Wajib Ketahui Tata Cara Infaq yang Benar Menurut Agama Islam

Rumahinfaq.or.id – Masyarakat Indonesia masih kurang memahami pengamalan dari sedekah dan infaq di tengah keseharian mereka. Walau kedua amalan ini sunah tapi ada yang perlu diperhatikan dari keduanya, yaitu tata cara infaq yang benar dan baik.

Tentu standar benar dan baik suatu amalan itu dilihat dari kaca syariat dan tuntutan ajara islam. Begitu pula tata cara bersedekah yang sudah dijelaskan secara mendetail dalam ajaran islam.

cara infaq yang benar
cara infaq yang benar

Baik cara infaq yang benar maupun dalam bersedekah, keduanya sama-sama perlu diperhatikan ketika seseorang hendak mengeluarkan infaq dan sedekahnya. Selain daripada mengikuti ajaran islam, hal demikian akan lebih mendekatkan pada kebaikannya.

Infaq dan sedekah adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang dari kelebihan harta yang ia miliki atau dapatkan. Ini juga yang menjadi sebab perlunya kita memahami cara infaq yang benar, agar kehendak dan niat baik itu mendapatkan balasannya.

Walau pun pada dasarnya kedua amalan tersebut bisa dikeluarkan kapan saja, dimana saja dan dalam jumlah yang dikehendaki oleh munfiq. Demikian itu tidak menghentikan kita untuk mengetahui tata cara infaq yang benar.

Sebab, jika cara infaq yang benar tidak diterapkan, maka niat berinfaq dan sedekah akan berakhir sia-sia dan amalan infaq tersebut tertolak atau tidak diterima oleh Allah. Sehingga, pada akhirnya hanya tertinggal capek dan lelahnya saja.

Hal demikianlah yang mengharuskan kita untuk memami dengan baik cara infaq yang benar, agar amalan infaq kita tercapai niat dan tujuannya. Dan infaq yang dikeluarkan berada di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berikut ini kami paparkan cara infaq yang benar yang sesuai dengan tuntutan ajaran islam;

Baca juga: Penjelasan Paling Lengkap Tentang Perbedaan Infaq dan Sedekah Dalam Islam

Tata Cara Infaq

Walau dasarnya sunah, tapi Rasulullah sangat memperhatikan amalan ini. hal demikian terbukti dengan anjuran beliau dalam cara infaq yang benar, sebagaimana berikut ini;

1. Niat

Hal yang pertama dan utama dalam cara infaq yang benar ialah niat. Niat dalam sebelum mengeluarkan harta untuk berinfaq haruslah diniatkan dengan tulus dan benar.

Karena segala amal pada dasarnya tergatung dari niat yang diniatkan oleh pelaksana amalan tersebut. Tentu niat ini harusnya hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.

Niat berasal dari kata mashdar bahasa Arab ‘niyat’ yang memiliki beberapa makna diantaranya al-Qashadu (Maksud atau tujuan) dan al-Hifzhu (Penjagaan).

Secara istilah ada perbedaan dalam arti niat, menurut al-Malikiyyah niat adalah tujuan yang dikendaki dari suatu amalan yang dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan asy-Syafi’iyyah menyatakan suatu maksud yang datang bersama dengan perbuatan tersebut disebut niat.

Pernyataan tersebut sesuai dengan definisi dari Imam al-Jamal dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala al-Manhaj. Baik al-Malikiyyah atau asy-Syafi’iyyah mengemukkan bahwa niat adalah rukun dari suatu amalan.

Mengenai niat yang tulus dan benar, Rasulullah pernah menyampaikan kalamnya. Kalamurrasullah ini dijadikan oleh sahabat yang mulia al-Faruq sebagai landasannya dalam melakukan segala perbuatn baik atau amal sholeh.

Kalamurrasullah atau hadits tersebut adalah hadits yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Imam Ahmad. Hadits tersebut terekam dalam buku Fathul Bari No.54.

Baca juga: Penjelasan Paling Lengkap Tentang Prioritas Utama Urutan Penerima Infaq

Dari hadits tersebut dapat diambil 3 keutamaan dari suatu amalan yang diawali dengan niat, yaitu;

  1. Amalan tidak akan diterima tanpa didasari dengan niat.
  2. Balasan berupa pahala atau siksaan yang didapatkan oleh seseorang dilihat dari niatnya.
  3. Ada 3 bagian dari perbuatan atau amalan manusia, yaitu dalam keta’atan dan kemaksiatan, termasuk juga amalan mubah.

Imam An-Nawawi berpendapat bahwa keshahihan amal perbuatan seseorang tergantung niatntya. Sebagaimana dicatat oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam ‘Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1’.

Pemaparan di atas dalam memberi kita pemahaman bahwa niat itu sangatlah penting sebelum melakukan suatu amalan. Sehingga cara infaq yang benar ialah harus dengan niat yang tulus dan benar karena Allah semanta saja.

2. Harta terbaik dan halal

Cara yang kedua untuk menerapkan cara infaq yang benar ialah dengan harta yang halal dan baik. Infaq adalah amalan sunah dalam islam, akan tetapi amalan ini juga harus dikeluarkan dari harta yang halal dan thayyib.

Menyukai sesuatu yang thayyib atau baik dan yang halal. Maka, sisihkan miliki atau didapartkan dari penghasilanmu yaitu harta yaitu harta halal dan thayyib baik, dari cara mendapatkannya maupun zat harta tersebut.

Suatu kebaikan tidak akan datang kecuali dipancing dengan suatu yang baik pula. Begitu pula dalam berinfaq, maka perlunya harta yang dikeluarkan itu adalah harta yang terjamin kehalalannya dan kethayyibannya.

Harta tersebut juga harus dari harta yang terbaik yang dimiliki. Harta terbaik pastilah harta yang kehalalannya dan kethayyibannya sudah sesuai dengan aturan dalam ajaran islam.

Baca juga: Perbedaan Infaq dan Sedekah Dalam Islam

Jika, harta yang dikeluarkan untuk berinfaq atau bersedekah adalah harta yang buruk, baik dari segi cara mendapatkannya maupun zatnya, maka infaq yang dikeluarkan tertolak atau tidaklah diterima.

Hal demikian terjadi disebabkan tidak mengikuti cara infaq yang benar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala. Demikian pula tidak selaras dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan al-Baihaqi.

Harta dari berkhianat yang dimaksud dalam hadits tersebut ialah harta y ang diperoleh dari cara yang curang atau menipu orang lain.

Harta tersebut jika digunakan untuk berinfaq dan bersedekah atau amalan lain yang berkaitan dengan harta, tidak akan diterima amalan tersebut. Begitu pula jika menggunakan harta yang haram.

Harta yang haram ialah harta yang cara mendapatkannya dengan cara yang haram atau diharamkan dalam ajaran Islam. Zat harta tersebut juga haram untuk dinikmati dan dikeluarkan untuk infaq atau amalan lainnya.

Jika harta dari 2 jenis harta di atas digunakan untuk infaq, walaupun dalam jumlah yang besar tetap akan tertolak atau tidak diterima. Sebab, sesuatu yang haram atau tidak suci tidaklah pantas untuk Allah yang Maha Suci.

Dan kebaikan yang dalam hal ini ialah infaq tidak akan menerima sesuatu yang haram atau buruk

Bukan jumlah harta yang dilihat dalam berinfaq, sedekah tapi yang paling perlu diperhatikan dan dipenuhi ialah cara mendapatkan harta tersebut dan zatnya. Hal demikian bertujuan untuk memenuhi standar dalam ajaran islam.

Kehalalan dan kethayyiban harta adalah salah satu keriterial yang diminta dalam tata cara infaq yang benar dan baik sesuai dengan tuntutan yang Allah perintahkan dan yang Rasulullah ajarkan dan anjurkan.

Baca juga: Keutamaan Sedekah Subuh Setiap Hari

3. Tidak mengungkit yang telah diberikan

Hal yang paling penting juga dalam cara infaq yang benar ialah tidak mengungkit apa yang telah diberikan. Tidak mengungkit ialah tidak menyebut-nyebutkan apa yang telah diinfaqkan.

Karena ditakutkan akan menghadirkan sifat riya atau berbangga diri atau sombong. Cukuplah apa yang diberikan tersebut diketahui oleh dirinya dan Allah yang Maha Mengawasi.

Riya atau berbagga diri atau sombong dapat menghapus atau menghanguskan amalan yang telah dikerjakan dan amalan tersebut akan berakhir sia-sia saja.

Selain waktu yang dirugikan, harta pun tidak bermakna jika apa yang telah diberikan tersebut disebut-sebut lagi.

Perihala mnegungkit apa yang telah diberikan ini juga dapat menyakiti orang yang menerima infaqknya. Dan hal itu sangatlah dilarang oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala.

Hal demikian telah diingatkan dan dilarangnya oleh Allah dalam firman-Nya ayat 262 surag al-Baqarah.

Jika ke-2 sikap tersebut dihindari, maka Allah menjanjikan kedamaian dari kekhawatiran dan kesedihan sebagai balasan atas tidak menyebut-nyebut infaq yang dikeluarkan dan tidak menyakiti penerima infaq tersebut.

Menyakiti yang dimaksud baik itu dengan kata-kata maupun dengan tindakan yang dapat menyebabkan mereka merasakan tersakiti perasaannya.

Demikianlah beberapa tata cara infaq yang benar yang dapat terapkan dalam pengamalannya. Inti dari semua itu adalah dilakukan karen Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata untuk mendapatkan ridho-Nya dan tidak ada tujuan dilihat orang lain.

Diniatkan untuk akhirat walau pada akhirnya dilihat orang untuk dicontohkan dalan keseharian mereka. Maka demikian itu akan menjadi kebaikan tersendiri untuk pelaksana amalan tersebut atau dalam hal ini si munfiqnya.

Awal dari segala hal ialah niatnya, jika benar niatnya maka baik dan benarlah amalan tersebut, InsyaAllah. Dan sebaliknya, jika salah niat awalnya maka buruklah akhir dari amalan tersebut. Wallahu ‘Alam….

Jadi, ayo kita berinfaq dengan cara infaq yang benar dan baik, sekarang! Dan raihlah kebaikan dari infaq tersebut!!!

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?