Yuk Kita Kupas Secara Tuntas Hukum Qurban dan Hukum Seputar Qurban!!!

Rumahinfaq.or.id – Idhul Adha yang ditandai dengan penyembelihan hewan qurban merupakan hari raya umat Muslim yang sangat dinantikan. Tapi tidak sedikit umat non-Islam yang juga ingin menyembelih hewan qurban, sehingga timbul pertanyaan tentang hukum qurban dalam Islam?

Oleh karena pembahasan tentang hukum qurban ini sangat diperlukan. Tidak hanya itu, pembahasan hukum qurban ini akan disertai dengan dalilnya, baik dari Al-Quran, maupun dari Hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

hukum qurban
hukum qurban

Langsung aja kita perhatikan pembahasan tentang hukum qurban dan dalilnya serta hukum seputar hal berqurban berikut ini.

Hukum Qurban

A. Hukum Berqurban bagi Muslim

Dikutip dari halaman website Nu Online, qurban memiliki yang bersifat sunnah ‘ain untuk orang yang tidak memiliki keluarga sebagai tanggungannya. Maksud dari pernyataan tersebut ialah hukum sunnah qurban tersebut hanya tertuju untuk personal atau secara individual.

Namun akan berbeda ketika seseorang tersebut memiliki keluarga, maka hukum qurban baginya adalah sunnah kifayah, yang dalam artian bahwa qurban adalah hal yang penting dan diperioritaskan, tapi tidak menjadi keharusan baginya.

Seperti dalam sebuah keluarga, ada yang sudah berqurban, maka anggota keluarga yang lainnya sudah tidak memiliki kewajiaban berkurban atau gugur kewajiban berkurban tersebut. kecuali jika kurban sudah menjadi suatu nadzarnya.

Baca juga: Daftar Harga Sapi Qurban Idhul Adha 2022 dari Rumah Infaq

B. Hukum Berqurban bagi Non Muslim

Jika bagi Muslim sudah jelas bagaimana hukum qurban yang mereka lakukan, maka hukum berqurban bagi non-Muslim perlu dibahas lagi.

Sebagaiman salah satu syarat berqurban ialah Islam, maka dapat dikatakan bahwa berqurban bagi non-Muslim ialah sah niatnya untuk berqurban tapi tidak dengan ibadah qurbannya.

Dalam hal ini Buya Yahya mengatakan bahwa daging qurban yang berasal dari agama selain Islam, maka nilai daging qurban tersebut adalah bersifat sedekah atau hadiah. Dan perlu diketahui, bahwa Muslim boleh menerima hadiah atau sedekah dari agama lain.

Sehingga dapat dikatakan, bahwa daging qurban dari non-Muslim tidak sah atas nama ibadah qurbannya tapi dapat diambil manfaatnya. Dan penerimaan daging qurban dari non-Muslim adalah bentuk dari sikap toleransi dalam hal agama.

Daging qurban yang berasal dari non-Muslim boleh dikonsumsi apabila proses penyembelihannya sudah sesuai dengan syari’at-syari’at dalam Islam.

Baca juga: Daftar Harga Kambing Qurban Idhul Adha 2022 dari Rumah

C. Hukum Qurban dalam Pandangan Ulama Madzhab

Qurban yang juga disebut dengan istilah “udhiyyah” atau “al-dzabaih”, dan istilah inilah yang lebih ladzim dibahas dalam kitab-kitab fikih. Seperti halnya beberapa ulama Madzhab berikut ini memberi pendapat dalam hal ini, baik itu hukumnya wajib atau sunnah.

Berikut ini 2 pendapat tersebut;

1. Mazhab Hanafi

Dikatakan dalam sebuah riwayat bahwa Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya mengatakan jika qurban hukumnya wajib dilaksanakan satu kali di setiap tahunnya bagi Muslim yang mukim.

Sedangkan dalam riwayat yang lainnya ada perbedaan pendapat, seperti yang dikatakan oleh Thahawi. Thahawi mengatakan jikalau hukum qurban dalam pandangan Yusuf dan Muhammad adalah sunnah muakad.

Kedua riwayat di atas tercatat di halaman ke-597 dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Az Zuhailiy, juz 3, Dar al-Fikr, 2008.

2. Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali

Sunnah muakkad, yaitu bukan wajib dan makruh bagi mereka yang mampu melaksanakannya tapi meninggalkannyanya. Begitulah hukum qurban dalam pandangan madzhab Maliki, Syafi’i dan hambali.

Namun, dalam madzhab Syafi’i diuraikan kembali, hukum qurban akan menjadi sunnah ‘ainiyyah untuk setiap Muslim yaitu sekali seumur hidupnya.

Dan akan bersifat sunnah kifayah jika dalam keluarga tersebut sudah ada yang berqurban, maka yang lain gugur kewajibannya tersebut.

Gugurnya kewajiban anggota keluarga yang lain karena sudah diwakilkan oleh anggota keluarga yang berqurban tersebut tidak berarti anggota keluarga yang lain tidak boleh juga untuk melakukan qurban.

Dalam artian singkat, penjelasan sunnah kifayah ini sama dengan makna dari fardhu kifayah.

Baca juga: Qurban Dari Yayasan Rumah Infaq Tembus Dinginnya Gaza

Hukum Seputar Qurban

A. Hukum Memberikan Daging Qurban kepada Non-Muslim

Jika tadi kita membahas non-Muslim yang melakukan qurban dan memberikan daging qurban tersebut kepada Muslim adalah boleh diterima dan dikonsumsi asal proses penyembelihannya sesuai dengan syari’at-syari’at Islam.

Maka, sekarang bagaimana hukumnya daging qurban yang dilakukan oleh seorang Muslim jika diberikan kepada yang non-Muslim.

Dan Ustadz Abdul Somad memberi pendapat dalam hal ini, yaitu diperbolehkannya untuk memberi daging qurban kepada non-Muslim. pendapat ini merujuk kepada ayat ke-8 surah Al-Mumtahanah.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

B. Hukum Menjual Bagian Qurban

Dalam berqurban, orang yang berqurban tidak diperbolehkan untuk menjual sedikitpun hal-hal yang berkaitan dengan hewan qurban seperti, kulit, daging, susu dan lain-lainnya yang menyebabkan hilangnya manfaat qurban.

Apabila dilakukan, maka dihukum dengan makruh yang mendekat haram. Pendapat ini menurut jumhur ulama yang merujuk ke hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi.

“Siapa yang menjual kulit hewan qurban, maka dia tidak berqurban”

Berbeda halnya jika daging qurban tersebut dibagikan kepada fakir-miskin, dan dalam memanfaatkannya itu diperbolehkan.

Ulama madzhab Hanafi berpendapat jikalau kulit hewan qurban dapat dijual dan hasil penjualannya tersebut disedekahkan, yang kemudian dapat dibelanjakan dengan sesuatu yang bermanfaat untuk kebutuhan hidup atau rumah tangga.

C. Hukum Memberi Upah Tukang Jagal Qurban

Dihukumi juga dengan makruh mendekati haram apabila memberi upah tukang jagal dari hewan qurban. Hukum tersebut merujuk ke hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali radhiyyallahu ‘anhu;

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk menjadi panitia qurban (unta) dan membagikan kulit dan dagingnya. Dan memerintahkan kepadaku untuk tidak memberi tukang jagal sedikitpun”. Ali berkata:” Kami memberi dari uang kami”

D. Hukum Berqurban Atas Nama Orang yang Meninggal

Biasanya qurban dilakukan oleh seorang Muslim yang masih hidup, lalu bagaimana jika seseorang melaksanakan qurban dengan mengatasnamakan orang yang sudah meninggal dunia???

Para ulama sepakat memperbolehkan untuk melaksanakan qurban atas nama orang yang sudah meninggal. Diperbolehkannya qurban atas nama orang yang sudah meninggal ini jika orang yang meninggal tersebut sudah berwasiat dalam bentuk nadzar kepada ahli warisnya.

Sehingga ahli warisnya wajib melaksanakan nadzar dalam wasiat orang yang sudha meninggal tersebut.

Namun, apabila tidak adanya wasiat, tapi ahli warisnya ingin melakukannya dengan hartanya mereka sendiri. Maka diperbolehkan pula hal yang demikian sebagaimana pendapat jumhur ulama seperti mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali.

Hal yang demikian disesuaikan dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menyembelih dua kambing yang pertama untuk dirinya dan yang kedua untuk orang yang belum berqurban dari umatnya.

Makna orang yang belum berqurban tadi ialah orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati. Sedangkan mazhab Syafi’I dalam hal ini tidak memperbolehkannya.

Demikianlah pemaparan kami mengenai hukum qurban dan hukum seputar qurban, semoga bermanfaat ya #sahabatrumi.



Tinggalkan Balasan

Open chat
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?