Yuk, Kita Cari Tau Cara Menghalalkan Uang Haram Agar Hidup Kita Berkah

Rumahinfaq.or.id – Taukah anda, jika uang haram hanyalah sebuah istilah atau perumpaan yang digunakan oleh masyarakat untuk menjelaskan bahwa uang tersebut didapatkan dari caranya haram. Lalu, apakah ada cara menghalalkan uang haram tersebut?

Begitulah adanya istilah uang haram yang memiliki sifat haram caranya atau li ghairi dan tidak bersifat haram zatnya atau li zatihi. Sebab, yang haramnya ialah cara mendapatkan uangnya, bukan karena zat uang sendiri.

cara menghalalkan uang haram
cara menghalalkan uang haram

Cara yang menghasilkan istilah uang haram ialah seperti mencuri, merampok, memakan harta anak yatim, memakan warisan orang lain, korupsi dan cara lainnya yang diharamkan dalam Islam.

Sehingga uang hasil dari perbuatan-perbuatan di atas adalah contoh uang haram, haram karena cara mendapatkannya bukan karena zat uang atau hartanya tersebut.

Jika demikian nyata adanya, maka tidak memungkinkan untuk bisa mengubah istilah uang haram tersebut menjadi istilah uang halal atau cara mendapatkannya dari cara yang halal.

Tentu saja, ada beberapa cara menghalalkan uang haram tersebut dan cara yang paling mudah ialah mengubah cara mendapatkan uang haram tersebut, sebab yang kita ketahui uang haram tersebut ada karena cara mendapatkannya ialah dengan cara yang diharamkan.

Tapi, sebelum itu kita akan mengenal lebih dekat dengan uang harap terlebih dahulu. Berikut ini pemaparannya;

Tentang Uang Haram

Al-suht adalah nama untuk istilah uang haram. Kata al-suht berasal dari bahasa Arab sahata-yashut yang memiliki arti al-haram atau al-ladzi la yubarak fih, yaitu tidak ada kebaikan di dalam sesuatu tersebut.

Dalam syiddat al-ju’ kata al-suht menurut pakar bahasa al-Farra’ memberi makna ‘lapar’ atau ‘kelaparan’.

Sedangkan menurut pakar tafsir Ibn ‘Asyur, kata al-suht ialah semua uang atau pendapatan atau penghasilan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal atau cara yang haram. Seperti riba’, suap, dan al-maghshub atau barang-barang hasil curian.

Begitu juga memakan harta anak yatim serta beberapa pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dengan cara yang haram. Dan risywah atau uang dihasilkan dari suap adalah uang yang paling buruk.

Sebab, Rasulullah pernah menjawab ketika ditanyakan tentang makna al-suht. Jawab tersebut diriwayatkan oleh Ibn Jaririr dari Umar radhiyallahu ‘anhu yang mengabarkan tentang suap dalam bidang hukum atau peradilan.

Tidak hanya itu, ternyata al-Quran juga telah mengingatkan tentang uang haram. Di dalam ayat ke-276 surah al-Baqarah, uang haram disamakan dengan riba’. Sebab di dalam uang tersebut tidak mengandung kebaikan sama sekali, yaitu mamhuq.

Baca juga: Membantu Ekonomi Masyarakat Menengah Indonesia dengan Bank Infaq

Cara Menjauhkan Diri dari Al-Suht

Mantan Syekh al-Azhar Mesir, Jadul Haqq Ali Jadul Haqq dalam salah satu fatwanya mengingatkan kita kaum Muslim untuk menjauhkan diri dari al-suht. Berikut beberapa cara yang beliau tawarkan, yaitu;

1. Meninggalkan kebiasaan buruk

Cara pertama ini, Syekh Jadul Haqq merujuk kepada firman Allah di ayat ke-188 surah al-Baqarah. Dalam ayata tersebut beliau berfatwa untuk meninggalkan kebiasaan buruk, yaitu menghasilkan harta dengan cara-cara yang haram.

Cara-cara yang tidak halal atau haram ialah seperti korupsi, melakukan praktek suap dan manipulasi.

2. Tidak mendukung cara mendapatkan uang secara haram

Sebagaimana ayat ke-3 surah al-Maidah mengingatkan kita untuk membantu dan melakukan kerjasama dalam hal kebaikan dan hal-hal yang menambah ketakwaan.

Sehingga, dalam hal yang buruk atau perbuatan yang buruk seperti yang telah disebutkan di cara yang pertama tida boleh dibiarkan. Terutama membantu, mendukung dan melakukan kerjasama dengan pelakunya.

3. Mengingat Azab dan Siksaan Tuhan di Dunia dan Akhirat

Cara terakhir ialah dengan cara mengingat azab dan siksaan Tuhan, baik itu berupa azab dan siksaan Tuhan di dunia maupun di akhirat kelak. Sebab, Allah telah memberikan peringatan kepada kita di banyak hadits Rasulullah.

Iya, banyak hadits dan ayat-ayat al-Quran yang mengabarkan bahwa kelak di akhirat al-Suht dan sejenisnya akan diperlihatkan kembali oleh Allah kepada kita.

Salah satu ayatnya terdapat di ayat ke 161 surah Ali Imran yang memberitahukan bahwa pelaku korupsi, suap dan lainnya akan menghadap Allah dengan perbuatan buruknya tersebut.

15 Cara Menghalalkan Uang Haram atau Harta Haram

Setiap individu mempunyai masa lalu, dan tidak sedikit banyak individu yang memiliki masa lalu yang buruk. Sehingga ketika ia di masa sekarang ingin memperbaiki diirnya dan perbuatannya.

Sepetri halnya dalam pembahasan kita mengenai uang haram saat ini. Seseorang yang ingin melepaskan diri dari perbuatan buruknya di masa lalu terutama berkaitan dengan hartanya yang haram, ada beberapa cara yang bisa ia lakukan.

Berikut ini 15 cara menghalalkan uang haram atau harta haram, yaitu;

1. Menghancurkan arta aram

Dikisahkan oleh Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu tentang Abu Talhah yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Talhah radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang seseorang yang menyantuni anak yatim dengan harta warisan yang ia terima dan harta tersebut berupa khamr.

Rasulullah tegas menjawab “Tidak” ketika Abu Talhah menawarkan solusi untuk mengubah khamr menjadi cuka setalah Rasulullah memerintahkan untuk menumpahkan khamr tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan sebab larangan tersebut, yaitu khamr memiliki sifat keharaman yang permanen dan yang demikian itu berlaku untuk semua orang dan tidak boleh untuk diperjualbelikan.

Oleh karena itu, ketika seseorang yang ingin meninggalkan perbuatan buruknya tersebut atau menghalalkan hartnya dari keharaman, maka hendaklah ia menghacurkan khamr tersebut.

Tidak boleh khamr tersebut ia berikan kepada orang lain, sebab khamr akan menimbulkan bahaya di kedepannya.

2. Membuang harta haram

Dikisahkan bahwa ada seseorang lelaki yang membawa hadiah untuk Rasulullah berupa sekantong khamr. Ketika Rasulullah mempertanyakan pengatahuannya menngenai keharaman minuman itu, ia menjawab dengan kata “Tidak”.

Lalu ia meminta seseorang untuk menjualnya dengan berbisik-bisik. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata bahwa minuman itu haram dan memperjualbelikannya haram.

3. Dilarang menjual harta haram

4. melakukan Taubat dengan kesungguhan; merujuk pada firman Allah di ayat ke 278-279 surah al-Baqarah.

5. Meminta maaf kepada yang sudah dizalimi atau diambil hartanya

Cara ini kembali membawa kita kepada kisah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Safwan ibn Umayyah radhiyallahu ‘anhu yang dicuri bajunya ketika ia tidur di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia jadikan sebagai bantal.

Lalu ia memaafkan pencuri tersebut sebelum ia dipotong tanggannya sesuai hukum Islam yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

6. Memahami perbuatan buruk dan menyesali perbuatannya

7. Mengembalikan uang atau harta tersebut pada yang berhak, baik itu dimiliki secara perorangan atau instansi pemerintahan atau perusahaan atau yang lainnya. Sebab alasan mendapatkannya yang terlarang.

8. Mengakui perbuatan kepada orang yang dizalimi

9. harta haram tersebut dapat disalurkan guna kepentingan umat banyak atau bersama. Pendapat ini dikeluarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. aram.

10. harta haram tersebut diberikan guna Kepentingan Umat, seperti Masjid atau disalurkan untuk sedekah sunnah secara umum atau yang mencakup hal yang terdapat maslahatnya.

Pendapat ini dikemukkan oleh Imam Hanafiyah, Imam Malikiyah, Imam Ahmad, Hambali, dan Imam Ghozali dari ulama as-Syafi’iyah. Akan tetapi cara inin tidak dihitung sedekah ya, namun sebagai bentuk pembersihan harta haramnya.

11. Diberikan dan disalurkan kepada fakir miskin

Kemaslahat kaum muslimin dan fakir miskin selain buat masjid dapat dijadikan tujuan untuk penyaluran uang haram tersebut. Inilah pendapat ulama Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia.

Mereka berpendapat bahwa harta tersbeut tidak boleh disalurkan untuk pembangunan masjid. Sebab pembangunna masjid haruslah dari harta yang suci atau thohir.

12. Digunakan untuk Jihad

Ibnu Taimiyah berpendapat tentang harta haram yang disalurkan untuk jihad di jalan Allah atau fii sabilillah.

13. Menyumbangkannya untuk korban peperangan atau bencana alam

14. menyumbangkannya kepada ahli waris

Jika orang yang menghasilkan harta haram tersebut sudah meninggal, maka harta tersbeut dapat dibagikan kepada ahli warisnya dan didahulukan dengan taubat serta permintaan maaf.

15. menyumbangkannya dengan niat untuk orang yang dizalimi

Cara untuk Menghalalkan Uang Haram ala akun Twitter @indrawhan

Akun Twitter @indrawhan pada 2 Januari 2019 membagikan “Cara menghalalkan uang yang haram”.

Cara unik dan kreatif tersebut ialah dengan cara melipat uang dengan nominal 2.000 hingga wajah pahlawan dalam mata uang tersebut seperti memakai jilbab setelah wajahnya tertutup sempurna.

Lebih dari 14 ribu kali unggahan tersebut dibagikan, sehingga menarik perhatian warganet dan tidak sedikit dari mereka yang melakukan hal yang serupa demikian dan mengunggahnya di bagian kolom komentar.

Harta Haram akan menjadi Halal setelah Dizakatkan???

D. Setiawan pernah memberi pertanyaan via Tanya Ustadz for Android dan dijawab oleh

Ustadz Ammi Nur Baits selaku Dewan Pembina Konsultasisyariah.com. menjawab pertanyaan D. Setiawan via Tanya Ustadz for Android yang bertanyaan mengenai zakat dapat menjadi cara menghalalkan uang haram atau harta yang haram.

Berikut pemaparan dari jawaban Ustadz Ammi Nur Baits, yaitu;

Ayat 103 surah at-Taubah menjelaskan bahwa zakat dapat menyucikan harta. ayat inilah yang mendasari pertanyaan dari D. Setiawan. Akan tetapi, perlu kita bahwa suatu yang dapat disucikan ketika asalnya suci.

Sesuatu tersebut menjadi kotor ketika ada sedikit kotoran yang bercampur dengan sesuatu tersebut dan dapat dibersihkan dan disucikan dengan membayar zakat sebab asalnya memang sudah suci.

Akan tetapi, akan berbeda jika asal benda tersebut memang sudah kotor atau bersumber dari kotoran. Setelah dibersihkan pun dengan berbagai cara pun akan tetap kotor.

Sehingga uang atau harta yang haram yang jika dicampur dengan harta yang halal akan mengotori harta halal tersebut dan bersebab itulah harta haram tidak diterima pengeluaran zakatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda mengenai ditolaknya zakat dari harta ghulul atau haram dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Hadits yang tercantum dalam Muslim 224, Nasai 139, dan yang lainnya tersebut secara makna memberi pemahaman bahwa Allah hanya akan menerima zakat dari harta yang halal dan baik.

Hadits yang serupa juga diriwatakan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu oleh muttafaq ’alaih atau shahihain atau oleh Bukhari dan Muslim.

Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/249 dalam Ensiklopedi Fikih menyatakan bahwa harya yang haram itu semuanya kotor, yang menyebabkan harta tersebut tidak dapat dibersihkan.

Dijelaskan juga kewajiban atas harta haram tersebut ialah mengembalikan harta kepada pemiliknya, jika ada pemiliknya. Dan semua ulama di berbagai madzhab sepakat untuk mengeluarkan semua harta dari kepemilikannya ketika tidak mengetahui pemiliknya.

Demikian yang dapat kami sampaikan dan paparkan tentang cara menghalalkan uang haram atau harta haram. Semoga bermanfaat.

Waallahu ‘Alam

Donasi



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?