Pahami Cara Menghitung Warisan dalam Islam Sesuai Dalil yang Benar

Rumahinfaq.or.id – Seseorang yang sudah wafat meninggalkan ahli waris dan warisannya. Akan tetapi, tidak sedikit yang menjadi masalah dikemudian hari antara ahli waris ialah pembagian warisan. Sampai Islam hadir untuk mengajarkan cara menghitung warisan.

Mengetahui pembagian serta cara menghitung warisan adalah solusi yang menyelamatkan konflik yang akan pecah di antara para ahli waris soal warisan yang ditinggalkan oleh mayit.

cara menghitung warisan
cara menghitung warisan

Tapi yang menjadi masalahnya, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana, baik pembagian maupun cara menghitung warisan tersebut. Maka dari itu, dalam akan berusaha untuk memaparkan Artikel soal warisan ini.

Kami, juga akan memberikan contoh soal menghitung warisan beserta jawabannya di pembahasan soal warisan ini. berikut pemaparan kami mengenai warisan dan dan juga cara menghitung warisan.

Pengertian Warisan dan Ahli Waris Menurut Islam

Pembagian harta warisan dalam Islam sudah dibagi sesuai dengan besaran warisan tersebut untuk masing-masing ahli waris yang sudah dibagi dalam ketetapan dan aturan Islam.

Membahas warisan akan kembali mengingatkan kita dengan wasiat dan kita sudah mengetahui apa itu wasiat. Nah, ternyata dalam Islam wasiat hanya diperbolehkan untuk di ambil 1/3 dari harta warisan yang ditinggalkan oleh si mayit.

Akan tetapi, ada pengecualian dalam hal jumlah wasiat yang akan ditunaikan oleh ahli waris. Jika, semua ahli waris sudah menyepakati untuk menunaikan semua isi wasiat walau melebihi dari 1/3 harta warisan, maka itu diperbolehkan.

Sedangkan ahli waris dalam Islam ialah orang yang memiliki hubungan, baik iitu dikarenakan adanya hubungan darah, maupun hubungan perkawinan dengan si mayit dan tidak ada hukum yang menghalanginya menjadi ahli waris dari si mayit.

Baca juga: Penjelasan Terbaru Tentang Pengertian Zakat Terlengkap Menurut Para Ulama

Golongan yang Berhak menjadi Ahli Waris

Dikarenakan menjadi ahli waris oleh 2 sebab adanya hubungan, maka berikut ini golongan yang berhak menjadi ahli waris menurut 2 sebab hubungan tersebut, yaitu;

Menurut Hubungan Darah

Golongan yang berhak menjadi ahli waris menurut hubungan darah ialah terbagi menjadi 2 kelompok antara lain sebagai berikut;
1. Kelompok laki-laki

Kelompok laki-laki yang berhak menjadi ahli waris menurut hubungan darah ialah terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, dan kakek.

2. Kelompok perempuan

Kelompok perempuan yang berhak menjadi ahli waris menurut hubungan darah ialah terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek.

Baca juga: Hukum Zakat Fitrah Sesuai Dalil Menurut Agama yang Benar

Menurut Hubungan Perkawinan

Golongan yang berhak menjadi ahli waris menurut hubungan perkawinan ialah terdiri dari duda atau janda. Untuk lebih lanjutnya, perhatikan pasal 181 dan pasal 182 KHI yang berlaku ketika si mayit tidak meninggalkan anak dan ayah.

Abdul Karim Munthe, SH. SHI. MH., selaku peneliti di LKIHI (Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam)FH UI yang juga menjabat sebagai dosen di Hukum Islam di FH UI berpendapat dalam masalah si mayit yang tidak meninggalkan anak dan ayah.

Beliau menyebut kondisi ini dalam KHI atau Kompilasi Hukum Islam disebut dengan kalalah. Kondisi dimana suadara dapat menjadi ahli warisnya ketika si mayit tidak memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan dan keturunannya.

Begitu pula dengan sang ayah yang seharusnya menjadi ahli waris sudah terlebih dahulu meninggal dunia daripada si mayit tersebut.

Pasal 181 HKI

Pasal ini mengatur warisan yang akan didapat oleh saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu dari si mayit yang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah.

Jika jumlah mereka masing-masing 1, maka mereka berhal mendapatkan seperenam bagian dari harta warisan yang di tinggalkan oleh si mayit.

Namun, jika mereka terdiri dari 2 atau lebih, maka mereka secara bersama mendapatkan sepertiga bagian dari harta warisan yang ditinggalkan oleh si mayit.

Pasal 182 HKI

Pasal ini mengatur warisan yang akan didapat oleh saudara perempuan kandung atau saudara perempuan seayah dari si mayit yang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah.

Jika berlaku demikian, maka saudara perempuan kandung atau saudara perempuan seayah mendapatkan separoh atau setengah bagian dari harta warisan yang ditinggalkan oleh si mayit.

Akan tetapi, jika mereka yaitu saudara perempuan kandung dan saudara perempuan seayah bersama-sama dengan jumlah 2 atau lebih, maka mereka secara bersama mendapatkan dua pertiga bagian dari harta warisan yang ditinggalkan oleh si mayit.

Beda halnya lagi, jika saudara perempuan kandung atau saudara perempuan seayah bersama dengan saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah, maka bagian saudara laki-laki dengan saudara perempuan adalah dua berbanding satu.

Kelompok Ahli Waris

Di halam ke 23 dalam buku Hukum Waris: Cara Mudah & Tepat Membagi Harta Warisan, menurut F. Satrio Wicaksono, S.H. membagi ahli waris dalam KHI menjadi 3 kelompok, yaitu;

1. Dzul Faraidh

Bagian warisan kelompok ini sudah ditentukan dalam al-Quran. Sehingga kelompok ahli waris ini akan menerima bagian yang sudah dipastikan dan ditentukan.

Sehingga, ketika perhitungan dalam pembagian harta warisa, bagian kelompok ini lebih dahulu dikeluarkan. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini seperti ayah, ibu, janda, dan duda.

2. Dzul Qarabat

Dzul Qarabat atau disebut dengan asabah adalah kelompok yang akan mendapatkan sisa dari bagian warisan setelah bagian ahli waris dzul faraid dikeluarkan.

Dapat dikatakan bahwa kelompok ini akan mendapatkan bagian dari harta warisan dengan bagian yang tidak ada ketentuan sebelumnya. Kelompok ini terdiri dari anak perempuan dan laki-laki.

3. Dzul-arham

Kelompok ini terdiri dari kerabat jauh yang akan menjadi ahli waris ketika ahli waris dari kelompok ahli waris dzul faraid dan kelompok ahli waris asabah tidak ada lagi.

Kelompok ahli waris dzul faraid yang akan masuk menjadi bagian dari kelompok ini ketika yang ada hanya janda atau duda saja.

Golongan yang Tidak Berhak menjadi Ahli Waris

Ada 4 orang tidak berhak mnjadi ahli waris atau mereka yang tidak mendapatkan warisan berdasarkan Pasal 838 KUH Perdata, mereke antara lain sebagai berikut;

1. Orang yang sudah mendapatkan hukuman dikarenakan perkara membunuh dan mencoba membunuh pewaris atau si mayit.
2. Orang yang diputuskan hakim dikarenakan pernah dipersalahkan atas tuduhan yang diajukannya dengan dasar fitnah kepada pewaris.

Pewaris difinah telah melakukan kejahatan dan diancam mendapatkan hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat dari itu.

3. Orang yang menggunakan kekerasa atau perbuatan nyata lainnya untuk menghalangi pewaris untuk membuat atau menarik wasiatnya kembali.
4. Orang yang telah menggelapkan wasiat pewaris atau memusnahkan atau memalsukannya.

Contoh Cara Menghitung Warisan

Pembahasan

Sebagaimana pertanyaan yang dilansir dari hukumonline.com bahwa si mayit meninggalkan 3 orang anak dengan 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan beserta istrinya.

Harta warisan baru dibagi setelah ibunya meninggalkan (Meninggal duni) ke-3 anaknya dan juga meninggalkan seorang ayah dan 1 adik laki-laki dan 2 adik perempuannya.

Melihat kembali ke pembahasan sebelumnya, maka dalam kasus ini dikatakan bahwa ayah dan anak dari si mayit masih hidup, maka mereka yang berhak menapatkan warisan itu.

Sedangkan untuk paman dan bibi dari pihak ibu tidak berhak mendapatkan harta warisan tersebut. sekali lagi disebebkan oleh ayah kandung dan anak kandung dari si mayit masih hidup.

Ayah kandung dari si mayit termasuk ke dalam kelompok ahli waris dzul faraid yang berarti bagian harta warisannya sudah ditentukan. Jika dia mewarisi bersama dengan anak dari si mayit, maka ayah kandung mendapatkan seperenam bagian.

Sedangkan anak pewaris menjadi bagian dari kelompok ahli waris asabah. Dengan kata lain mendapatkan bagian sisa setelah kelompok ahli waris dzul faraid bagiannya dikeluarkan, yaitu bagian anak laki-laki 2 berbanding 1 dengan anak perempuan.

Lalu, bagaimana cara menghitung warisan tersebut?

Cara Menghitung Bagian Ahli Waris

Dalam kasus di atas, berikut ini langkah-langkah yang ditempuh untuk menghitung bagian dari masing-masing ahli waris, yaitu;

1. Total Harta Waris

Langkah pertama yang ditempuh ialah mengitung total warisan yang ditinggalkan oleh si mayit yaitu dengan rumus ialah harta warisan yang ditambah dengan bagian harta si mayit dari harta bersama.

Kemudian total harta tersebut dikurangi dengan harta yang dibutuhkan oleh si mayit, baik untuk keperluan yang digunakan oleh si mayit dari sakit sampai meninggal dunia.

Biaya pengurusan jenazah, pembayaran hutang dan pemberian dari si mayit untuk kerabat juga termasuk yang dibutuhkan si mayit. Setelah dikurangi dengan harta yang dibutuhkan si mayit, maka itulah harta warisan.

Atau lebih jelasnya, perhatikan rumus berikut;

Harta Warisan = (Harta bawaan + bagian harta bersama) – (Keperluan pewaris dari sakit sampai meninggal + biaya pengurusan jenazah + pembayaran hutang + pemberian untuk kerabat)

2. Bagian Harta Waris yang akan didapatkan oleh masing-masing Ahli Waris

Langkah kedua adalah menghitung bagian dari masing-masing ahli waris, yaitu sebagai berikut;
• Bagian Ayah

Bagian ayah sudah di paparkan di atas yaitu seperenam atau 1/6 bagian dari harta waris karena termasuk kelompok ahli waris dzul faraid yang bagiannya sudah ditentukan dalam al-Quran.

• Bagian Anak

Anak termasuk bagian dari kelompok ahli waris asabah yang mendapatkan sisa bagian setelah kelompok ahli waris dzul faraid mengambil bagiannya.

Berikut ini adalah rumus yang digunaka untuk cara menghitung warisan bagian anak, yaitu;

Harta warisan bagian asabah = Harta warisan – Bagian dzul faraid

Dalam kasus di atas maka, sisa harta warisan ialah (6/6 – 1/6) 5/6 bagian dari harta warisan. Sehingga bagian anak sebagi berikut;

3 anak dengan 1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki
A = Anak perempuan
B = Anak laki-laki
C = Anak laki-laki

Ingat!!! Bagian laki-laki 2 berbanding 1 dengan bagian perempuan. Sehingga…….

Selanjutnya, masing-maisng bagian tersebut dikali dengan sisa bagian harta, sheingga…..

Lebih singkatnya, bagian tersebut dijabarkan sebagai berikut;
Ayah : 1/6 bagian
Anak perempuan : 1/6 bagian
Anak laki-laki (1) : 2/6 bagian
Anak laki-laki (2) : 2/6 bagian

Demikianlah pemaparan kami mengenai warisan dan cara menghitung warisan. Semoga artikel ini bermanfaat.
Wallahu ‘Alam

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?