Raih Keutamaan Membangun Masjid dengan Infaqmu – Infaq Pembangunan Masjid

Masjid atau biasa disebut jugad dengan istilah baitullah sebagai tempat ibdah umat Islam memiliki banyak keutamaan, baik itu untuk ibadahnya atau membangun bangunannya. Seperti itu pula ketika melakukan infaq pembangunan masjid.

Beberapa ibadah yang dikerjakan di masjid memiliki nilai tersendiri dari ibadah yang dilakukan diluar masjid. Sebagaimana kita ketahui bahwa pahala untuk sholat wajib 5 waktu bagi lelaki memiliki keutamaan 27 derajat daripada dikerjakan di rumah.

infaq pembangunan masjid
infaq pembangunan masjid

Tidak hanya sholatnya saja, melangkahkan kaki ke masjid pun bernilai pahala. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwasanya langkah menuju masjid dicatat sebagai kebaikan dan dihapusnya kejelekan.

Begitulah kabar yang didapatkan dari lisan sahabat Rasulullah Abu Hurairah Radhiyyallahu ‘Anhu. Masih dari Abu Hurairah, dikatakan bahwa langkah menuju masjid disebut sebagai bentuk shodaqoh.

Dan masih banyak lagi kabar atau berita yang disampaikan dari lisanus shidiq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Jika nilai pahala ibadahnya saja begitu menakjubkan, lalu bagaimana dengan mereka yang ikut andil dalam pembangunannya.

Tentu yang dimaksud ialah pembangunan masjid yang dijadikan sebagai tempat ibadah umat islam. Salah satu dari mereka yang ikut andil dalam pembangun bangunannya ialah orang-orang yang berinfaq, shodaqoh atau pewakaf dalam proses tersebut.

Infaq untuk pembangun masjid hukumnya ialah sunah sebagaimana hukum dasar infaq yaitu sunah. Tapi, infaq pembangunan masjid ini akan bernilai pahala shodaqoh jariyyah.

Sebelum kita membahas lebih lanjut lagi mengenai orang-orang yang melakukan infaq pembangunan masjid. Kita akan mengenal dulu apa itu masjid, keutamaan-keuatamaan yang dimilikinya.

Baca juga: Keutamaan Infaq Subuh Langsung Mendapatkan Doa Mustajab Oleh Dua Malaikat

Berikut ini pemaparannya;

Pengertian Masjid

Perlu adanya pembahasan mengenai pengertian dari masjid. Karena tidak sedikit mayoritas orang akan memahami makna ‘masjid’ dari apa yang dilihatnya bukan pada apa yang dipahami secara mendetail dan mendalam.

Masjid berasal dari ismul makan dari kata kerja dalam bahasa Arab sajada-yasjudu yang berarti bersujud. isim makan tersebut memiliki 2 letak harokat yang memberi makna yang berbeda.

Jika isimul makannya مَسْجِدٌ dengan kasroh untuk jim, maka berarti Masjid atau tempat khsus untuk melaksanakan shalat 5 waktu dan shalat jum’at. Tapi, jika harokat fathah مَسْجَد ada untuk jimnya, maka berarti tempat sujuf untuk dahi.

Dapat dikatakan bahwa masjid secara bahasa ialah tempat untuk sujud. Makna inilah yang dikemudiannya berkembang menjadi sebuah bangunan yang kita kenal sekarang sebagai tempat ibadah umat Islam.

Pengambilan kata Masjid dari kata bahasa Arab sajada ini memiliki rahasia yang unik. Sebagaimana ungkapan Ulama yang hidup pada tahun 745 H – 794 H yaitu Imam Muhammad bin Abdullah Az Zarkasyi Rahimahullah.

Kata masjid diambil dari kata Sajada dikarenakan sujud merupakan bentuk perbuatan yang agung dalam shalat, waktu dimana seorang hamba dekat dengan Rabbnya, sehingga nama tempat dari kata Sajada ialah Masjid.

Nama masjid yang dikhususkan untuk tempat perlaksanaan shalat 5 waktu itu dikaitkan pada ke‘urf atau tradisi di kalangan masyarakat Muslim. namun, hal itu tidak menjadikan tanah apang yang biasa digunakan untuk shalat Ied sebagai Masjid.

Sedangkan pengertian masjid sesuai istilah syar’i ialah sebuah tempat yang dijadikan tempat shalat yang digunakan secara terus menerus. Pada dasarnya masjid adalah semua tempat di buni ini karena dapat dipakai untuk bersujud kepada Allah.

Begitulah kamus rosul yang diriwayatakan dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, yang tercantum dalam al Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523. Hadits serupa juga diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyyallahu ‘Anhu dalam Muttafaq ‘Alaihi.

Hadits Muttafaq ‘Alaihi tersebut terdapat dalam al Bukhari di Kitab Tayammum, Bab Haddatsana Abdullah ibnu Yusuf No. 335 dan dalam Muslim di Kitab Al Masajid, Bab Al Masajid wa Mawadhi’ush Shalat No. 521.

Dalam Syarah An nawawi ‘ala shahih Muslim; 5/5 Imam an-Nawawi menyatakan adanya pembolehan untuk shalat di semua tempat kecuali tempat tersebut ada larangan secara Syara’.

Dalam hal ini ada ketentuan khusus untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan umatnya. Berbeda dengan Para Anbiyya sebelum beliau, mereka hanya diperbolehkan untuk shalat di tempat-tempat khusus.

Contoh tempat khusus yang dimaksud dalam kitab yang ditulis oleh al-Qurthubi Juz 2/117 dengan judul Al Mufhim Limaa Asykala Min Talkhish Kitab Muslim ialah gereja-gereja atau biara-biara.

Keutamaan-Keutamaan Masjid

Berikut ini keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh masjid sebagai tempat ibadahnya umat Muslim;

1. Masjid ialah baitullah atau rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di Bumi. Pernyataan demikian tercantum jelas dalam firman-Nya di ayat ke-18 surah al-Jin.

2. Masjid merupakan tempata yang sangat dicintai oleh Allah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan begitu pula oleh orang-orang mukmin yang shaleh.

Pernyataan tersebut selaras dengan hadits yang tercantum dalam Muslim (1473), Ibnu Khuzaimah (1293) dan Ibnu Hibban (1600), yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.

Hadits serupa juga diriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu bahwa masjid merupakan rumah bagi setiap mukmin yang bertaqwa. Hadits tersebut dirajihkan oleh Abu Nu’aim dalam al Hilyah (6/176) dan Al Albany dalam as Silsilah ash Shahihah (2/341).

3. Meningkatkan indicator kebaikan iman, sebab di dalam masjid melakukan banyak amal kebaikan seperti shalat, dzikir, membaca al-Quran dan lain sebagainya.

Keutamaan ini tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu oleh at Tirmidzi No. 2617 dan Ahmad dalam Musnadnya No. 7325.

Hadits tersebut dikatakan oleh Syaikh Nashirudin Al Albani mengatakan tidak shahih dan sanadnya tidak hasan. Sebagaimana dalam Tamamul Minnah: hal 291 dan Lajnah Daimah dalam fatwanya hal. 4/444 yang melemahkan hadits tersebut.

Baca juga: Sukseskan Program Bangun Masjid, Rumah Infaq Bersinergi Dengan Berbagai Pihak

Fungsi Masjid

Masjid tidak hanya sekedar tempat untuk mendirikan shalat 5 waktu saja melainkan juga sebagai madrasah nabawiah dan menara ilmu. Tempat dimana hati dan pikiran, fisik dan jiwa para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum digembleng oleh Rasulullah.

Fungsi masjid tersebut disaksikan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum. Berbicara tentang fungsi masjid Dr. Musthafa As Siba’i mengatakan bahwa masjid adalah aktifitas pertama yang dikerjakan oleh Rasulullah ketika sampai di Madinah.

Hal demikian menggambarkan pentingnya masjid. Dari masjidlah lahirlah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid, Saad, Abu Ubaidah dan tokoh Islam lainnya dan dari masjid pula lahir para ulama dari murid-murid Madrasah Muhammadiyah.

Semua itu adalah hasil cetakan dari Masjid. Masjid berfungsi dalam menyatukan barisan, membersihkan jiwa dan hati serta dari masjid pulalah masalah diselesaikan. Dari masjid hiduplah peradaban Islam.

Demikianlah kutipana dari buku Sirah Nabawiyah, Durus wa ‘Ibar yang ditulis Dr. Musthafa As Siba’i hal. 74.

Keutamaan Infaq Membangun Masjid

Membangun masjid termasuk daripada shodaqoh jariyyah atau bernilai pahala yang akan terus menerus menyalir walau sudah meninggal dunia.

Sebagai salah satu dari bentuk shodaqoh jariyyah, membangun masjid memiliki keutamaan-keutamaan yang akan diraih ketika melakukan infaq pembangunan masjid.

Dibangunkannya istana di syurga sebagaimana melakukan infaq pembangnunan masjid. Kabar gembira demikian tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari No. 450 dan Muslim No. 533.

Ada 2 tafsiran untuk hadits di atas menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, 5:14, yaitu;

• “Semisal” yang dimaksud dalam hadits di atas ialah akan dibangunkan istana di syurga atas infaq pembnagun masjidnya namun dalam artian yang berbeda.

Maksudnya, luas dan lainnya adalah memiliki keutaman bangunan di syurga.

• Keutamaan bangunan di syurga yang akan didapatkan oleh mereka yang melakukan infaq pembangunan masjid ialah sebagai bukti bahwa masjid di dunia memiliki keutamaan dibandingkan denganrumah-rumah di dunia.

Keutamaan ini tetap didapatkan walau hanya melakukan infaq pembangunan masjidnya dengan satu bata. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ibnu ‘Abdillah Radhiyyallahu ‘Anhu.

Ada kata Mafhash Qathaah dalam hadits yang dikatakan oleh al-Hafidz Abu Thahir berkata mengenai hadits yang disebut dengan hadits shahih yang tersebut tercantum dalam Ibnu Majah No.7378 memiliki makna unik.

Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ibnu ‘Abdillah Radhiyyallahu ‘Anhu.

Hadits tersebut tercantum dalam Ibnu Majah No.7378, al-Hafidz Abu Thahir berkata mengenai hadits yang disebut dengan hadits shahih. Makna Mafhash Qathaah memiliki makna yang berbeda dengan yang lain.

Ibnu Hajar dalam al-fath 1:545 menjelaskan makna uni yang terkandung di balik istilah Mafhash (Tempat burung menaruh telurnya) dan Qathaah (Jenis burung) ialah siapa yang mengambil andil dalam pembagunan masjid walau itu bagian kecil.

Maka ia akan memperoleh keutamaan pertama ini. pernyataan ini diperkuat oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir.

Larangan dalam Infaq Pembangunan Masjid

Ada beberapa larangan yang ditekankan dalam infaq pembangunan masjid. Salah satunya ialah larangan u ntuk menjadikan masjid sebagai alat untuk pamer dan berbangga diri. Sehingga tercelah membangun masjid yang megah, tapi bukan untuk ibadah dan amal kebaikan lainnya.

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas Radhiyyallahu ‘Anhu. Hadits tersebut terdapat dalam Abu Dawud No.449, Ibnu Majah No.739, an-Nasa’i dan Ahmad 19:372 bahwasanya siapa yang berbangga dalam membangun masjid akan terjadi.

Sanad hadits di atas shahih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah al-Fauzan dan Tsiqah serta al-Hafidz Abu Thahir. Pemaparan ini dapat kami antarkan sampai tujuan dengan sangat mudah dan elegan.

Demikianlah pamaparan kami mengenai infaq pembangun masjid. Mari meraih keutamaan masjid dan keutamaan yang akan didapatkan dalam membangun masjid.

Dalam memgambil andil dalam golongan orang membangun masjid, maka pastikan niat infaq pembangunan masjidnya ikhlas Lillahi Ta’ala. Sebagaimana kata Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari 1:545.

Semoga bermanfaaat…

Wallahu ‘Alam

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?