Mualaf yang Bagaimana sih, yang Berhak Menerima Zakat?

Rumahinfaq.or.id – Seseorang dapat dikatakan sebagai Muslim dikarenakan oleh dua hal, karena lahir dari kedua orang tua yang Muslim atau dikarenakan Allah yang melembutkan hatinya untuk menjadi Mualaf.

Iya, istilah mualaf dimiliki oleh mereka yang baru saja masuk Islam disebabkan oleh alasan tadi, dilembutkan oleh Allah untuk menerima Islam dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mualaf
Mualaf

Mualaf lebih mudah dipahamai sebagai seorang non-Muslim yang baru masuk Islam. Dengan kata lain, dirinya memiliki agama selain Islam sebelum menjadikan Islam sebagai agama dan keyakinannya.

Lalu, apakah bayi yang baru lahir juga bisa mendapatkan sebutan Mualaf?

Jawabannya Tidak!!!

Kenapa??

Sebab, semua bayi yang baru lahir masih dalam keadaan suci atau biasa disebut dengan istilah fitrah. Dengan kata lain, bayi yang baru lahir dalam keadaan masih beragama Islam dan masih memiliki keimanan.

Nah, keimanan dan agamanya itu akan berubah ketika orang tuanya yang menjadikannya demikian.

Maksudnya, bayi lahir masih dalam keadaan Muslim dan memiliki keimanan, Tapi yang menjadikan dia memuluk agama Yahudi, Nasrani, Kristen, Hindu, dan lain sebagainya ialah kedua orang tuanya.

Yah, walau tidak dapat dikatakan bahwa yang mempengaruhi sang anak untuk memeluk agama tertentu hanya orang taunya saja. tapi demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda.

Hadits yang menggambarkan keadaan anak yang masih fitrah ketika dilahirkan dan memeluk agama tertentu dikarenakan adanya pengaruh kedua orangnya tersebut tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhari.

Anak yang baru lahir sudah pasti Muslim dong??

Betul banget!!!

Jika anak itu lahir dari kedua orang tua yang Muslim, maka InsyaAllah dia sudah Muslim dan tidak perlu untuk menjadi mualaf lagi. berbeda dengan anak yang lahir dari kedua orang tau yang bukan Muslim.

Maksudnya, anak itu kemungkinan besar akan mengikuti agama kedua orang tuanya yang bukan Muslim. Sehingga ketika suatu saat dirinya ingin memeluk agama islam, maka ia akan menjadi Mualaf.

Jika berbicara tentang Mualaf, maka kita juga akan disungguhkan dengan banyak kisah, seperti kisah Mualafnya para Sahabat, kisah Mualaf para pemuka agama, kisah Mualaf pendeta dan kisah-kisah Mualaf lainnya.

Kisah Mualaf para sahabat yang menggemparkan kaum kafir Qurays pada saat itu ialah Mualafnya Sahabat Umar ibnu Kaththab dan Hamzah ibnu Abu Muthalib.

Dari kisah-kisah inilah kita mengambil banyak pelajaran dan bahkan tidak sedikit dari kisah seseorang dari non-Muslim menjadi Mualaf atau masuk Islam.

Pengertian Mualaf

Mualaf tidak hanya sebuah istilah untuk mereka yang baru masuk Islam dan diluruhkan oleh Allah hatinya untuk menerima Islam sebagai agamanya.

Tapi lebih tepatnya juga merujuk kepada mereka yang masih belum mempunyai kemantapan dari sisi iman dan taqwanya. Keadaan inilah yang menjadikan mualaf menjadi salah satu golongan yang berhak menerima zakat.

Alasan golongan Mualaf menerima atau berhak untuk menerima harta zakat ialah mereka masih memerlukan bantuan untuk menyesuaikan kondisinya di kehidupannya yang baru, seperti dirinya yang baru memeluk Islam.

Syarat-syarat menjadi Mualaf

Walaupun masuk Islam tidak memungut biaya, akan tetapi ada beberapa hal yang harus diketahui dan dilaksanakan untuk menjadi Mualaf.

Apakah hal-hal tersebut harus dipenuhi?

Tentu saja harus!!!

Bahkan ketika seseorang yang ingin masuk Islam harus memenuhi 4 hal yang disebut dengan syarat. Jika tidak, maka tidak diterima “Keislaman”nya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada 4 syarat yang harus dipenuhi ketika ingin memeluk agama Islam. Berikut ini ke-4 syarat-syarat tersebut, yaitu;

1. Melakukan khitan

Dalam Islam seorang anak dianjurkan untuk melakukan khitan, baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Walaupun cara pengkhitanan anak laki-laki dan anak perempuan berbeda.

Anjuran itu hanya ada dalam Islam. Nah, ketika seorang non-Muslim ingin masukk Islam, maka diharuskan untuk melakukan khitan terlebih dahulu.

Perintah ini tidak sembarang perintah, sebab perintah ini langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan perintah ini tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dengan no.257.

2. Mengucapkan dua kalimat syahadat

Tahukan apa itu dua kalimat syahadat?

Iya, kalimat syahadat ialah kesaksian seorang Muslim atas dua hal dalam keimanan dan keyakinannya. Yaitu kesaksiannya akan Allah sebagai Tuhan yang diimaninya dan tidak ada Tuhan yang berhak untuk diimani selain Allah.

Yang kedua ialah kesaksian seorang hamba untuk Sang Kekasih Rasulullah, kesaksian kepada Rasulullah ini meliputi keimanan kepada Rasulullah sebagai utusan Allah, keRasulannya, apa aja yang dibawanya sebagai wahyu atau mujizat.

Baik itu perkataan, perbuatan, perintah, larangan, atau bahkan kepada sesuatu yang dikabarkannya akan suatu hal yang akan terjadi dikemudian harinya.

Singkatnya, semua hal yang ada padanya, harus kita imani dan yakinin. Sebab, yang ada padanya adalaha kesempurnaannya dari Allah sebagai Manusia atau bisa dikatakan bahwa beliau adalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini.

Dalam artian, apa yang ada padanya adalah baik dan wajib kita yakini itu. Sehingga, ketika seseorang tidak melakukan kesaksiannya bahwa Muhammad ibnu Abdulullah sebagai Rasulullah, maka dia kufur.

Lalu, apa lafadz dua kalimat syahadat itu?

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّه

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Kalimat di atas tidak asing lagi, sebab kita sering mendengarnya ketika waktu shalat tiba dan suara adzan menggema memanggil seluruh Muslim di dunia ini untuk menunaikan kewajiban shalat.

Bahkan kita mendengarnya 5 waktu dalam sehari semalam, yaitu shubuh, zuhur, ashar, magribh, dan isya.

Selain syarat untuk menjadi Mualaf, dua kalimat syahadat juga akan diucapkan ketika seseorang dalam keadaan dijemput oleh sakratul mautnya kelak.

Semoga kita termasuk menjadi bagian dari mereka yang dimudahkan oleh Allah dalam mengucapkan dua kaliamat syahadat ketika kita dalam keadaan dijemput oleh sakratul maut kita nantinya.

3. Menyegerakan mandi besar

Ketika seseorang sudah menjadi Mualaf diharuskan untuk menyegerakan mandi besar. Iya, Mandi besar yang biasa dilakukan oleh seorang Muslim ketika bernujub dan Muslimah ketika selesai dari masa haid dan nifasnya.

Mandi besar juga dilakukan di beberapa keadaan yang sudah ditentukan dalam ajaran islam. Dan tentu di dalamnya juga dibahas tata cara mandinya, yang dalam pembahasan ini tidak dibahas oleh kami.

Perintah untuk menyegerakan mandi besar untuk Mualaf atau seorang non-Muslim yang baru masuk Islam tercantum dalam hadits no.255 yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan hadits ini adalah hadits shahih.

4. Menjalankan kewajiban dalam rukun islam

Seorang Muslim di seluruh dunia sudah pasti memiliki kewajiban untuk menjalankan rukun Islam. Demikian juga berlaku untuk mereka yang menjadi Mualaf atau yang baru masuk Islam.

Dalam hal ini, Mualaf akan dibimbing oleh seorang alim dalam mempelajari dan mengamalkan rukun Islam dalam kehidupan bermuamalatnya.
Jenis-jenis Mualaf

Jika sebelumnya kita sudah mmebahas tentang syarat-syarat menjadi Mualaf, sekarang kita akan membahas jenis-jneis Mualaf.

Memang ada???

Tentu ada, jenis-jenis Mualaf ini merupakan mereka yang baru masuk Islam yang dibagikan kedalam beberapa kelompok, yaitu berikut ini pemaparan singkatnya;

1. Mualaf pertama

Mualaf yang temasuk dalam kelompok pertama ini ialah mereka yang masih memiliki kebimbangan dalam hatinya. Sehingga dirinya masih membutuhkan bimbingan dari mereka yang ‘alim tentang Islam.

Baik itu saran maupun masukan yang semakin mendekatkan dirinya dan hatinya pada keyakinan dalam keiamannya sebagai seorang Muslim.

2. Mualaf kedua

Jenis ini mengarah kepada mereka yang menjadi Mualaf dan menjadi Mualaf yang adil, namun masih memerlukan bimbingan.

3. Mualaf ketiga

Jenis mualaf dalam kelompok ini ialah mereka yang baru masuk Islam dan memiliki keinginan dan kesungguhan dalam belajar mengenai Islam dan berusaha untuk menjauhi larangan yang ditentukan dalam ajaran Islam.

Golongan Mualaf yang Menerima Zakat

Ada 3 golongan Mualaf yang berhak menerima zakat, yaitu sebagai berikut;

1. Golongan yang beradala dari orang-orang kafir yang memiliki pengaruh dan berpengaruh dan diharapkan dapat masuk Islam.

Cara ini dicontohkan oleh Rasulullah dalam memberi zakat kepada shafwan bin Umayah ketika penaklukan kota Mekah.

2. Golongan yang terdiri dari orang-orang kafir yang miskin yang kemudian masuk Islam. Pemberian zakat kepada mereka dilakukan sampai iman mereka mantap dan tidak tergoyahkan dari Islam.

3. Golongan yang terdiri dari Muslim yang bertempat tinggal di daerah perbatasan dengan orang kafir. Mereka diberi zakat untuk mempertahankan daerah mereka dan memantau pergerakan musuh.

Baca juga: Mengupas Siapa Saja yang Termasuk Dalam Golongan Mustahiq Zakat

Mualaf yang menerima zakat terbagi menjadi 4 kelompok kecil sebagaimana terdapat di halaman umma,yaitu;

1. Kelompok yang baru masuk islam
2. Kelompok yang masih memiliki aqidah yang lemah
3. Kelompok yang memiliki aqidah yang rentan
4. Kelompok yang penguasanya diepgang olehpenguasa dari non-Muslim yang dihindari keburukannya.

Tujuan Pemberian Zakat

Ada beberapa tujuan dalam pemberian zakat untuk Mualaf, yaitu sebagai berikut;

  1. Untuk memberi kenyaman kepada umat Islam dan menjauhkan dari tindakan anarkhis yang dilakukan oleh agama lain.
  2. Menjaga keyakinan mereka terhadap ajaran Islam
  3. Al-Thabari berpendapat bahwa pemberian zakat untuk Mualaf ialah untuk melakukan antisipasi akan kehancuran Umat Islam dan juga mengokohkan atau menguatkan Islam.

Tujuan ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah pada pemberian zakat kepada mualaf pada pembukaan Mekah atau Fath Makkah.

4. Sedangkan Yusuf Qardhawi berpendapat dalam hal ini untuk menetapkan hati Mualaf dalam Islam, mengokohkan iman seseorang yang lemah dan menahan tindakan kelompok lain yang bersifat jahat.

Batas Mualaf Menerima Zakat

Mualaf yang didefinisikan dalam Kitab Fathul Qorib ada 4, salah satunya ialah mereka yang masuk Islam dikarenaka memiliki hati yang lunak. Maksud dari hati yang lunak ialah seseorang yang memiliki tekad yang lemah.

Sehingga dapat dikatakan bahwa mualaf dengan definisi ini ialah mereka yang masuk Islam dan memiliki hati atau tekad yang lemah sehingga zakat dapat menguatkannya.

Nah, mengenai batas mereka menerima zakat, ada beberapa perbedaan pendapat dalam masalah ini. Dan salah satunya ialah ketentuan Umar ibnu Khaththab yang menghapus bagian zakat untuk Mualaf.

Namun, jika kita kembali kepada definisi dari Mualaf itu sendiri, maka dapat dikatakan bahwa batas mualaf menerima zakat ialah ketika hatinya sudah kuat.

Nah, kita tidak tau sampai kapan hati si Mualaf itu kuat. Sehingga keadaan ini tidak dapat ditentukan secara pasti atai tidak konkrit.

Di sinilah tugas dari amil zakat untuk memperhatikan individu si Mualaf, maksudnya ialah kebutuhan hidupnya ialah tercukupi atau tidaknya sehingga tidak akan mengoyahkan hati dan keimanannya dari agama Islam.

Hal itu bisa berlaku dalam beberapa bulan setelah masuk Islam. Sehingga jika sudah bertahun-tahun, maka tidak ada hak atas dirinya untuk mendapatkan zakat melalui kelompok ini.

Bahkan mereka sudah tidak dapat dikatakan sebagai Mualaf lagi. namun jika ekonominya masih lemah, maka masih bisa mendapatkan zakat melalui kelompok atau golongan lainnya.

Demikianlah pembahasan kami mengenai mualaf yang menjadi salah satu dari ashnaf.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?