Mengupas Siapa Saja yang Termasuk Dalam Golongan Mustahiq Zakat

Jika muzakki adalah istilah untuk orang yang mengeluarkan zakat, maka mustahiq adalah orang yang menerima zakat tersebut atau golongan yang berhak atas zakat yang dikeluarkan oleh muzakki.

Golongan mustahiq juga bisa disebut dengan golongan ashnaf, yaitu orang-orang yang berhak atas zakat yang dikeluarkan oleh muzakki. Jika ada beberapa syarat untuk bisa menjadi muzakki yang harus dipenuhi, maka beda halnya dengan mustahiq.

Mustahiq
Mustahiq

Sebab, bukan syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang, tapi lebih kepada siapa saja mereka yang termasuk dalam golongan mustahiq atas zakat. beberapa golongan inilah yang memiliki beberapa kriteria yang memberi mereka ha katas harta zakat.

Siapa sajakah mereka itu?

Berikut ini akan kami paparkan penjelasan mengenai siapa saja yang termasuk dalam golongan mustahiq.

Golongan Mustahiq

Ketentuan yang mengatur siapa saja yang berhak menerima harta zakat atau golongan mustahiq sudah tercantum jelas oleh kalamullah surah ke-9 dalam al-Quran ayat ke-60 surah tersebut.

Dalam ayat mustahiq zakat yaitu ayat ke-60 surah at-Taubah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menfirmankan siapa saya yang berhak atas harta zakat atau orang yang termasuk dalam golongan mustahiq.

Siapa saja yang termasuk dalam golongan mustahiq tersebut yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampaikan. Berikut penjelasannya;

Golongan Pertama : Fakir

Mereka yang termasuk dalam golongan pertama ini adalah mereka yang tidak memiliki apapun atau tidak memiliki kemampuan yang menyebabkan ketidakmampuan mereka dalam memenuhi keperluan pokok mereka dalam hidup mereka.

Golongan yang sudah dipaparkan di atas disebut dengan golongan fakir. Golongan ini biasanya tidak memiliki kekuatan atau tenaga dan harta dalam mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Sebagaimana dikutip dari alhasanah, fakir ialah mereka yang tidak memiliki harta atau pekerjaan yang layak yang dapat menutupi kebutuhan-kebutuhan mereka, baik kebutuhan papan, pangan maupun sandang.

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, golongan yang disebut fakir ialah mereka yang tidak mempunyai harta benda atau pekerjaan sebagai mata pencahariannya. Keadaan yang dialaminya terjadi dalam kurung waktu tertentu atau secara terus-menerus.

Golongan Kedua : Miskin

Jika fakir tidak memiliki harta dan juga tenaga sehingga tidak mampu dalam mencukupi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Maka beda halnya dengan golongan miskin.

Golongan ini memiliki harta dan pekerjaan tapi masih belum bisa menutupi kebutuhan pokok mereka atau bisa dikatakan bahwa mereka masih hidup dalam kesusahan untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-harinya dna keluarganya.

Alhasanah melansir pengertian miskin adalah orang yang memiliki pekerjaan tapi belum bisa mencukupi penghidupannya dan keluarganya dan orang yang masih dalam keadaan kekurangan.

Catatan_Bicara tentang golongan yang di dalamnya terdapat kamu fakir dan miskin, maka Zakat Global berpendapat bahwa kedua golongan ini terdiri dari orang yang tidak memiliki harta atau penghasilan dalam memenuhi kebutuhan pokok untuk dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya.

Ketidakmampuan tersebut ialah ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.

Pembahasan ini juga mengambil pendapat dari Jumhur Ulama bahwa fakir dan miskin adalah 2 golongan tapi berada dalam 1 macam. Maksud dari pernyataan tersebut ialah orang yang dalam keadaan kekurangan akan kebutuhan mereka.

Kaum fakir dan miskin adalah golongan yang utama yang berhak menerima harta zakat. namun, yang menjadikan golongan ini special adalah cara penerimaan zakat untuk golongan ini dapat ditempuh dengan 2 cara pemberian.

Dua cara pemberian tersebut ialah pemberian zakat yang dilakukan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan hidup atau pokok sehari-harinya. Cara tersebut adalah cari pertama dari 2 cara yang ditawarkan.

Sedangkan cara kedua bisa ditempuh dengan memberikan zakat yang memiliki tujuan agar bisa digunakan sebagai modal awal dalam berwirausaha.

Golongan Ketiga : Amil

Golongan ketiga yang berhak menerima zakat yang disebutkan dalam ayat ke-60 surah at-Taubah ialah Amil. Istilah amil ini juga dikenal sebagai pengurus zakat, yaitu orang yang bertugas dalam pengelolaan zakat.

Pengelolaan tersebut berkaitan dengan pengumpulan zakat dari para muzakki dan pembagian zakat tersebut kepada mereka yang berhak menerima zakat tersebut. Seperti biasanya, al-Amil akan dipilih oleh Imam Masjid.

Selain memiliki tugas dalam pengelolaan zakat, amil juga termasuk dari 8 golongan yang berhak menerima zakat.

Baca juga: Hukum Zakat Fitrah Sesuai Dalil Menurut Agama yang Benar

Pemilihan amil zakat ini harus memenuhi beberapa syarat, yaitu;

1. Seorang Muslim mukalaf
2. Adil
3. Seorang laki-laki
4. Aqil baligh
5. Merdeka dalam artian tercukupi
6. Memiliki pengelihatan yang baik dan sehat
7. Memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai hukum agama islam dan lebih khususnya zakat.

Seorang amil bisa berasal dari golongan orang miskin ataupun kaya. Walaupun amil disebutkan pada urutan ketiga dalam ayat ke-60 surah at-Taubah tersebut, tetapi amil berhak menerima zakatnya setelah 7 golongan lainnya sudah menerima zakat mereka.

Golongan Keempat : Mualaf

Seseorang bisa menjadi Muslim karena terlahir dari kedua orang tua yang Muslim atau karena dilembutkan oleh Allah hatinya untuk masuk agama islam atau yang biasa disebut dengan istilah mualaf.

Istilah mualaf ini merujuk kepada orang yang baru memeluk agama islam dan masih belum memiliki memantapan dari segi iman dan taqwa, sehingga masih membutuhkan bantuan dalam penyesuaian kondisi hidupnya.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin menjadi seorang Muslim atau ingin menjadi mualaf. Berikut ini syarat-syarat tersebut;

1. Seseorang yang akan masuk agama islam haruslah melakukan khitan. Syarat ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no.257.
2. Syarat wajib seseorang ketika hendak menjadi seorang mualaf adalah mengucapkan dua kalimat syahadat (أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ)
3. Dalam sebuah hadits shahih yang tercantum dalam hadits Abu Dawud no.255 dikatakan bahwa syarat seseorang yang sudah disebut mualaf atau menjadi Muslim adalah menyegerakan untuk mandi besar.
4. Ketika sudah menjadi seorang Muslim, maka mualaf wajib menjalankan kewajiban dalam rukun islam.

Sedangkan mualaf terbagi menjadi 3 jenis, yaitu; orang yang memeluk agama islam dan hatinya masih dalam keadaan bimbang, maka ia harus diberi saran dan masukan dan mendapatkan zakat.

Jenis mualaf yang kedua ialah mereka yang masuk islam dan bersungguh belajar dan menjauhi segala larangan dalam agama islam serta mematuhi semua perintahnya, mereka ini akan mendapatkan zakat. Mualaf yang adil dan masih perlu bimbingan adalah jenis mualaf yang terakhir.

Dalam sebuah halaman umma bahwa penerima zakat dari golongan ini, yaitu mualaf terbagi menjadi 4 golongan kecil. Keempat golongan tersebut ialah;

1. Golongan yang baru masuk islam
2. Golongan yang masih lemah aqidahnya
3. Golongan yang aqidahnya dalam keadaan rentan
4. Pemilik kuasanya yang berasal dari non-Muslim dan dihindari keburukannya.

Pemberian zakat pada golongan ini bertujuan untuk mempekuat keimanan dan ketakwaan mereka dalam masuk agama islam. Selain itu, juga bertujuan untuk memperkuat tali persaudaraan dalam peranan sosialnya.

Golongan Kelima : Riqab

Golongan ini juga disebut dengan dzul riqab, yaitu golongan yang terdiri dari budak yang berkeinginan untuk memerdekakan diri dari tuannya. Sehingga mereka berhak atas zakat yang dikeluarkan oleh muzakki.

Kata riqab berasal dari jamak kata raqabah. Kata ini secara mutlak digunakan untuk hamba sahaya. Sehingga, riqab memiliki makna hamba sahaya yang dimiliki oleh seseorang.

Dalam hal ini, riqab yang dimaksud ialah yang mencakup mukatab, yaitu hamba sahaya atau budak yang memiliki akad dengan tuan atau majikannya dalam hal menebus kebebasan dirinya atau bisa juga yang ghairu mukatab.

Membebaskan atau memerdekakan budak dari tuannya tersebut bertujuan untuk memberi kehidupan yang layak untuk hamba sahaya tersebut. Sehingga, untuk penebusan tersebut membutuhkan uang.

Zakat bagi golongan dzur riqab ini juga termasuk di dalamnya pembebesan seorang muslim yang berada dalam tawanan orang-orang jahat.

Zakat tersebut juga berlaku untuk pembebasan seorang muslim yang tidak mampu membayar denda atau diat dan harus diperjara karena ketidakmampuannya tersebut.

Zakat untuk golongan ini bermula pada awal islam sehingga MUI atau Majelis Ulama Indonesia di Provinsi DKI Jakarta menghapus golongan riqab dari daftar mustahiq zakat di Indonesia.

Hal ini bertolak dengan kenyataan bahwa riqab atau budak dapat disamakan dengan istilah human trafficking. Human trafficking adalah istilah untuk perdagangan manusia atau orang.

Human trafficking berhak atas zakat dan termasuk dari golongan ini atau dari 8 golongan mustahiq yang berhak menerima zakat.

Golongan Keenam : Gharimin

Orang-orang yang mempunyai utang dalam mencukupi kebutuhan hidupnya yang halal, tapi dia tidak memiliki kesanggupan dalam mebayar hutangnya tersebut. Golongan ini disebut dengan gharimin dan berhak menerima zakat.

Penyataan tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud mengenai kehalalan zakat untuk orang kaya kecuali disebabkan oleh lima sebab.

Kelima sebab tersebut ialah berjihad di jalan Allah, amil zakat, orang yang berhutang, mereka yang dengan hartanya membeli sedekah dan mereka yang diberi hadiah oleh orang miskin dari apa yang disedekahkannya.

Sedangkan secara bahasa gharimin atau gharim ialah mereka yang dalam keadaan terlilit hutang. Dari pengertian tersebut, golongan ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu;

• Golongan yang dalam keadaan terlilit hutang untuk kemaslahatam atau untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Golongan ini biasa disebut ghârim limaslahati nafsihi.
• Golongan yang dalam keadaan terlilit hutang yang digunakan untuk mendamaikan manusia, suku atau kabilah. Golongan ini disebut juga dengan ghârim li ishlâhi dzatil bain.

Kedua jenis al-ghârim di atas dapat menerima zakat dengan adanya penambahan syarat. Menurut penjelasan Ustadz Abu Riyadl Nurcholis bin Mursidi syarat tambahan pada ghârim linafsihi golongan tersebut harus dalam keadaan miskin.

Sedangkan syarat tambahan untuk ghârim li ishlâhi dzatil bain ialah dibolehkannya memberi zakat walau dalam golongan ini dalam keadaan kaya.

Golongan ini, untuk boleh mendapatkan zakat harus memenuhi beberapa syarat, yaitu;

1. Beragama Islam atau Muslim
2. Fakir
3. Hutang yang dimiliki bukan untuk maksiat
4. Tidak ada kemampuan dalam mendapatkan penghasilan lagi
5. Bukan keturan kerabata Rasulullah yaitu keturunan Bani Hasyim
6. Hutang yang dimiliki sudah jatu tempo pembayaran
7. Gharim bukanlah bagian dari orang yang berada dalam tanggungan muzakki.

Hal yang penting untuk diingat ialah, zakat tersebut diberikan untuk golongan gharim dengan ukuran hutang yang harus dilunasinya. Sebagaimana pernyataan Ibnu Qudamah Rahimahullah dan Ibnu Rusyd Rahimahullah.

Jika dalam diri seseorang terkumpul 2 dari 8 golongan yang berhak menerima zakat, maka ia mendapatkan 2 bagian zakat. sebagaimana yang sering terjadi yaitu terkumpulnya fakir dan gharim.

Penerima zakat keduanya ialah atas kemiskinan atau kefakirannya dan untuk menlunasi hutang yang ia miliki.

Golongan Ketujuh : Fi Sabilillah

Fi sabililah ialah golongan yang bertujuan untuk kepentingan agama islam dan berada di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Golongan ini juga disebut dengan istilah Al-Muhajidin atau Pejuang Islam.

Mereka mendapatkan hak untuk menerima zakat disebabkan karena mereka telah berjuang di jalan Allah demi membela dan mempertahankan agama Islam dan kaum muslim tanpa upah dan imbalan.

Penjuangan tersebut untuk Muslim mendapatkan hak beribadah dan hak asasi manusia serta perjuangan untuk memperjuangkan kebebasan beribadah bagi seluruh umat Muslim.

Karena perjuangannya tersebutlah yang menjadikan mereka salah satu dari 8 golongan yang berhak menerima zakat atau mustahiq.

Golongan Kedelapan : Ibnu Sabil

Golongan terakhir sebagaimana firman Allah dalam ayat 60 surah at-Taubah tersebut adalah Ibnu sabil. Ibnu sabil ialah golongan yang dalam keadaan melakukan perjalanan dan kehabisan bekal.

Perjalan tersebut haruslah untuk sebuh tujuan kebaikan, baru mereka mendapatkan hak untuk menerima zakat. Seperti penuntut ilmu, mencari akidah dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada beberapa syarat yang ditetapkan untuk golongan ini, yaitu;

1. Muslim dan tidak termasuk dalam golongan Ahlul Bait
2. Tidak ada lagi harta yang lain yang ada di tangannya
3. Bukan dalam melakukan perjalann yang bertujuan maksiat
4. Tidak adanya pihak yang mau memberinya pinjaman

Demikianlah pemaparan kami mengenai mustahiq, semoga bermanfaat untuk anda dan kita. Wallahu ‘Alam



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?