Penjelasan Paling Lengkap Tentang Gharim dan Kriteria Siapa Gharim Dalam Golongan Ashnaf?

Rumahinfaq.or.id – Salah satu golongan yang berhak menerima zakat disebut dengan istilah gharim. Ayat ke-60 surah at-Taubah menjadi rujukan dari istilah al-Gharim ini.

gharim
gharim

Lalu siapa itu gharim?

Pengertian Gharim

Gharim adalah orang yang banyak hutang, namun tidak memiliki kesanggupan dalam melunasinya. Pada zaman sekarang, gharim juga disebut dengan istilah debitur yang dalam kesulitan untuk membayar hutangnya.

Dalam Mu’jam al-Wasith dikatakan gharim ialah hutang atau suatu kewajiban atas harta yang harus diberikan, contoh untuk diyat atau denda. Sedangkan istilah gharim dalam perdagangan memiliki arti sebagai orang yang mengalami kerugian ketika berdagang.

Pengertian Gharim menurut Ulama Mazhab

1. Madzhab Hanafi dan Maliki

Gharim dalam Madzhab Hanafi dan Maliki disebutkan sebagai orang yang memiliki hutang yang dimana jumlah harta yang dimilikinya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah utang yang dimilikinya.

2. Madzhab Syafi’i dan Hambali

Pengertian gharim dalam pandangan Madzhab Syafi’i dan Hambali dikatakan gharim ketika seseorang yang berhutang untuk digunakan dalam kebaikan, baik itu untuk keluarganya maupun untuk dirinya sendiri.

Baca juga: Mengupas Siapa Saja yang Termasuk Dalam Golongan Mustahiq Zakat

Pengertian gharim di atas melahirkan 2 kelompok, yaitu:

a. Memiliki utang untuk kebaikan keluarga atau kerabatnya

Pada kelompok ini, seseorang berhutang untuk memberi ketenangan fitrah kepada golongan tertentu atau pribadi. Sehingga kelompok ini terbagi menjadi;

  • Muslim yang memiliki tanggungan diat pembunuhan
  • Muslim yang memiliki tanggungan hutang untuk menhilangkan fitnah

b. Memiliki hutang untuk kebaikan diri sendiri

Seseorang juga dapat dikatakan gharim ketika ia ditimpa musibah seperti banjir, kebakaran dan beberapa musibah lainnya. Tapi, istilah gharim tidak dapat dimiliki oleh seseorang yang berhutang karena memiliki sifat boros pada dirinya.

Baca juga: Hikmah-Hikmah Infaq dan Shodaqoh yang Perlu Kita Ketahui

Pengertian Gharim menurut Ulama Tafsir

Ada 2 ulama yang memberi pendapata tentang pengetrian gharim, yaitu;

1. Al-Tabari

Menurut al-Tabari gharim atau gharimin ialah seseorang yang memiliki hutang yang tidak bisa membayar hutang tersebut dikarenakan tidak memiliki harta benda.

Hutang tersebut sebab ditimpa musibah bukan karena pemborosan dan mereka juga tidak memiliki hutang karena kemaksiatan yang jelas dilarang dalam aturan agama dan sosial.

2. Al-Qurtubi

Menurut al-Qurtubi bahwa gharim ialah orang yang memiliki hutang yang tidak memiliki kesanggupan untuk membayarnya. Sehingga golongan ini terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu;

  • Seorang muslim yang memiliki hutang untuk kepentingan dirinya sendiri
  • Seorang muslim yang memiliki hutang untuk mendamiakan kelompok atau orang yang keadaan berselisih.

Baca juga: Mengenal Muzakki, Orang yang Diwajibkan Zakat atas Hartanya

Kriteria Gharim

Seseorang dapat dikatakan gharim yaitu salah satu dari 8 golongan yang berhak atas zakat ketika orang tersebut memnuhi beberapa kriteria, yaitu sebagai berikut;

1. Kriteria pertama

Hutang yang dimiliki adalah hutang dalam perkara yang dibolehkan Islam. Tidak termasuk di dalam, hutang untuk kemaksiatan kepada Allah, seperti judi, khamar atau perbuatan maksiat lainnya.

Begitu pula untuk membantu kemungkaran. Tidak diperbolehkan juga hutang yang memiliki hukum mubah namun dilakukan secara israf atau berlebihan-lebihan. Sebagaimana yang diingatkan Allah dalam ayat ke-31 surah al-A’raf.

2. Kriteria kedua

Gharim akan mendapatkan dana zakat yang sesuai dengan dana zakat yang tersedia di LAZ/BAZ. Dalam hal ini ada 2 pilihan, yaitu;

  • Diberikan secara langsung, yaitu ketika dana zakat sudah mencukupi
  • Diberikan secara bertahap, yaitu ketika hutang yang dimiliki jauh lebih besar dari dana zakat yang ada. Dalam hal ini diperlukan beberapa waktu sampai dana zakat tersebut mencukupi

3. Kriteria ketiga

Hutang yang dilakukan kepada sesama manusia dan bukan hutang kepada Allah. Sebagai contoh, hutang untuk membayar kaffarah, maka ia tidak berhak menerima zakat untuk melunasinya sebab itu hutangnya kepada Allah.

4. Kriteria keempat

Hutang yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, sperti hutang untuk kebutuhan sadang, pangan dan papan.

Hutang yang dilakukan untuk kemaslahatan bersama atau orang lain, seperti mendamaikan 2 golongan yang sedang dalam bersengkatan.

5. Kriteria kelima

Untuk mustahiq gharim, lembaga zakat perlu melakukan survey terutama terkait hutang produktif dimiliki oleh gharim. Hal demikian dilakukan untuk menghindari berita negatif yang tidak diharapkan.

Kriteria gharim menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, 4/168, yaitu sebagai berikut;

Pertama, seseorang yang memiliki tanggungan biaya untuk menyelesaikan sengketa. Dalam menyelesaikan sengketa tersebut, orang tersebut telah menghabiskan hartanya.

Hal demikian merunjuk kepada hadits yang diriwayatkan dari Qabishah bin Mukhariq al-Hilaly oleh Muslim 2451 dan Abu Daud 1642. Dalam hadits tersebut disebutkan 3 keadaan yang memberi hak seseorang menerima zakat.

Salah satu dari ketiga keadaan tersebut ialah untuk melunasi hutang dari dalam menyelesaikan sengketa. Dalam hal ini diperbolehkan untuk meminta, tapi setelah hutang tersebut lunas, maka tidak boleh lagi meminta-minta.

Kedua, orang yang terlilit hutang karena bangkrut dalam berbisnis. Kriteria ini sesuai dengan hadits yang tercantum dalam Muslim 4064, Abu Daud 3471 dan yang lainnya, yang diriwayatkan dari Abu Said Radhiyallahu ‘Anhu.

Ketiga, seseorang yang menyebabkan dirinya terlilit hutang setelah dirinya bertaubat dari maksiat.

Dalam salah satu fatwanya Fatwa Lajnah Daimah menyatakan bahwa gharim yang memiliki ha katas zakat adalah orang yang memiliki hutang unruk menafkahi kebutuhan keluarganya, seperti kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Menurut Mazhab Syafi’i seseorang berhak menerima zakat sebagai gharim ketika ia mengaku sebagai mukatab atau hamba sahaya dan dapat dibenarkan dengan menghadirkan saksi yang adil dan yang memberi hutang.

Madzhab Maliki berpendapat bahwa gharim memiliki hak untuk menerima zakat ketika memenuhi beberapa kriteria berikut ini;

  1. Merdeka
  2. Islam
  3. Bukan dari keturunan Bani Hasyim
  4. Hutang kepada sesama manusia

Sedangkan dalam Madzhab lainnya, tidak ada batasan tertentu seseorang untuk mendapatkan dana zakat sebagai gharim, hanya saja ia berhak menerima zakat hanya sebatas untuk melunasi hutangnya.

Faktor-Faktor menjadi Gharim

Ulama kontemporer Yusuf al-Qardhawy menyebutkan 2 faktor yang menjadikan seseorang menjadi gharim, yaitu;

1. Gharim Limaslahati Nafsihi

Faktor gharim limaslahati nafsihi ialah factor yang menyebabkan seseorang menjadi gharim ketika ia memiliki hutang untuk kemaslahatan diirnya sendiri dan keluarganya.

2. Gharim Li Ishlahi Dzatil Bayyin

Dalam Kitabul Majmu’, Imam Nawawi berpendapat bahwa orang yang melakukan pelayanan untuk kepentingan masyarakat, hendaknya mendapatkan bagian zakat untuk melunasi hutangnya, walaupun ia kaya.

Kadar Zakat untuk Gharim

Kadar zakat yang diterima atau diberikan kepada gharim ialah hanya sebatas atau sebesar hutangn yang dimilikinya.

Menurut Ibnu Qudamah Rahimahullah, seorang gharim berhak menerima zakat untuk melunasi hutang yang dimilikinya walau hutang tersebut dalam jumlah yang banyak atau besar.

Sedangkan penyusun kitab Bidayatul Mujtahid, yaitu Ibnu Rusyd Rahimahullah berpendapat bahwa zakat diberikan kepad gharim sebesar hutang yang dimilikinya dan selama hutang tersebut karena maksiat.

Ketika seseorang dalam keadaan fakir dan ia juga memiliki hutang, maka dia akan mendapatkan 2 jatah zakat, yaitu karena fakir dan gharimnya.

Akhirkata_Demikianlah pemaparan kami tentang gharim, semoga bermanfaat….

Wallahu A’lam

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?