Wasiat dan Surat Wasiat, Keduanya Sangat Penting untuk Kita Ketahui Dalam Islam!

A. Syarat khusus

Syarat khusus atau syarat-syarat yag bersifat khusus adalah syarat-syarat yang hanya berlaku dalam beberapa akad atau sebagian tertentu akad dan wajib untuk menyempurnakan wajudnya dalam pelaksanaannya.

Syarat yang bersifat khusus dapat juga disebut denga syarat idhafi atau syarat tambahan yang harus ada selain dari syarat-syarat umum dalam pelaksanaan suatu akad.

Syarat khusus dapat dicontohkan dengan adanya syarat dalam pernikahan yang harus menghadirkan saksi. Saksi pernikahan ini adalah bentuk dari syarat idhafiI.

Bisa juga dikatakan bahwa syarat-syarat di atas dapat memberi fungsi terhadap unsur-unsur yang membentuk akad dalam membentuk akad.

Syarat-syarat yang memiliki kaitan dengan rukun akad ini disebut terbentuknya akad atau syuruth al-in’iqadd. Sehingga syarat-syarat terbentuk atau terjadinya akd di atas dapat disimpukan sebagai berikut;

1. Tamyiz,
2. At-ta’adud adalah orang-orang atau pihak yang melakukan akad,
3. Kesesuaian terhadap kesepakkatan atau ijab dan qabul akad,
4. Majlis akad yang bersatu,
5. Objek akad bisa diserahkan,
6. Adanya objek akad tertentu atau bisa ditetapkan,
7. Objek akan merupkan sesuatu yang dapat ditransaksikan atau memiliki nilai transaksinya,
8. Memiliki tujuan yang tidak bertentangan dengan syara’ dalam Islam.

Syarat Pelaksanaan Akad

Syarat yang harus dipenuhi setelah syarat-syarat yang enyebabkan akad terjadi dipenuhi dalam akad ialah syarat dalam pelaksanaan akad atau syarat dalam melakukan akad yang harapkan oleh kedua pihak.

Sehingga dalam pelaksanaan atau melakukan akadnya, ada dua syarat yang harus dipeuhi oleh orang atau pihak yang berakad, yaitu;

1. Kepemilikan

Syarat dalam pelaksanaan atau melakukan akad yang pertama yang harus dipenuhi ialah kepemilikan. Kepemilikan dalam hal inilah ialah kepemilikan terhadap objek dalam berakad.

Maksudnya ialah kepemilkan terhadap sesuatu yang dipunyai atau dimiliki oleh seseorang.

Dengan adanya hak kepemilikan tersebut memberi dirinya kebebasan dalam melakukan apa pun terhadap apa yang dipunyainya atau dimilikinya.

Tentu saja, hak kepimilikan terhadapa sesuatu atau apa yang menjadi objek dalam berakad harus sesuatu dengan syara’ yang sudah ditetapkan dan ditentukan dalam syari’at Islam.

2. Kekuasaan

Selanjutnya syarat kedua dalam pelaksanaan atau melakukan akad yang harus dipenuhi ialah kekuasaan. Syarat kekuasaan ini lebih mengarah kepada orang yang akan melakukan akad atau aqid.

Syarat kekuasaan yang harus dimiliki oleh aqid dalam hal ini ialah kemampuan seseorang dalam melakukan tasharruf yang sesuatu dengan syara’ yang sudah ditetapkan dan tentukan dalam syari’at Islam.

Syarat Kepastian Akad

Syarat terakhir dalam berakad ialah luzum atau kepastian dalam berakad.atau kepastian dalam berakad.

Luzum atau kepastian dalam melakukan akad ini ialah sesuatu yang akan menjadikan akad yang sedang dilaksanakan terjadi atau tidak terjadinya.

Seperti dalam melakukan akad jual-beli ,yang terdapat beberapa khiyar yaitu khiyar syarat, khiyar aib, dan lain-lain. Jika ada beberapa khiyar yang menyebabkan akad akan betal, maka akad jual-beli batal atau dikembalikan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika kepastian dalam berakad atau luzum nampak, maka akad yang sedang dilaksanakan atau dilakukan oleh orang atau kedua pihak dinyatakan batal atau dikembalikan kepad pihak yang melakukan ijab.

Demikianlah ketiga tahap sarat akad yang harus dipenuhi oleh orang atau pihak yang akan melakukan akad. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika syarat-syarat di atas terpenuhi, maka akan ada akad dari kedua orang atau pihak.

Sebaliknya jika syarat-syarat di atas tidak dipenuhi, maka akad yang diinginkan oleh kedua orang atau pihak tidak ada.

Demikian pemaparan kami mengenai syarat-syarat akad. Semoga artikel ini memberi manfaat kepada kita, ya #sahabatrumi.

Wallahi ‘Alam…………

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?