Pengelolaan Infaq Zakat dan Sedekah Oleh Lembaga Terpercaya Yayasan Rumah Infaq

Rumahinfaq.or.id – Dalam infaq membutuhkan pengelolaan yang tepat sebagaimana ketika kita membayar zakat. Oleh karena itu, tata cara dalam pengelolaan infaq sangat dibutuhkan, baik untuk perorangan atau lembaga.

Pengelolaan infaq dan sedekah serta zakat sangat dibutuhkan agar infaq dan sedekah serta zakat yang dikeluarkan oleh seseorang dapat disampaikan dengan tepat kepada mereka yang membutuhkannya.

Pengelolaan infaq
Pengelolaan infaq

Sehingga, tidak ada lagi istilah infaq dan sedekah serta zakat yang tertahan atau salah sasaran dalam penyalurannya.

Untuk lebih memahami tata cara dalam pengelolaan infaq, berikut ini kami paparkan penjelasannya;

Pengertian Pengelolaan Infaq

Pengelolaan infaq adalah kegiatan perencanaan, aktualisasi, dan pengaturan dalam penghimpunan, penyaluran, dan eksploitasi infaq. Pengelolaan ini juga bergerak untuk sedekah dan zakat atau yang biasanya disingkat dengan ZIS.

Tatacara pengelolaan infaq dapat ditempuh dengan proses memberikan pengawasan dalam segala hal yang berkaitan dengan aktualisasi kebijakan dan hasil yang dicapai.

Pengelolaan infaq ini dilakukan berdasarkan pada sejumlah kaidah, yaitu syariat islam, amanah, kegunaan yang besar untuk para mustahiq infaq, keadilan, adanya kepastian hukum, terkonsolidasi, responsibilitas.

Amanah dalam pengelolaan infaq, sedekah dan zakat adalah bentuk kepercayaan yang diberikan oleh pemberi ZIS. Sehingga mereka yang terlibat dalam pengelolaan ZIS harus dapat dipercaya, baik itu dalam bentuk perorangan maupun lembaga.

Infaq yang dikeluarkan oleh munfiq tentu saja dengan tujuan dapat diambil manfaatnya oleh si penerima infaq atau munfiq lahu. Sehingga, diharapkan dalam pengelolaan harta infaq dapat memberi kemanfaatan yang besar kepada penerima infaq.

Dalam pengelolaan infaq juga tidak luput dari kata adil, hal ini sangat diperlukan terutama ketika dalam proses pendistribusian infaq. Sebab, jika tidak adanya keadilan, maka tujuan infaq tidak akan tercapai.

Tidak hanya keadilan yang harus dipastikan dalam pengelolahan infaq, sedekah dan zakat, tapi juga kepastian hukum. Sehingga pemberi dan penerima dan ZIS mendapat jaminan kepastian hukum.

Dalam pengelolaan zakat juga terdapat beberapa tingkatan, yaitu penghimpunan, penyaluran, dan pemanfaatan infaq, sedekah dan zakat. Dan bagian terakhir yang harus terpenuh dalam pengelolaan ZIS ialah responsibilitas.

Responsibilitas adalah bentuk tanggung jawab dalam pengelolaan infaq, sedekah dan zakat. Pengelolaan ZIS haruslah dapat diakses oleh pemberi infaq atau masyarakat.

Dasar Hukum

Al-Quran

Perhatian Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap zakat, infaq dan sedekah dapat kita lihat dalam beberapa ayat Al-Quran. Baik dari anjurannya, keutamaannya, kadarnya, bahkan tatacara pengelolaan infaq, sedekah dan zakat juga tercantum dalam Kalam-Nya.

Anjuran infaq telah Allah perintahkan dalam Kalam-Nya, seperti yang tercantum dalam ayat 15-17 surah Ali Imran. Perintah tersebut juga tercantum dalam surah As-Sab ayat ke-39.

Salah satu tahap dalam pengelolaan infaq ada yang namanya pendistribusian. Lebih jauhnya pendistribusian mencangkup di dalamnya golongan yang menerima zakat, infaq dan sedekah.

Dalam ayat ke 60 surah At-Taubah, Allah menyampaikan tentang pelaksanaan ZIS. Dasar hukum tersebut juga tercantum dalam ayat ke 103 pada surah tersebut.

Selain pendistribusian, ada juga perintah untuk pencatatan dan pengelolaan dana infaq, sedekah dan zakat yang disiratkan dalam bentuk transaksi dalam bermuamalah. Perintah tersebut tercantum dengan jelas dalam ayat 282 surah Al-Baqarah.

Dalam ayat tersebut, terlihat jelas dari pengelolaan dan pencataan yang diperintahkan, yaitu untuk menghindari kekhawatiran atau keraguan masyarakat dalam pengelolaan infaq, sedekah dan zakat yang dilakukan.

Sehingga, dalam pengelolaan tersebut lahirlah transparansi dalam pengelolaan yang digerakkan oleh lembaga terkait, seperti gerakan LAZ. Transparansi dalam pengelolaan tersebut harus dilakukan dengan cara yang cerdas.

Karena hal demikian selaras dengan firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat ke 67. Dalam ayat tersebut, selain sikap dan sifat transparan, juga ditegaskan sifat yang lain yang harus dipegang dalam pengelolaan ZIS yang tersirat dalam ayat tersebut.

Sikap dan sifat tersebut harus berpegang teguh kepada aturan Allah, menyampaikan pengelolaan secara transparan dan benar, mengedapankan kejujuran, serta melakukan pekerjaan dengan segenap loyalitas dan pengabdian yang tinggi.

Sikap lain yang harus dimiliki dalam pengelolaan infaq, sedekah dan zakat adalah amanah. Sebab, sikap tersebut telah diperintahkan oleh Allah dalam Kalam-Nya Al-Quran ayat ke 58 surah An-Nisa.

Rasulullah juga sangat memperhatikan bagaimana pengelolaan infaq. Sebab, beliau adalah pengatur atas pembagian infaq, sedekah dan zakat, beliau juga menetapkan hukum dan golongan yang berhak menerimanya.

Penuturan sikap Rasulullah tersebut adalah sifat yang disifatkan oleh Allah ketika ada seseorang yang meragukan keadilannya dalam pembagian sedekah. Hal tersebut tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ziad ibnu Al-Harits.

Bentuk perhatian Rasulullah yang lain dapat dilihat dari tindakan beliau. Rasulullah mempekerjakan Ibnu Lutaibah dalam mengurus zakat Bani Salaim. Ali ibnu Abi Thalib juga pernah beliau utus ke Yaman untuk menjabat sebagai amil zakat.

Tindakan beliau pun dicontoh dan dilanjutkan oleh para khulafaur Rasyidin atau pemimpin tertinggi umat islam setelah Rasulullah meninggal. Tugas mereka biasanya meliputi pengaturan dengan masalah yang berkaitan dengan zakat, sedekah dan infaq.

Undang-undang

Dalam UU No.23 tahun 2011 Bab 2 bagian ke-4 menjabarkan tentang pengelolaan infaq, sedekah, dan dana sosial lainnya. Pada pasal 28 surah ayat 1 dalam UU tersebut BAZNAS atau LAZ bisa menerima infaq, sedekah dan dana sosial lainnya.

Keputusan Menteri Agama No.581 yang dikeluarkan tahun 1999, pesyaratan secara teknis yang harus dipenuhi oleh lembaga yang menaungi zakat, sedekah dan infaq.

Ada beberapa persyaratan teknis, yaitu;

1. Lembaga tersebut harus memiliki badan hukum.
2. Memiliki data penerima dan pemberi infaq, sedekah dan zakat.
3. Lembaga tersebut harus memiki program kerja yang jelas.
4. Lembaga tersebut juga harus dilengkapi dengan pembukuan yang lengkap, benar dan baik.
5. Jika diperlukan, lembaga tersebut menyediakan surat pernyataan yang tersedia di audit.

Konsep

Dalam pengelolaann infaq, sedekah dan zakat, ada 2 sistem yang akan digunakan, yaitu pengumpulan dan penyaluran dana infaq, sedekah dan zakat.

Di Indonesia pengelolaan zakat terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Sedangkan pengelolaan infaq, sedekah dan zakat dalam pandangan fikih dan Undang-Undang, yaitu;

1. Penghimpunan

Dalam KBBI, penghimpunan atau pengumpulan ialah kata yang berasal dari kata kumpulan. Kumpulan ini berarti sesuatu yang sudah dikumpulkan atau dihimpun.

Sedangkan pengumpulan sendiri berarti menghimpun atau mengumpulkan. Pengertian ini dikemukkan oleh Andarini dan Amrullah (2010).

2. Penyaluran

Setelah dana ZIS sudah dikumpulkam, maka selanjutnya dalam pengelolaan infaq, sedekah dan zakat adalah penyaluran dana tersebut kepada mereka yang membutuhkannya sesuai dengan skala prioritas.

Penyaluran ini dapat ditempuh dengan beberapa cara menurut Bariadi (2016), yaitu;

a. Pola sederhana atau tradisional
b. Pola modern atau kontemporer

3. Pendayagunaan dana

Menurut Hasan A. M. (2014) pendayagunaan dalam pengelolan ZIS memberi makna dana ZIS kepada mereka yang berhak yang dilakukam secara konsumtif dan produktif yang akan memberi dan mendatangkan manfat dan hasil.

Pendayagunaan dalam hal ini dapat dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu sebagai berikut;

a. Tahap pertama adalah penyaluran murni
b. Setelah dana disalurkan maka lahirlah semi pendayagunaan
c. Tahap terakhir yang lahir ialah pendayagunaan dana ZIS

4. Tercapainya kesejahteraan

Untuk mencapai tahapan masyarakat pada tingkatan kehidupan yang lebih baik, maka manusia melakukan tindakan dalam membentuk kesejahteraan sosial. Pendapat ini disampaikan oleh Huda M. (2012).

Kesejahteraan dalam islam yang dikemukkan oleh Pusat Pengajian dan pengembangan Ekonomi Islam (2018) mencangkup 2 pengertian, yaitu;

a. Kesejahteraan yang dimaksud memiliki nilai hilistik dan keseimbangan
b. Kesejahteraan falah atau kesejahteraan yang dicapai di dunia dan akhirat

Hikmat (2010) menyampaikan pengertian kesejahteraan yang dimaksud dalam ekonimi syariat ialah kesejahteraan secara finansial atau materi dan kesejahteraan spiritual.

Tujuan dan Hikmah

Tujuan

Ada beberapa tujuan dari pengelolaan zakat, tujuan ini tercantum pada Undng-Undang No.23 yang dikeluarkan pada tahun 2011 pasal 3, sebagai berikut;

1. Mengembangkan efektivitas dan efisiensi reprasi dalam pengelolaan zakat
2. Menumbuhkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejehterakan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.

Dua tujuan yang dipaparkan di atas memberi pengetahuan kepada kita tentang pengelolaan infaq, sedekah dan zakat ialah kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan daya guna infaq, sedekah dan zakat.

Dayaguna tersebut dikembangkan dan ditumbuhkan dengan tujuan untuk mewujudkan kesahteraan yang ingin digapai oleh infaq, sedekah dan masyarakat, terkhususnya masyarakat yang membutuhkan dana tersebut.

Tujuan dari pengembangan dayaguna pengelolaan infaq, sedekah dan zakat dilakukan juga untuk memberi keadilan sosial dalam masyarakat. Hal itu juga menarik hikmah zakat, sedekah dan infaq, yaitu sebagai beirkut;

1. Dengan adanya infaq, sedekah dan zakat menbentengi dan melindungi harta dari target keinginan dan kehendak pendosa dan kelompok yang ingin mencurinya.
2. Infaq, sedekah dan zakat adalah bentuk pertolongan untuk golongan fakir dan kelompok mereka yang memerlukannya.
3. Zakat dapat mensucikan jiwa si pemberi zakat atau muzakki dari sifat kikir dan bakhil dan membuktikan si pemberi sedekah dan infaq terhindar dari 2 penyakit hati dan jiwa tersebut.
4. Infaq, sedekah dan zakat adalah bentuk ungkapan syukur akan harta yang telah Allah titipkan kepadanya.

Demikianlah pemaparan tentang pengelolan infaq, semoga penjelasan di atas dapat memberi kita pemahaman lebih mengenai pengelolaan infaq, sedekah dan zakat yang dapat dilakukan secara perorangan atau lembaga.

Semoga bermanfaat dan membantu kita mengenal lebih dekat dana infaq, sedekah dan zakat yang kita keluarkan akan disalurkan sesuai dengan tujuan kita mengeluarkan ZIS dari sebagian harta kita, sebagaimana prosedur yang berlaku dalam pengelolaan ZIS.

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?