Niat Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Dalil Menurut Hukum Islam

Apakah ada niat khusus (niat zakat fitrah) ketika menunaikan zakat fitrah?
Jawaban:
Niat adalah merupakan amalan hati, maka dari itu, ulama sepakat tidak boleh melafadzkan niat. melafadzkan niat, sama sekali tidak pernah ada tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabatnya.

Niat Zakat Fitrah
Niat Zakat Fitrah

Inti dari pada niat ialah keinginan atau kemauan untuk mengerjakan suatu ibadah tersebut karena Allah. Orang dianggap sudah mempunyai niat zakat fitrah, tatkala dia telah memiliki keinginan atau kemauan untuk memberikan sejumlah beras sebagai zakat fitrah, ikhlas semata-mata karena Allah.

Niat ikhlas di dalam ibadah merupakan komponen dari rukun diterimanya ibadah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (H.r. Bukhari dan Muslim). Apabila seseorang beribadah akan tetapi dia tidak ikhlas, maka ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala.

Niat merupakan amalan yang bertempat di hati. Dengan demikian, tidak boleh melafadzkan niat dalam mengerjakan ibadah apa pun, termasuk diantaranya ketika menunaikan zakat fitrah. Sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna ibadahnya dan tidak pernah mengajarkan ataupun mengamalkan lafazd niat, di dalam bentuk ibadah apa pun.

Baca juga: Penjelasan Zakat Fitrah Sesuai Hukum Menurut Islam

Berniat itu wajib dan harus dilakukan, akan tetapi tidak boleh dilafazdkan. Oleh sebab itu, melafadzkan niat termasuk dalam perbuatan yang menyelisihi kemurnian ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, Hukum niat ketika hendak menunaikan Zakat

Ulama’ ada dua pendapat dalam hal ini:
a. Kebanyakan ulama sampai hampir seluruh ulama, selain Al-Auza’i berpendapat bahwasanya niat adalah merupakan syaratnya sah zakat.
b. Imam Al-Auza’i berpendapat bahwasanya zakat itu tidak wajib niat. Sehingga zakat seseorang itu bisa dibayarkan lewat orang lain, meskipun dia adalah seorang muzakki (orang yang berzakat) sendiri tidak tahu, sehingga dia tidak meniatkannya sebagai zakat.

Alasannya adalah karena zakat itu sendiri seperti utang, sehingga pada saat menunaikannya tidak mesti diniatkan sebagai zakat, sebagaimana pada saat seseorang yang melunasi utangnya.

An-Nawawi mengatakan:
“Tidaklah sah membayarkan zakat kecuali disertai niat secara umum. Tak ada silang pendapat dalam masalah ini dalam madzhab kami ( madzhab Syafi’i). Perbedaan itu hanya terjadi pada metode niat dan merinci niat. Ulama yang berpendapat wajibnya niat ialah Al Imam Abu hanifah, Imam Malik, Ats-Tsauri, Imam Ahmad, Abu Tsaur, Daud Zahiri, dan mayoritas ulama.

Yang menyimpang dalam masalah ini dari pendapat mereka yaitu Imam al-Auzai, beliau mengatakan, tidak mesti niat. Dan sah membayarkan zakat tanpa diikuti niat, sebagaimana layaknya seseorang yang menunaikan utang.” ( referensi – al-Majmu’, 6:180).

Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini ialah pendapat mayoritas ulama, dengan beberapa alasan:
a. Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan membayarkan zakat itu termasuk dalam amal.
b. Membayarkan zakat termasuk dalam hal ibadah, oleh karena itu kita tahu ada zakat wajib dan zakat yang sunnah (sedekah). Dan seluruh bentuk ibadah itu butuh niat, maka dari itu zakat berbeda dengan utang.

Zakat itu merupakan ibadah, sehingga dia harus butuh niat, sedangkan utang itu bukan ibadah, sehingga dia tidak butuh niat. (simak penjelasan Ibnu Qudamah di dalam kitab al-Mughni, 2:502).

Untuk membantu mempermudah pemahaman, mari kita simak dengan seksama gambaran berikut ini:
Si A mempunyai utang 10 jt kepada si B. Setelah sekian lama akhirnya jatuh tempo, dan si A minggat, menghilang tidak tau kemana tanpa info pemberitahuan dengan meninggalkan harta berupa motornya.

Dikarenakan merasa ada hak, lalu si B tadi mengambil atau menyita motor tadi sebagai ganti pelunasan utang A, rupanya nilai motor itu juga 10 jt.

Walaupun si A tadi sama sekali tidak tahu-menahu tentang pengambilan motor yang dilakukan si B tadi, namun secara hukum hutang si A tadi sudah dianggap lunas.

Menurut pendapat dari mayoritas ulama, kasus yang seperti ini tidak bisa diterapkan untuk zakat. Panitia zakat masjid tertentu yang mengambil harta si A tadi tanpa sepengetahuannya. Karena atas dasar membayar harta zakat, tidak bisa dinilai sebagai zakat.

Sebab didalam masalah ini, si A tidak meniatkannya untuk zakat. Disamping itu juga takmir masjid tidak memiliki hak untuk melakukan perbuatan yang semacam ini.

Baca juga: Bayar Zakat Online Bersama Yayasan Rumah Infaq

Kedua, kapan mulai berniat

Pada saat kapan seseorang itu mulai menghadirkan perasaan bahwasanya harta yang dia tunaikan statusnya merupakan zakat?
Seseorang boleh mengadakan niat itu, berbarengan dengan dia menunaikan zakat terhadap fakir miskin atau juga panitia yang mengumpulkan zakat tersebut, boleh juga dia menghadirkan niat beberapa saat sebelum dia membayarkan zakat.

Ibnul Qudamah mengatakan bahwasanya:
“Dibolehkan mendahulukan niat dalam beberapa saat sebelum pelaksanaan membayar zakat, sebagaimana layak nya ibadah pada umumnya.” ( lihat kitab Al-Mughni, 2:502)

Ketiga, Terlambat Dalam Niat

Dikala ada seseorang yang menunaikan harta yang dimilikinya tanpa diikuti kemauan untuk menunaikan zakat, lalu sesudah diserahkan dia ternyata baru sadar. Pertanyaan nya bolehkah harta yang telah dia bayarkan tadi diniatkan sebagai zakat?

Pertanyaan ini pernah ditanyakan terhadap Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah, yang berada di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, jawaban yang diberikan Adalah:
Anda tidak boleh menjadikan harta yang telah Anda bagikan melebihi dari apa yang Anda berikan itu sebagai zakat harta Anda. Sebab Anda belum berniat tatkala memberikan harta itu terhadap orang fakir, bahwasanya itu merupakan zakat.

Sedangkan niat adalah merupakan syarat sahnya zakat, menurut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: “Sesungguhnya amalan itu dinilai sebab niatnya.” ( lihat Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 132705).

Keempat, Menunaikan Zakat Harta Anak Kecil dan Orang Gila

Pendapat yang kuat, bahwasanya keharusan zakat itu terdapat pada harta bukan pada pemiliknya. Oleh karena itu, tatkala ada seorang yang gila dan anak kecil yang kaya maka hartanya itu tetap wajib dizakati. Walaupun mereka tidak termasuk dalam mukallaf (orang yang menerima beban syariat).

Lalu bagaimana caranya meniatkan zakat untuk orang yang semacam ini?
Harta orang yang gila dan anak kecil, sudah menjadi tanggung jawab walinya (orang yang mengurusinya). Kewajiban orang yang mengurusi ini ialah memperhatikan keselamatan harta tersebut, termasuk dalam mengugurkan kewajibannya. Peran wali dalam masalah ini adalah sebagaimana pemilik harta.

Penjelasan Ibnul Qudamah pada saat menjelaskan zakat untuk harta anak kecil atau orang gila:
Wali membayarkan zakat tersebut atas nama mereka dari harta mereka, sebab harta itu merupakan zakat yang wajib. Wajib untuk dibayarkan, sebagaimana zakat dari orang baligh dan berakal. Peran wali menggantikan posisi mereka dalam membayarkan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Sebab zakat ini pun menjadi kewajiban untuk anak kecil maupun orang yang gila (yang kaya).

Karena tugas atau kewajiban wali adalah untuk membayarkan zakat atas nama keduanya, sebagaimana kewajiban memberi nafkah kepada keluarga orang gila. Dan adapun niat wali dalam masalah bayar zakat adalah statusnya sebagaimana niat pemilik harta (al-Mughni, 2/488), Wallahu a’lam.

Kalau sudah ada kemauan di dalam hati seseorang untuk menunaikan zakat fitrah maka dia sudah dianggap berniat melakukan zakat fitrah. Untuk bisa memperoleh pahala yang lebih, seseorang bisa menghadirkan hal yang lain.

Beberapa di antara hal yang harus dihadirkan di dalam hati pada saat hendak mau beribadah adalah:

  • Ibadah ini dikerjakan sebab mematuhi perintah Allah Subhaanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Zakat fitrah ini merupakan antusias dalam rangka melestarikan dan salah satu bentuk syi’ar sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Berkeinginan memperlihatkan rasa cinta dan perhatiannya terhadap orang miskin muslim yang membutuhkan.
  • Apabila hendak diberikan kepada kerabat dekat maka kita hadirkan niat untuk memper erat tali silaturahim dan menjalin hubungan dekat kepada keluarga.

Yaitu dengan menghadirkan beberapa niat di atas pada saat beramal, seseorang akan memperoleh pahala yang lebih, contoh tidak melakukan niat zakat. Di dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, yang barada di bawah Arahan Dr. Abdullah Al-Faqih, Ada pertanyaan, “Apa hukum bagi orang yang memberikan sedekah pada saat bulan Ramadan, hanya saja itu tidak ditujukan untuk zakat fitrah (bukan niat untuk zakat fitrah).

Akan tetapi cuma sebatas sedekah untuk menolong meringankan beban orang yang membutuhkannya? Apakah sedekah ini dapat menggantikan kewajiban zakat fitrah?”

Jawaban, “Zakat fitrah itu adalah merupakan suatu ibadah, yang apabila dia tidak sah kecuali jika dengan berniat, sebagaimana yang sudah dipahami. Orang yang memberikan sedekah tersebut pada bulan Ramadhan dengan bertujuan untuk menolong orang yang membutuhkan, itu tidak bisa disebut sebagai zakat fitrah, menurut kesepakatan dari para ulama. Sebab sedekah tersebut tidak dapat menggantikan posisi zakat fitrah.” ( dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 23506)

Fatwa ulama dari Hadramaut (sumber: mualm.com) Syaikh Ahmad ibn Hasan Al-Mu’alim dia pernah ditanya, “Apakah disyaratkan menghadirkan niat tatkala hendak mau menunaikan zakat fitrah, sebagaimana layaknya ibadah yang lainnya? Bolehkah niat ini dilafazdkan?”

Lalu beliau menjelaskan bahwasanya, “Masuk dalam syarat sahnya menunaikan zakat fitrah ialah niat sebab niat ini merupakan pondasi amal yang memiliki kedudukan yang sangat agung didalam Islam. Sebagaimana dalam kandungan hadist dari Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu; bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

’Sesungguhnya, amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap (pahala) yang didapat seseorang itu sesuai dengan niatnya’ (H.R. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu, setiap amal tidak akan diterima oleh Allah kecuali dengan niat yang tulus; tempatnya niat itu berada di dalam hati. Imam An Nawawi sudah menerangkan di dalam kitabnya yaitu, Al-Majmu’, bahwasanya apabila seseorang itu berniat di dalam hatinya dengan tanpa melafadzkan dengan kedua lisannya maka amalnya itu sah, dan ulama menyepakati hal ini.

Sebaliknya, apabila ada orang yang melafadzkan niat dengan kedua lisannya yakni niat untuk menunaikan zakat fitrah namun hatinya sama sekali tidak berniat maka hampir seluruh ulama menyatakan amalnya itu tidak sah. Maka dari itu, niat itu bertempat di dalam hati, dan tidak ada anjurannya atau contohnya untuk melafadzkan nya karena tidak ada dalil yang menerangkan tentang hal itu.



1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?