Penjelasan Paling Lengkap Tentang Siapakah Ibnu Sabil itu?

Rumahinfaq.or.id – Salah satu yang berhak menerima zakat dalam Islam adalah ibnu sabil. Namun, masih banyak yang belum memahami siapakah ibnu sabil? apakah ibnu sabil dengan mereka yang berjihad fi sabilillah?

Tidak sedikit juga yang menyamakan ibnu sabil dengan musafir atau orang yang berpergian?

Ibnu Sabil
Ibnu Sabil

Semua ini itu akan kami jawab dengan pemaparan berikut ini.

Pengertian Ibnu Sabil

Ibnu Sabil berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu ابن yang berati anak, dan السبيل yang berarti jalan. Dari kedua adal kata ini, Ibnu sabil diartikan sebagai orang yang mengalami kehabisan bekal dalam melakukan perjalanannya.

Sehingga dikatakan kedua kata tersebut ditunjuk untuk orang yang berjalan di atas suatu jalanan, hal itu dikarenakan ada tetapnya jalan tersebut.

Pengertian tersebut bisa menjadi kiasan untuk musafir atau musafir adalah ibnu sabil. Sebab musafir sendiri adalah orang yang melakukan perjalanan atau melakukan pelintasan dari satu daerah menuju ke daerah lainnya.

Ibnu Zaid, Imam Thabari, dan Mujahid memberi pendapat berpendapat bahwa Ibnu sabil adalah musafir, apakah ia kaya atau miskin, apabila ia mendapat musibah dalam bekalnya, atau hartanya.

Ibnu sabil adalah musafir yang mengalami kehabisan bekal, yang demikian itu menyebabkan orang tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanan dan tidak dapat pulang.

Ibnu sabil diartikan oleh Imam Ibnu Utsaimin sebagai musafir. Sehingga Ibnu Sabil atau anak jalanan disebabkan dia sellau berada di perjalanan atau selalu melakukan perjalanan.

Hal itu yang menjadikannya berada di posisi tertentu dan terkadang sering dilakukan penisbahan atas sesuatu tersebut dengan hubungan anak, seperti anak air atau ibnu maa, sebab sesuatu tersebut selalu berada di tempat air.

Sehingga Ibnu Utsaimin menyatakan ibnu sabil adalah musafir yang sedang melakukan perjalanan.

Sedangkan musafir yang tidak bisa melanjutkan berjalan dimaknai dengan orang yang mengalami kehabisan bekal dan tidak dapt pulang ke daerah asalnya.

Beliau juga menjabarkan bahwa orang yang masih berada di daerahnya dan baru hendak melakukan perjalanan atau safar, maka orang tersebut belum bisa dikatakan sebagai ibnu sabil.

Sebab tersebut, kata beliau yang menyebabkan orang tersebut untuk tidak mendapatkan hak dalam zakat.

Demikian pemaparan Ustadz Ammi Nur Baits yang merupakan Dewan Pembina Konsultasisyariah.com yang merujuk kepada kitab as-syarh al-Mumthi’, 6/154-156.

Muhammad Jawad Mughniyah memberi arti untuk Ibnu sabil sebagai orang asing yang melakukan perjalanan ke negeri lain dan telah dalam keadaan yang tidak mempunyai harta lagi.

Kemudian Ahmad Azhar Basyir juga memberi pernyataan tentang Ibnu sabil sebagai orang yang sedang melakukan perantauan atau perjalanan dan mengalami kehabisan atau kekurangan bekal.

Kekurangan atau kehabisan bekal tersebut yang menyebabkan orang tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan dan menyebabkan ia tidak dapat kembali ke tempat asalnya.

Orang-orang tersebut merupakan kelompok pengungsi yang meninggalkan kampong halaman guna melakukan penyelamatan akan diri atau agamanya dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan penguasa.

Penjelasan kedua tokoh ini didasari dari pendapat para fuqaha yaitu yang mengartikan ibnu sabil sebagai musafir yang mengalami kehabisan bekal.

Baca juga: Penjelasan Terbaru Tentang Pengertian Zakat Terlengkap Menurut Para Ulama

Kriterial Ibnu Sabil yang termasuk ashnaf

Seseorang dapat dikatakan sebagai ibnu sabil, ketika orang tersebut melakukan perjalanan dan mengalami kehabisan bekal yang menyebabkan dirinya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk kembali ke tempat asalnya.

Orang tersebut tetap dikatakan sebagai ibnu sabil yang termasuk dari ashnaf yaitu orang yang berhak menerima harta zakat ketika benar-benar terputus darinya harta benda yang dimiikinya.

Bahkan jika orang tersebut termasuk dari orang kaya, yang dalam artian dirinya tidak memiliki kemungkinan untuk menerima kembali harta bendanya dikarenakan ada beberapa faktor yang menghalanginya.

Namun, beda halnya jika dirinya memiliki kemungkinan untuk mendapatkan kembali harta yang dimilikinya, maka dirinya tidak bisa dikatakan sebagai ibnu sabil yang berhak menerima harta zakat.

Yusuf Qardhawi dalma kitab Hukuk Zakat yang diterjemahkan oleh Salman Harun dkk bahwa sebagain ulama madzhab Hanafi berpendapat tentang orang kaya yang bisa menerima zakat dikarenakan bagian dari ibnu sabil adalah para mujahid.

Para mujahid termasuk ibnu sabil yang berhal menerima harta zakat, walau di tempat asalnya mereka kaya tapi dikarenakan keterputusnya mereka dari harta benda mereka.

Seiring berkembangnya pendapat di kalangan ulama, ada faktor lain yang menjadikan seseorang bisa dikatakan sebagai ibnu sabil yang berhak menerima zakat selain faktor kehabisan bekal.

Apa itu?

Faktor lain tersebut ialah orang yang sedang memerlukan bekal untuk melakukan perjalanannya. Dapat dimislakan dengan seseorang yang hendak belajar di tempat yang jauh, maka ia berhak mendapat zakat sebagai ibnu sabil.

Begitulah sebagian dari ulama madzhab Syafi’i berpendapat tentang kriterial ibnu sabil. Pendapat tersebut dikutip dalam ibid halaman 655.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa seseorang dapat dikatakan bagian dari kelompok ibnu sabil yang termasuk ashnaf ketika ia kehabisan bekal atau membutuhkan bekal dan melakukan perantuan atau perjalanan.

Kaya atau miskin, buka termasuk dari kriterialnya sebagai ibnu sabil yang berhak menerima zakat. Sehingga kedua kriterial tersebut harus terpenuhi, tidak bisa salah satunya saja.

Jika hanya satu atau salah satunya saja yang terpenuhi dari kedua kriterial atau syarat tersebut, maka belum bisa dikatakan sebagai ibnu sabil yang berhak menerima harta zakat.

Seperti orang yang menertap di rumah dan kehabisan bekal, belum termasuk kelompok ibnu sabil, tapi bisa masuk kelompok fakir miskin atau orang yang dalam berjalanan tapi tidak mengalami kehabisan bekal.

Sebab pada dasarnya, pemberian harta zakat kepada ibnu sabil tersebut bertujuan untuk memberi kemudahak kepadanya untuk kembali ke tempat harta benda yang dimilikinya atau tempat asalnya.

Ternyata pendapat yang menyatakan seseorang dikatakan sebagai ibnu sabil yang berhak menerima zakat tidak selama ketika dalam perjalanan dan kehabisan bekal.

Sebab Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa tunawisma juga termasuk dari ibnu sabil yang berhak menerima zakat dikarenakan mereka termasuk anak dari jalanan.

Lebih uniknya lagi, tunawisma dapat menerima zakat dari kelompok ibnu sabil dan sifat faqir yang dimilikinya.

Dalam pemberian zakat untuk tunawisma dari kelompok ibnu sabil dapat berupa sesuatu yang mengeluarkan mereka dari jalanan, seperti tempat tinggal yang layak.

Sedangkan dikarenakan sifat faqir yang melekat pada dirinya dapat berupa sesuatu yang bisa mencukupi biaya hidupnya dalam kadar tidak belebihan atau kekeurangan.

Pendapat Yusuf Qardhawi ini tercantum dalam kitab Fiqh az-Zakat. Sehingga aspek adanya perjalan tidak lagi melekat pada ibnu sabil, tapi lebih kepada aspek jalanan yang menjadi tempat tinggalnya.

Sebab pada hakikatnya, tunawisma bukamlah diakibatkan oleh perjalanan yang menyebabkan mereka menjadikan jalanan sebagai tempat tinggal.

Melainkan dikarenakan keadaan ekonomi mereka.

Sehingga, ibnu sabil lebih idealnya mendapatkan harta zakat dari kelompok fakir miskin bukan dari ibnu sabil. Hal inilah yang menyebabkan pendapat Yusuf Qardhawi ini perlu didalami lagi lebih lanjut.

Karena ada juga tunawisma yang melakukan perjalan, tapi bukan untuk melakukan suatu pekerjaan. Melainkan untuk mencari sedekah atau untuk memperoleh zakat di tempat yang ditujunya.

Demikianlah pemaparan kami menganai ibnu sabil yang termasuk dari ashanf yaitu orang yang berhak menerima harta zakat.

Semoga dapat dipahami dan bermanfaat untuk #sahabatrumi. Wallahu ‘Alam……

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?