Sebenarnya Berapa Raka’at Shalat Tarawih itu?

Rumahinfaq.or.id – Shalat tarawih adalah salah satu shalat sunnah malam yang bertujuan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan atau qiyamu Ramadhan. Namun, yang menjadi perdebatannya sampai sekarang adalah jumlah raka’at shalat tarawihnya?

Ada yang berpendapat 1 raka’at, 23 raka’at, bahkan ada yang berpendapat dengan 46 raka’at. Baik, 11 raka’at, 23 raka’at atau pun 46 raka’at, semua itu adalah jumlah raka’at shalat tarawih dan witir.

rakaat shalat tarawih
rakaat shalat tarawih

Sebelum kita lanjut ke pembahasa, yang perlu diingat bahwa shalat tarawih ada shalat yang memiliki bentuk jamak dalam bahasa Arab yaitu “Tarwihatun” yang berarti “Waktu sesaat untuk istirahat”.

Maksudnya ialah shalat tarawih adalah shalat yang memberi ketenangan setelah pelaksanaannya. Sehingga yang sebelum shalat dalam keadaan tidak ada ketenangan menjadi dalam keadaan tenang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa shalat tarawih tidak bisa dikerjakan dengan tergesa-gesa agar setiap raka’at shalat tarawih mendapatkan tujuan dilaksanakannya shalat ini dengan adanya jeda untuk istirahat.

Jeda istirahat ini tergantung dari jumlah raka’at yang dipilih, seperti yang 11 raka’at akan memberi jeda istirahatnya di setiap 2 raka’atnya atau 4 raka’atnya.

Lalu berapa jumlah raka’at shalat tarawih yang sebenarnya?

A. Jumlah Raka’at Salat Tarawih

Dalam buku Super Lengkap Shalat Sunah, Ubaidurrahim El-Hamdy menyatakan bahwa shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan dengan cara berjam’ah pada setiap malam di bulan Ramadhan.

Sedangkan shalat yang dikerjakan di luar malam-malam di bulan Ramadhan disebut dengan shalat Tahajud.

Shalat tarawih adalah shalat malam yang merupakan ibadah yang utama yang dikerjakan di bulan Ramadhan untuk menghidupkan qiyamu Ramadhan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

Ibnu Rajab Rahmatullah berkata dalam Lathoif Al Ma’arif bahwa seorang mukmin mempunyai 2 jihadun nafs atau jihad pada jiwanya yang harus dilakukannya di bulan Ramadhan.

Kedua jihadun nafs itu adalah jihad di siang hari dengan cara mengerjakan puasa dan jihad di malam hari dengan cara mendirikan shalat malam. Dan apabila kedua ibadah tersebut disatukan, maka pahala yang tidak terbatas akan didapatkan.

Hukum shalat tarawih sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Dr. Sholih Al-Fauzan adalah sunah muakkadah atau shalat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah atau yang sering dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam.

Sehingga Rasulullah sering melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah rakaat shalat tarawih dan witirnya adalah 11 raka’at atau 13 raka’at yang ditambah dengan 2 raka’at shalat isfittah atau shalat pembuka.

Pendapat tersebut seperti yang Rasulullah kerjakan yang dikabarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyyallahu ‘Anhaa. Hadits tersebut tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Raka’at shalat tarawih tersebut yaitu 11 raka’at dikerjakan dengan cara 4 + 4 shalat tarawih + 3 shalat witir atau 2 + 2 + 2 + 2 shalat tarawih +3 Witir.

Tata cara pelaksanaan raka’at shalat tarawih tersebut terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukahri dan Muslim dari Ibnu Umar. Akan tetapi kedati demikian, jumlah pelaksanaan shalat tarawih tidah dibatasi oleh Rasulullah.

Ibnu Abi Syaibah menyatakan bahwa pada masa Khalifah Umar Ibnu Abdul ‘Aziz dan Aban ibnu Utsman di Madinah shalat tarawih dikerjakan sebanyak 39 raka’at.

Sedangkan dengan jumlah raka’at shalat tarawih 40 raka’at dan 9 raka’at witir dikerjakan oleh umat muslim di masa Khalifah Umar ibnu Ubaidillah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga berkata bahwa jumlah raka’at tersebut yaitu 11, 23 raka’at atau lebih diperbolehkan.

Akan tetapi jumlah raka’at shalata tarawih yang lebih utama dan sangat bagus adalah jumlah raka’at yang disesuaikan dengan kondisi para jama’ahnya.

B. Landasan Jumlah Raka’at shalat tarawih

Berikut landasan hukum dalam menunaikan ibadah shalat tarawih, baik dengan jumlah 11 raka’at atau pun 23 raka’at:

1. Jumlah 11 raka’at

Shalat tarawih dikerjakan dengan jumlah 11 raka’at berdasarkan dari beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yaitu;

Landasan pertama

Landasan pertama ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah mengerjakan shalat du raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at Pertama, kemudian dua raka’at.

Setelahnya Rasulullah melaksanakan shalat witir yaitu 1 raka’at hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Landasan kedua

Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Salamah Ibn ‘Abdul Rahman, jika Abu Salamah bertanya kepada Aisyah Radiyyallahu ‘Anhaa tentang jumlah raka’at shalat tarawih Ramadhan.

Rasulullah mengerjakan shalat tarawih dengan 4 raka’at, 4 raka’at dan Beliau menutup 3 raka’at dengan witir, yang panjangnya dan baiknya tidak diperlu dipertayakan lagi.

2. Jumlah 23 raka’at

Dalam jumlah raka’at shalat tarawih ini, Syamsul menyampaikan 3 landasan utamanya, yaitu;

Landasan pertama

Dalam sebuah haidts menyatakan bahwasanya Rasulullah melaksanakan shalat tarawih secara sendiri di bulan Ramadhan sebanyak 20 raka’at.

Pernyataan tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Baihaqi dan Thabrani.

Landasan kedua

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hajar bahwsa suatu malam di bulan Ramadhan mengerjakan shalat sebanyak 20 raka’at bersama kaum Muslim.

Landasan ketiga

Jumlah raka’at shalat tarawih ini dapat dilihat dalam kitab Al-Muwaththa’ yang menceritakan kisah Khalifah Umar ibnu Khaththab yang menyelenggarakan 23 raka’at shalat tarawih dan witir.

Begitulah keterangan yang disampaikan oleh Yazid ibnu Huzaifah dan dicatat dalam Sejarah Islam.

Dan hampir ke-4 ulama madzhab, yaitu Imam Malik Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad ibnu Hambal, dan Dawud azh-Zhahiri memilih untuk mengerjakan shalat tarawih dengan 20 raka’at.

20 raka’at shalat tarawih tersebut akan ditutup dengan 3 raka’at shalat witir.

Berapa pun jumlah raka’at shalat tarawih yang dikerjakan tidak menjadi masalah. Sebab kedua-duanya mempunyai dasar dan landasan hukum masing-masing.

Menjadi masalah ketika shalat sunnah tarawih di bulan Ramadhan ini tidak dikerjakan!!!

Dengan adanya perbedaan pendapat tentang jumlah raka’at shalat tarawih ini tidak lantas menjadikan seseorang dengan mudah untuk membid’ahkan orang yang tidak sependapat dengan dirinya.

Dan bukanlah sikap yang benar ketika menganggap pendapat kita benar sedangkan pendapat orang lain itu salah, seperti kita mengerjakan 20 rakaat shalat tarawih dan orang yang mengerjakan shalat tarawih 11 raka’at itu salah.

Sikap ini sungguh tidak tepat!!!

Lebih tetap ketika mengerjakan shalat tarawih sebagaimana kemampuan yang dimiliki masing-masing individu Muslimnya dan kesepakatan jumlah yang sudah disepakati bersama dengan jama’ahnya.

Berapa pun jumlah raka’at shalat tarawih yang ingin dikerjakan, yang paling penting dan utama adalah kekhusyu’an dan tuma’ninah dalam melaksanakannya, baik itu secara sendiri maupun secara berjama’ah di Masjid.

Kekonsitensialnya pun harus diperhatikan agar kemerosotan jumlah jam’ah dari hari ke hari tidak mengalami penurunan. Begitu pula ketika dikerjakan sendiri, supaya tetap rutin dikerjakan walau pada dasarnya ini adalah amalan sunnah.

Dan makna shalat tarawih pun tetap tercapai yaitu mendapatkan perubahan dalam melaksanakannya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Salah satunya dengan tidak terburu-buru dan tidak tergesa-gesa dalam membaca ayat-ayat al-Qur’annya.

Jadi, tidak usah lagi mendebat tentang sesuatu yang sudah memiliki dasar masing-masing, ya!!

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?